Direktur Utama PT Cleanup Indonesia Sejahtera

Selvi Andayani, Menjadi Penggerak Perubahan dalam Ketekunan dan Kepemimpinan

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Tidak ada yang instan dalam perjalanan Selvi Andayani. Perempuan muda kelahiran Tangerang ini memulai kariernya bukan dari balik meja rapat ber-AC, melainkan dari lorong mal sebagai SPG dan bilik sempit call center. Jalan berliku itu kini mengantarnya duduk sebagai Direktur Utama PT Cleanup Indonesia Sejahtera,   perusahaan jasa kebersihan profesional yang dipercaya ribuan rumah, apartemen, dan perkantoran, sekaligus membuka jalan bagi orang lain untuk ikut bertumbuh.

Sebelum namanya melekat dengan CLEANUP, Selvi lebih dulu mengenal dunia kerja dengan posisi yang jauh dari kata mentereng. Ia pernah menjadi SPG di mal, lalu berpindah menjadi petugas call center, sebelum akhirnya mendapat kesempatan bergabung dengan salah satu perusahaan rintisan (start up). Baginya, tahap-tahap itu bukan sekadar batu loncatan, melainkan sekolah kehidupan yang membentuk caranya bekerja hingga hari ini.

“Saya bersyukur pernah melewati proses itu, karena ternyata banyak hal yang saya pelajari dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya dan masih saya gunakan sampai sekarang.”

Dari pengalaman melayani pelanggan di mal, menghadapi berbagai karakter manusia di call center, hingga bekerja dengan target ketat di start up, Selvi mengumpulkan bekal yang sangat berguna ketika ia memutuskan terjun membangun bisnis sendiri. Ia mempelajari pentingnya sistem dalam sebuah Perusahaan, sesuatu yang baru benar-benar dipahami maknanya saat mendirikan CLEANUP, perusahaan jasa kebersihan profesional yang melayani kebutuhan kebersihan rumah, apartemen, perkantoran, hingga kebutuhan komersial dan korporasi. CLEANUP berkembang dengan semangat memberikan layanan kebersihan yang profesional sekaligus membuka peluang kerja dan meningkatkan kualitas tenaga kerja di industri kebersihan.

Saat itu, ia pun mengakui belum memiliki seluruh pengetahuan tentang menjalankan perusahaan. Semuanya dipelajari sambil berjalan, mencari pelanggan, membangun tim, mengatur operasional, menjaga kualitas layanan, mengelola keuangan, hingga menghadapi persoalan yang datang seiring bisnis mulai berkembang. Kini, di bawah kepemimpinannya sebagai Direktur Utama PT Cleanup Indonesia Sejahtera, perusahaan itu telah merentangkan sayap ke Hydorme, layanan perawatan dan pembersihan soft furniture dan tengah menyiapkan Cleanup Academy.

Melihat Peluang di Kebutuhan yang “Sederhana”

Bagi sebagian orang, bisnis jasa kebersihan barangkali terdengar sederhana. Namun bagi Selvi, justru di situlah letak potensinya. Ia melihat kebersihan sebagai kebutuhan jangka panjang yang tidak akan pernah surut. Rumah, apartemen, kantor, gudang, hingga tempat usaha, semuanya membutuhkan layanan kebersihan yang membedakan, menurutnya, adalah bagaimana layanan itu dihadirkan, bukan sekadar membersihkan, tetapi profesional, terpercaya, dan memiliki standar pelayanan yang jelas.

“Peluang bisnis tidak selalu harus berasal dari ide yang sangat besar. Terkadang peluang justru ada di kebutuhan sehari-hari yang terlihat sederhana, selama kita bisa memberikan solusi dan nilai yang lebih baik.”

 Bukan Sekadar Bersih, tetapi Rasa Aman dan Kepercayaan

 Selvi enggan mengklaim CLEANUP lebih unggul dari kompetitor lain di industri jasa kebersihan. Ia terus berupaya membangun standar pelayanan dan kepercayaan. Ia memaknai bisnis ini sebagai sesuatu yang unik, pelanggan memberi kepercayaan kepada timnya untuk masuk ke ruang paling privat dalam hidup mereka, rumah, kantor, bahkan area pribadi. Karena itu, yang ditawarkan CLEANUP sesungguhnya bukan hanya hasil bersih, melainkan rasa aman.

Untuk menjaga kepercayaan itu, CLEANUP terus memperbaiki setiap lini proses, pelatihan cleaner, penyusunan SOP, pelayanan customer service, quality control, hingga penanganan keluhan pelanggan. Bagi Selvi, kepercayaan tidak bisa dibangun lewat promosi semata, melainkan lahir dari pengalaman pelanggan terhadap konsistensi layanan yang diberikan dari waktu ke waktu.

Memimpin dengan Telinga Terbuka, Berdiri di Atas Standar

 Mengelola manusia adalah tantangan terbesar yang diyakini Selvi dalam menjalankan bisnis jasa. Ia berhadapan dengan pelanggan yang beragam karakter dan ekspektasi, sekaligus mengelola tim dengan latar belakang dan kemampuan yang tidak seragam. Dari sanalah filosofi kepemimpinannya terbentuk, seorang pemimpin tidak harus mengerjakan segalanya sendiri, melainkan membangun tim agar mampu mengambil tanggung jawab.

Selvi berupaya membuat timnya memahami alasan di balik sebuah standar, bukan sekadar menuntut kepatuhan. Ia ingin anggota timnya melihat bahwa ketika perusahaan berkembang, ada ruang bagi mereka untuk ikut berkembang. Namun ia menggarisbawahi, kepemimpinan bukan berarti selalu mengiyakan semua hal, tetap harus ada standar, kedisiplinan, tanggung jawab, dan batas yang jelas.

“Yang terus saya pelajari adalah bagaimana menjadi pemimpin yang bisa mendengarkan, tetapi tetap tegas ketika menyangkut nilai dan standar perusahaan.”

Mengangkat Martabat Profesi Cleaner

Industri kebersihan kerap dipandang sebelah mata, seolah menjadi cleaner tidak membutuhkan keterampilan khusus. Pandangan inilah yang ingin diubah Selvi. Ia meyakini, ketika pekerjaan ini dilakukan secara profesional, di dalamnya ada keterampilan nyata yaitu teknik pembersihan, penggunaan alat dan bahan kimia (chemical) yang tepat, standar pelayanan, kedisiplinan, etika saat berada di lokasi pelanggan, hingga kemampuan berkomunikasi yang baik.

Menurutnya, perubahan cara pandang terhadap profesi cleaner harus dimulai dari industrinya sendiri, melalui pelatihan yang konsisten, standar kerja yang jelas, serta membuka kesempatan bagi para cleaner untuk terus berkembang sebagai tenaga profesional. Training menjadi bagian penting dalam bisnis CLEANUP karena kualitas pelayanan sangat bergantung pada kualitas orang yang menjalankannya, mencakup SOP, teknik pembersihan, penggunaan peralatan dan chemical, grooming, kedisiplinan, pelayanan kepada pelanggan, hingga etika kerja. Evaluasi pun terus dilakukan, karena kondisi di lapangan dan kebutuhan pelanggan senantiasa berkembang.

Cleanup Academy: Menjembatani Keterampilan dan Kesempatan

Gagasan Cleanup Academy lahir dari pengamatan Selvi selama menjalankan bisnis. Ia bertemu banyak orang yang sesungguhnya memiliki kemauan bekerja, namun belum memiliki pengalaman atau keterampilan yang memadai. Dari situ muncul pertanyaan yang mengusiknya “mengapa perusahaan hanya mencari orang yang sudah siap bekerja, alih-alih ikut mempersiapkan mereka?”

“Saya ingin Cleanup Academy menjadi jembatan antara keterampilan dan kesempatan kerja.”

Melalui Cleanup Academy, peserta pelatihan gratis ini tidak hanya diajarkan teknik cleaning, tetapi juga disiplin, pelayanan kepada pelanggan, etika kerja, penggunaan peralatan, hingga standar kerja profesional. Harapannya, lulusan program ini memiliki bekal keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan dan bila sesuai kebutuhan, terbuka pula peluang untuk bergabung bersama CLEANUP. Bagi Selvi, pemberdayaan sejati bukan sekadar memberi bantuan, melainkan memberi bekal sekaligus membuka pintu kesempatan, hingga seseorang mampu menghasilkan sesuatu dari kemampuannya sendiri.

Suara di Balik Basnom Womenpreneur

Di luar kesibukannya memimpin perusahaan, Selvi juga aktif sebagai Ketua Basnom HIPMI Womenpreneur Banten. Dari interaksinya dengan banyak perempuan pelaku usaha, ia melihat bahwa tantangan terbesar bukan selalu soal kemampuan atau ide. Banyak perempuan sesungguhnya memiliki keduanya. Tantangan yang lebih sering muncul justru soal keberanian untuk tampil, kurang percaya diri memperkenalkan usaha, takut salah, atau merasa belum cukup layak berada di lingkungan tertentu.

“Perempuan tidak harus saling bersaing untuk bisa berhasil. Kita juga bisa maju dengan saling mendukung dan menguatkan.”

Menyeimbangkan Peran, Menghadapi Kegagalan

 Memimpin perusahaan sekaligus aktif berorganisasi dan bersosial bukan perkara mudah. Selvi mengakui, keseimbangan yang sempurna antara semua peran itu tidak pernah benar-benar tercapai. Ia lebih memilih menentukan prioritas berdasarkan apa yang paling membutuhkan perhatian pada suatu waktu, sembari terus belajar mendelegasikan dan mempercayai tim maupun rekan organisasinya.

Ia juga tak menampik pernah mengalami keraguan dan kegagalan dalam membangun bisnis, masa ketika waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan tidak berbuah hasil sesuai harapan. Namun setelah emosi mereda, Selvi terbiasa menengok kembali apa yang sebenarnya terjadi, apa yang bisa dipelajari, dan apa yang harus dilakukan berbeda setelahnya.

“Gagal bukan berarti semuanya harus berhenti. Terkadang kegagalan hanya menunjukkan bahwa ada cara yang perlu kita ubah.”

Menatap Masa Depan: CLEANUP, Hydorme, dan Cleanup Academy

Pertumbuhan yang sehat lebih penting daripada sekadar pertumbuhan yang besar. Ke depan, fokus Selvi adalah memperkuat sistem, meningkatkan kualitas SDM dan pelayanan, memperluas jangkauan secara bertahap, serta terus mengembangkan layanan sesuai kebutuhan pelanggan. Hydorme akan terus dikembangkan sebagai layanan yang lebih fokus pada perawatan dan pembersihan soft furniture, sementara Cleanup Academy menjadi rencana yang paling ingin ia wujudkan dengan sungguh-sungguh.

Ia membayangkan ketiganya yaitu CLEANUP, Hydorme, dan Cleanup Academy dapat saling terhubung. Ketika bisnis berkembang, kebutuhan tenaga kerja ikut bertambah, sementara Cleanup Academy membantu masyarakat menyiapkan keterampilan dan kesiapan kerja. Dari perpaduan itulah kesempatan kerja baru diharapkan terus tercipta, sehingga pertumbuhan bisnis dan pemberdayaan dapat berjalan beriringan.

Penggerak Perubahan dari Hal-Hal Kecil

 Selvi memaknai perubahan bukan sebagai sesuatu yang harus besar dan sekaligus. Melalui bisnisnya, ia ingin membuka lebih banyak peluang kerja sekaligus mengangkat profesionalisme tenaga kerja di industri kebersihan. Melalui Cleanup Academy, ia ingin membuka akses keterampilan bagi mereka yang membutuhkan kesempatan bekerja. Dan melalui Basnom Womenpreneur BPD HIPMI Banten, ia ingin semakin banyak perempuan berani tampil, membangun usaha, memperluas jejaring, dan saling membuka peluang.

“Kalau dari apa yang saya kerjakan ada seseorang yang mendapatkan keterampilan, pekerjaan, penghasilan, keberanian untuk memulai usaha, atau kesempatan yang sebelumnya tidak dia miliki, bagi saya itu sudah menjadi sebuah perubahan.”

Jangan terlalu lama menunggu sampai benar-benar merasa siap untuk mengambil sebuah kesempatan. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal seberapa besar bisnis yang bisa dibangun, melainkan juga seberapa banyak kesempatan yang bisa diciptakan agar orang lain ikut bertumbuh.