Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI-Perjuangan, Sociopreneur, Penggerak Pemberdayaan Perempuan dan UMKM

Novita Hardini, SE., ME, Menggerakkan Indonesia, Dimulai dari Langkah Kecil

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Perubahan besar tak selalu lahir dari langkah yang gegap gempita. Perubahan justru tumbuh dari keberanian untuk memulai. Seperti yang dilakukan Novita Hardini, jauh sebelum terjun ke dunia politik. Berangkat dari kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya, ia memilih hadir, bergerak, dan mencari jalan agar lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk berdaya. Pemberdayaan perempuan dan UMKM kemudian menjadi ruang yang ia tekuni dengan sungguh-sungguh. Baginya, ketika satu perempuan tumbuh mandiri, ada keluarga yang ikut menguat. Ketika sebuah usaha kecil berkembang, ada kehidupan yang ikut bergerak. Dan ketika gerakan itu dilakukan bersama-sama, langkah kecil dapat menjelma menjadi kekuatan yang lebih besar bagi Indonesia.

Keberhasilan yang diraih Novita Hardini saat ini tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Sejak kecil, ia telah diperkenalkan pada nilai kemandirian dan keberanian untuk berusaha. Menjual kerupuk ketika masih duduk di sekolah dasar bukan karena keterbatasan ekonomi, melainkan bagian dari cara orang tuanya melatih tanggung jawab dan kemandirian.

Kebiasaan itu terus berkembang. Selepas sekolah, ia mencoba berbagai usaha kecil, salah satunya berjualan kotak sepatu. Di sisi lain, perempuan cantik yang biasa disapa Novita ini,  menyadari bahwa dirinya memiliki tantangan personal. Ia seorang yang introver dan pemalu. Untuk melatih keberanian serta kepercayaan diri, ia bahkan sengaja mengirim lamaran pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain.

Langkah tersebut membawanya masuk ke sebuah perusahaan besar sebagai bagian dari tim marketing. Perjalanan profesionalnya kemudian berkembang ke industri kreatif. Ia pernah menjadi jurnalis, presenter, model foto, hingga brand ambassador.

Saat menjalani karier di dunia media, Novita mulai aktif menyuarakan berbagai isu publik melalui ruang digital. Dari pengalaman tersebut, cara pandangnya perlahan berubah. Ia mulai menyadari bahwa keberhasilan akan memiliki makna lebih besar ketika tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri.

Melangkah sebagai Sociopreneur. Kesadaran tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Novita. Ia mulai melihat bisnis sebagai sarana untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Bersama sang suami, Mochammad Nur Arifin, yang kala itu berprofesi sebagai pengusaha, sepakat menekuni sociopreneurship dengan menghubungkan aktivitas usaha dan kegiatan sosial. Perhatiannya antara lain diarahkan pada kesehatan anak, perempuan rentan, hingga penyandang disabilitas.

Di usia 24 tahun, sebuah amanah baru datang ketika sang suami terpilih sebagai Wakil Bupati Trenggalek periode 2014–2019. Posisi tersebut kemudian menempatkan Novita sebagai Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek. Kedekatannya dengan masyarakat pun semakin terbentuk, sekaligus membuka ruang yang lebih luas baginya untuk memahami berbagai persoalan sosial secara langsung.

Diawali Gerakan Kecil. Menjadi bagian dari masyarakat Trenggalek membuat Novita tidak lagi melihat persoalan sosial sebagai sesuatu yang jauh. Ia berhadapan langsung dengan kebutuhan, keterbatasan, sekaligus harapan masyarakat.

Salah satu program yang ia inisiasi adalah Sepeda Keren, kependekan dari Sekolah Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan Lainnya. Program tersebut menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan pengabdian Novita.

Dari interaksi dengan masyarakat, perempuan berzodiak Sagitarius ini menemukan satu hal yang terus berulang, ia menilai masyarakat pada dasarnya tidak selalu ingin dibantu. Tetapi mereka ingin diberi kesempatan untuk berdaya.

Bantuan sosial, menurutnya, tetap memiliki tempat. Namun, dalam jangka panjang, masyarakat membutuhkan kebijakan yang bersifat stimulan, termasuk regulasi dan akses yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan, tangan dan kaki sendiri untuk membangun kehidupan. Pandangan inilah yang kemudian menguatkan langkah Novita dalam pemberdayaan ekonomi, khususnya perempuan dan UMKM.

Menguatkan Perempuan. Sekitar 2021, setelah sang suami dipercaya masyarakat menduduki posisi Bupati Trenggalek, Novita mendirikan UPRINTIS (UMKM Perempuan Perintis Indonesia). Yayasan sekaligus wadah pemberdayaan perempuan dan UMKM ini berfokus pada pengembangan usaha mikro bagi perempuan.

UPRINTIS menyasar perempuan yang sebelumnya belum memiliki usaha. Mereka diberikan berbagai pelatihan dan pendampingan agar mampu melahirkan aktivitas ekonomi baru.

Pilihan untuk fokus pada perempuan bukan tanpa alasan. Menurut Novita, ketika perempuan memiliki kemandirian ekonomi, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Penghasilan yang diperoleh umumnya kembali kepada keluarga, kebutuhan rumah tangga, serta pendidikan dan masa depan anak.

Karena itu, pemberdayaan baginya bukan sekadar memberikan bantuan modal atau pelatihan. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem agar usaha yang dibangun memiliki peluang untuk tumbuh.

Selain peningkatan kapasitas, Novita membuka akses pembiayaan dan pasar. Ia juga mempertemukan pelaku UMKM dengan industri besar dan para CEO. Dengan demikian, mereka tidak hanya diajarkan bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga diarahkan untuk memahami siapa calon pembelinya.

Konsep tersebut diterapkan dalam berbagai kegiatan UPRINTIS, mulai dari bazar, workshop hingga pameran. Novita berupaya menghadirkan pembeli dalam setiap kegiatan, sehingga pelaku UMKM tidak sekadar berkumpul dan menjajakan produk, tetapi benar-benar memiliki peluang melakukan transaksi.

Dampaknya mulai terlihat. Dalam sejumlah kegiatan UPRINTIS, perputaran ekonomi disebut dapat mencapai sekitar Rp 200 juta dalam waktu singkat. Bahkan adaptasi program melalui kegiatan Car Free Day (CFD) di Kabupaten Trenggalek yang berlangsung sekitar dua jam setiap minggu mampu menghasilkan perputaran ekonomi minimal sekitar Rp 170 juta. Menariknya, kegiatan tersebut dibuka secara gratis bagi para pelaku UMKM.

Membuka Pasar Lebih Luas. Gerakan pemberdayaan yang dibangun di Trenggalek kemudian berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur, sejumlah daerah di Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan provinsi lainnya.

Kolaborasi juga dilakukan dengan Kementerian UMKM. Fokusnya tetap pada penguatan kapasitas, akses pembiayaan, akses pasar, serta mempertemukan UMKM dengan mitra yang lebih besar.

Menurut Novita, geliat tersebut turut memberikan dampak terhadap ekonomi mikro di Trenggalek. Ia memperkirakan sepanjang 2022 hingga 2026, total investasi yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi mikro melalui gerakan tersebut mencapai sekitar Rp 500–600 miliar per tahun.

Jangkauan pasarnya pun tidak berhenti di tingkat nasional. Sejumlah UMKM telah dipertemukan dengan pasar di China, Amerika dan negara-negara Timur Tengah. Bahkan, produk dari Trenggalek, salah satunya olahan gedebong pisang, telah berhasil menembus pasar Arab Saudi.

Kini, ketika berada di parlemen, ruang pengabdian Novita menjadi semakin luas. Ia tidak hanya menjalankan kegiatan pemberdayaan secara langsung, tetapi juga mengawasi kebijakan yang berkaitan dengan UMKM serta memastikan anggaran pemerintah dapat menjawab kebutuhan pelaku usaha.

Baginya, UMKM juga tidak boleh dipahami secara sempit sebagai mereka yang menjual produk. Industri kreatif, media, jurnalisme, event organizer, hingga berbagai bisnis jasa juga  bagian dari ekosistem UMKM yang juga membutuhkan perhatian. Untuk itu, peningkatan kualitas dan sertifikasi menjadi salah satu hal yang ia dorong agar pelaku usaha memiliki nilai tambah sekaligus daya saing yang lebih baik.

Menemukan Arti Pengabdian. Kedekatan dengan masyarakat selama mendampingi sang suami sebagai pejabat daerah dan mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan, meninggalkan pengalaman emosional yang kuat bagi Novita.

Ada momen ketika orang-orang yang dibantu mengucapkan terima kasih, menggenggam tangannya, bahkan menangis dan memeluknya. Dari sana, ia menemukan makna cinta yang berbeda. Bukan sekadar cinta dalam hubungan personal, melainkan perasaan ketika kehadiran seseorang ternyata mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain.

Namun, semakin dekat dengan masyarakat, Novita juga semakin menyadari bahwa kerja sosial memiliki keterbatasan. Banyak persoalan membutuhkan perubahan pada tingkat kebijakan. “Saya melihat masih terdapat ruang kebijakan publik yang perlu diperbaiki, termasuk persoalan birokrasi dan tata kelola ekonomi yang harus lebih relevan dengan perubahan zaman,” ungkapnya.

Kesadaran itulah yang kemudian menumbuhkan keberanian untuk memasuki dunia politik. Pada 2022, Novita mulai membuka diri untuk belajar dan memperjuangkan ruang yang lebih luas di legislatif.

Namun, sejak awal kursi di parlemen bukanlah tujuan utamanya. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana suara masyarakat yang selama ini ia dengar dapat ikut diperjuangkan di ruang pengambilan kebijakan. Dan pada PEMILU 2024, dukungan masyarakat akhirnya mengantarkannya ke Senayan.

Pemimpin yang Berani Berbeda. Bagi Novita, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berada, melainkan seberapa besar tanggung jawab yang bersedia ia pikul. “Pemimpin adalah orang yang paling siap menderita, makan paling terakhir dan rela tidak nyaman sampai orang-orang yang dipimpinnya bisa kenyang, tidur nyaman dan memiliki kehidupan yang baik,” demikian prinsip yang ia pegang.

Karena itu, menurut Novita, pemimpin tidak semestinya menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memberi perintah atau membuat orang takut. Kekuasaan justru merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan melalui kemampuan manajemen, pengalaman, serta keberanian mengambil keputusan.

“Seorang pemimpin juga harus siap mengatakan tidak dan berani berbeda ketika keputusan tersebut memang untuk kepentingan dan kemanfaatan masyarakat,” tegasnya.

Ia mengibaratkan pemimpin seperti sebuah kapal. Ketika badai datang dan hantaman terjadi, kapal itulah yang harus terlebih dahulu menerima dampaknya agar orang-orang di dalamnya tetap terlindungi. Pada saat yang sama, pemimpin harus mampu memberikan arah.

Prinsip tersebut menjadi semakin relevan ketika Novita menjalankan amanah sebagai anggota legislatif. Baginya, berada di ruang pengambilan keputusan berarti siap memperjuangkan kepentingan masyarakat, termasuk ketika suara yang diperjuangkan tidak selalu menjadi suara yang paling populer.

Menaklukkan Ruang yang Tak Biasa

 Menjadi perempuan muda di ruang politik bukan perjalanan tanpa tantangan. Novita menyadari bahwa dalam kultur Asia, dunia politik masih kerap dipandang sebagai ruang laki-laki. Namun, ia memilih menghadapinya dengan keyakinan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama untuk berada di ruang pengambilan keputusan.

Tantangan lain muncul dari cara sebagian orang melihat perempuan melalui penampilan sebelum kemampuan. Bagi Novita, penampilan merupakan bagian dari anugerah yang patut disyukuri, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam menilai kapasitas seseorang. Dan ia pun memilih membuktikan diri melalui kerja nyata.

Di tengah berbagai tanggung jawab, Novita juga dituntut mampu berpindah cepat dari satu persoalan ke persoalan lain. Sebagai anggota DPR Komisi VII, ia berhadapan dengan beragam sektor dan mitra, mulai dari perindustrian, UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif, lembaga sertifikasi hingga televisi publik.

Dalam sehari, pembahasan yang dihadapinya bisa berganti dalam hitungan jam. Karena itu, kemampuan mengambil keputusan secara cepat menjadi kebutuhan. Namun, cepat menurutnya tidak boleh berarti gegabah. Karena setiap keputusan harus tetap terukur.

Dalam menentukan pilihan, Novita menggunakan apa yang ia sebut sebagai helicopter view, yakni melihat persoalan dari berbagai sisi, mulai dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Ia juga berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum mengambil keputusan.

“Yang tidak kalah penting, keputusan yang saya ambil harus dibangun dengan kerangka berpikir ilmiah dan rasional, bukan semata-mata perasaan,” tekannya.

Peran yang Berjalan Bersama

Di balik kesibukannya sebagai anggota DPR RI, Novita tetap seorang ibu dari tiga anak. Ia menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan anak merupakan tanggung jawab yang tidak dapat begitu saja didelegasikan. Karena itu, ia tetap mengupayakan waktu bersama keluarga dua hingga tiga hari dalam seminggu.

Bonding dengan ketiga buah hatinya, Aischatin Aleshakila Mochammad Tomo Hanyokrokusumo, Asyifatin Almayra Mochammad Tomo Hanyokrokusumo, dan Arkaan Salik Mochammad Tomo Hanyokrokusumo, telah dibangun sejak mereka masih berada dalam kandungan hingga ketiganya memasuki usia sekolah dasar.

“Ketika mereka duduk di bangku sekolah kelas III, barulah saya kembali mengejar karier. Sehingga saat ini, kesibukan saya sebagai wakil rakyat tidak membuat anak-anak kehilangan figur seorang ibu,” ucapnya.

Kini, ketika jarak dan waktu bersama anak tidak sebanyak dahulu, ia menjaga kedekatan melalui percakapan setiap hari, telepon maupun video call. Menjelang tidur menjadi salah satu momen penting untuk mendengar cerita anak-anaknya.

Ia juga berusaha membangun kedekatan secara personal dengan masing-masing anak. Sesekali mereka menghabiskan waktu bersama, tetapi ada pula waktu khusus hanya dengan satu anak.

Bagi Novita, tugas seorang ibu bukan memerintah, melainkan menunjukkan jalan. Ia ingin membekali anak-anaknya dengan karakter yang kuat agar kelak mampu mengambil keputusan sendiri secara matang dan terukur.

Bisnis untuk Kebermanfaatan

 Aktivitas bisnis fashion berlabel Merayu Hijab yang telah dibangun Novita sejak lama hingga kini tetap berjalan melalui sistem delegasi. Namun, ada satu prinsip yang tetap ia pegang sebagai seorang pengusaha, bahwa bisnis tidak semata-mata menjadi sumber penghidupan, tetapi juga dapat menjadi sumber energi bagi aktivitas sosial.

Keuntungan yang dihasilkan kemudian dikaitkan kembali dengan berbagai kegiatan sosial. Selain melalui UPRINTIS, dana CSR perusahaannya juga digunakan untuk membantu berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bantuan sembako, donasi warga hingga dukungan bagi rumah-rumah ibadah. Dengan demikian, bisnis dan kegiatan sosial berjalan beriringan. Satu menopang yang lain.

Teguh Menjaga Amanah

Di tengah perubahan peran dan tanggung jawab, ada satu hal yang menurut Novita tidak berubah, yakni karakter. “Cara berpikir boleh berkembang seiring pengalaman, tetapi prinsip dasar harus tetap dijaga. Dan buat saya, kejujuran adalah fondasi paling sederhana sekaligus paling penting untuk menjaga amanah,” ungkapnya.

Menurut Novita, seseorang tidak mungkin menjalankan amanah dengan baik apabila tidak mampu menjaga kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Lebih dari berbagai pencapaian yang telah diraih, ia memiliki keinginan yang sederhana. Kelak, ketika dirinya sudah tidak ada, ia ingin anak-anak, orang-orang yang pernah dibantunya, dan siapa pun yang pernah mengenalnya dapat mengenangnya dengan perasaan dan memori yang baik.

Kesadaran bahwa hidup begitu singkat membuatnya tidak ingin sekadar meninggalkan daftar pencapaian. Ia ingin meninggalkan kesan bahwa pernah ada seseorang yang berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

Melangkah Tanpa Rasa Takut

Di era digital, komunikasi dengan masyarakat semakin mudah dilakukan melalui media sosial. Novita memanfaatkannya untuk menjaga keterhubungan dengan masyarakat di daerah pemilihannya.

Selain berbagi aktivitas, ia juga tetap menghidupkan jaringan yang telah dibangun dan mengadakan kegiatan-kegiatan kecil agar masyarakat merasa kehadirannya tidak berhenti hanya karena sebagian waktunya kini dihabiskan di Jakarta.

Ke depan, ia berharap keberadaannya dapat menjadi penguat bagi perempuan di berbagai tempat agar tidak takut mengambil keputusan yang menentukan jalan hidupnya. Menurutnya, tidak semua keputusan akan terasa mudah atau selalu membawa ketenangan. Ada ketakutan yang memang harus dihadapi. Namun, ketika seseorang berani melewatinya, sering kali ia akan menemukan bahwa ketakutan tersebut hanyalah ilusi.

“Hidup akan berhenti kalau kita berhenti melangkah.”

 Bagi Novita, perempuan berhak memperoleh perlakuan yang adil dan akses yang setara. Sebab, ketika seorang perempuan berdaya, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia dapat menguatkan keluarga, anak-anak, bahkan banyak keluarga lain di sekitarnya.

Itulah mengapa pemberdayaan perempuan baginya bukan sekadar isu, melainkan investasi sosial jangka panjang. “Satu perempuan yang berdaya dapat menggerakkan banyak kehidupan. Satu usaha kecil yang tumbuh dapat membuka kesempatan baru. Dan satu langkah yang berani dimulai hari ini dapat menjadi bagian dari perubahan yang jauh lebih besar. Sebab, menggerakkan Indonesia tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang, cukup dengan satu langkah kecil yang dilakukan dengan keberanian, konsistensi, dan kebermanfaatan,” pungkasnya.

Info Lebih Lanjut:

Instagram       : @merayu.official
@uprintisindonesia