MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dr. dr. Ratna Dewi Puspita Sari, SpOG, Subsp.Obginsos, MARS, FISQua, FISOG dikenal sebagai dokter yang mendengar lebih dulu sebelum memberi diagnosis. Namun perannya jauh melampaui ruang periksa itu sendiri. Ia adalah dosen Fakultas Kedokteran, penggerak mutu layanan kesehatan, dan bagian aktif dari berbagai jejaring organisasi profesi kedokteran di Indonesia. Perjalanan panjangnya membawa satu benang merah yang konsisten yaitu menghadirkan pelayanan kesehatan perempuan yang aman, bermutu, dan manusiawi.
Perjalanan karier dr.Ratna tidak dibangun melalui satu garis lurus, melainkan melalui beberapa jalan yang akhirnya bertemu pada satu tujuan yang sama. Ia memulai pendidikan dokter dan spesialis Obstetri dan Ginekologi di Universitas Sriwijaya. Dari ruang kuliah, ruang bersalin, hingga ruang operasi, ia belajar bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang menguasai ilmu dan keterampilan, tetapi juga tentang hadir ketika seorang perempuan berada pada salah satu titik paling rentan dalam hidupnya.

Sebagai klinisi sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, ia semakin memahami bahwa masalah kesehatan perempuan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan, kondisi sosial-ekonomi, budaya, mutu layanan, hingga keberanian seseorang untuk mencari pertolongan. Pemahaman ini yang membawanya menempuh Doktor Ilmu Lingkungan, Magister Administrasi Rumah Sakit, serta Subspesialis Obstetri dan Ginekologi Sosial di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan dituntaskan pada 2026.
“Pendidikan lintas bidang itu bukan sekadar menambah gelar, tetapi memperluas cara pandang saya, dari merawat satu pasien menuju upaya memperbaiki sistem yang melayani banyak Perempuan. Saya menjalani banyak peran sekaligus, dokter, pendidik, peneliti, penggerak mutu, pelatih, dan bagian dari jejaring organisasi profesi. Semua peran itu saya maknai sebagai satu perjalanan pengabdian yang sama, belajar terus-menerus, bekerja bersama, dan memastikan ilmu yang dimiliki benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.”
Ketertarikan dr.Ratna pada obstetri dan ginekologi sosial (Obginsos) tumbuh karena bidang ini melihat perempuan secara utuh, bukan hanya sebagai diagnosis. Di balik kehamilan berisiko, infeksi, keterlambatan rujukan, kehamilan remaja, atau rendahnya skrining, ia kerap menemukan persoalan lain yaitu keterbatasan akses, tekanan ekonomi, budaya, stigma, relasi kuasa dalam keluarga hingga kualitas komunikasi dan lingkungan tempat seseorang hidup.
Menurutnya kesadaran perempuan Indonesia terhadap kesehatan reproduksi terus berkembang seiring meluasnya akses informasi. Namun, ia mengingatkan bahwa akses informasi belum selalu berarti literasi yang benar. Di tengah banjir informasi digital, mitos, rasa malu, ketakutan, dan kebiasaan menunda pemeriksaan masih kerap ditemui, sementara tidak semua perempuan memiliki ruang yang sama untuk mengambil keputusan tentang tubuh dan kesehatannya sendiri.
Edukasi kesehatan merupakan bagian dari pemberdayaan. Pengetahuan membantu perempuan mengenali tubuhnya, memahami tanda bahaya, menilai pilihan, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan. Namun edukasi yang baik tidak berhenti pada transfer informasi, tetapi harus menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan bertanya, dan keberanian menyampaikan kebutuhan.
dr.Ratna menyoroti sejumlah persoalan kesehatan yang masih dianggap terlalu pribadi untuk dibicarakan, mulai dari gangguan menstruasi, nyeri saat berhubungan seksual, infeksi menular seksual, HIV, infertilitas, penggunaan kontrasepsi, kekerasan seksual, kesehatan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan, hingga perdarahan setelah menopause. Pada remaja, pertanyaan sederhana tentang perubahan tubuh atau kesehatan seksual pun sering dianggap memalukan.
Tabu membuat perempuan diam, sementara penyakit tidak ikut diam. Karena itu, ia mengajak tenaga kesehatan mengubah cara berkomunikasi dari menghakimi menjadi mendengarkan, dari menakut-nakuti menjadi menjelaskan, dan dari sekadar memberi larangan menjadi membekali kemampuan mengambil keputusan. Tidak semua keluhan berarti penyakit serius, tetapi setiap keluhan berhak didengarkan dan dinilai secara tepat.

Pelajaran Profesi yang Tak Terlupakan
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Ratna ketika ia mendampingi seorang remaja berusia 15-16 tahun yang datang dalam keadaan hamil setelah mengalami kekerasan seksual. Kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan. Remaja itu lebih banyak diam, menghindari kontak mata, dan kesulitan menceritakan apa yang dirasakan. Masalah yang dihadapi bukan hanya kehamilan, tetapi juga trauma, ketakutan akan stigma, terhentinya kegiatan belajar, serta hilangnya rasa aman dan kendali atas keputusan tentang hidupnya sendiri.
Di tengah situasi tersebut, keluarga dan lingkungan terdekat melihat pernikahan sebagai jalan untuk menutup rasa malu dan memulihkan kehormatan keluarga, sementara keinginan remaja itu sendiri nyaris tidak terdengar. Pernikahan yang tidak dipilihnya sendiri pun tetap berlangsung, tidak menghapus pengalaman kekerasan, justru menambah lapisan baru berupa rasa tidak berdaya dan kehilangan kesempatan menentukan masa depannya.
Di hadapan tenaga kesehatan, seorang remaja bukanlah ‘masalah’. Ia adalah manusia muda yang sedang membutuhkan pertolongan. Pengalaman itu menguatkan keyakinannya bahwa kadang-kadang hal pertama yang menyembuhkan bukan obat, melainkan perasaan bahwa dirinya dipercaya dan tidak ditinggalkan. Ratna meyakini pelayanan kesehatan perempuan harus mengintegrasikan aspek medis, psikologis, sosial, dan bila diperlukan, perlindungan hukum.
Manajemen dan Kepemimpinan
Latar belakang Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) membuat Ratna melihat setiap kejadian di ruang pelayanan bukan hanya sebagai kasus individual, tetapi juga sebagai sinyal sistem. Ilmu klinis mengajarkannya apa yang seharusnya dilakukan untuk seorang pasien. Ilmu manajemen membantu memastikan hal yang benar dapat dilakukan secara konsisten oleh sebuah sistem. Keputusan klinis yang baik, menurutnya, membutuhkan alur layanan, sumber daya manusia, obat dan alat, komunikasi antarunit, pembiayaan, pengukuran mutu, serta kepemimpinan yang mendukung.
Ketika terjadi keterlambatan penanganan, misalnya, ia terbiasa bertanya apakah masalahnya ada pada pengetahuan pasien, proses rujukan, ketersediaan layanan, koordinasi tim, atau desain kebijakan. Perpaduan sudut pandang medis dan manajemen membuatnya mampu berbicara dari dua sisi sekaligus yaitu kebutuhan pasien di garis depan dan perbaikan organisasi di belakangnya.
Sementara ditegaskan Ratna bahwa kepemimpinan bukan semata-mata jabatan, melainkan kemampuan melihat masalah dengan jernih, mengajak orang percaya pada tujuan bersama, mengambil keputusan berbasis bukti, dan tetap bertanggung jawab ketika keadaan tidak mudah. Seorang dokter memimpin ketika ia menjaga keselamatan pasien, membangun komunikasi dalam tim, berani menyampaikan risiko, dan mengubah pengetahuan menjadi perbaikan nyata.
“Pemimpin yang baik tidak harus menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia perlu menciptakan ruang agar anggota tim dapat berkontribusi, menguji asumsi melalui data, belajar dari kegagalan, dan menjaga agar perubahan tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.”
Ia meyakini dokter juga memiliki peran sebagai penggerak perubahan di Masyarakat, tidak hanya bekerja ketika seseorang sudah sakit, tetapi juga mencegah, mendidik, memperkuat sistem, dan menyuarakan kebutuhan kelompok yang sering tidak terdengar. Melalui profesinya, Ratna ingin mendorong pelayanan kesehatan perempuan yang lebih preventif, terintegrasi, dan berpusat pada pasien, agar isu kesehatan remaja, kematian dan kesakitan maternal, infeksi pada ibu dan bayi, skrining kanker serviks, kesehatan mental, serta determinan sosial dan lingkungan tidak lagi dipandang sebagai program yang terpisah-pisah.

“Perubahan yang saya harapkan adalah ketika layanan benar-benar mengikuti perjalanan hidup perempuan, bukan memaksa perempuan menyesuaikan diri dengan sekat-sekat layanan.”
Ratna bersyukur dapat menyelesaikan perjalanan pendidikan lintas bidang sebagai spesialis Obstetri dan Ginekologi, Doktor Ilmu Lingkungan, Magister Administrasi Rumah Sakit, dan Subspesialis Obstetri dan Ginekologi Sosial, sekaligus mencapai jenjang Lektor Kepala sebagai dosen. Baginya, pencapaian itu bukan kumpulan gelar yang berdiri sendiri, melainkan sebuah integrasi ilmu klinis yang memberi ketepatan, ilmu lingkungan memperluas pemahaman tentang determinan kesehatan, manajemen rumah sakit mengajarkan perbaikan sistem, dan Obginsos menjaga agar seluruhnya tetap berpihak kepada manusia.
Ia juga bersyukur atas dukungan keluarga besar, terutama suami dan anak, yang menjadi investasi terbesar dalam perjalanan mengubah pola berpikir dan perilaku, sehingga ia dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, pelatihan kesehatan ibu dan perempuan, penguatan mutu, pengabdian masyarakat, serta jejaring profesi seperti POGI, HOGSI, JNPK-KR, dan IDI Jakarta Selatan. Salah satu pencapaian yang paling ia syukuri adalah gelar FISOG (Fellow of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology), gelar kehormatan dan jenjang tertinggi yang dianugerahkan POGI kepada dokter spesialis obstetri dan ginekologi sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, integritas, dan kompetensi dalam mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak, pendidikan, serta penelitian.
“Reputasi yang paling ingin saya jaga bukanlah sebagai orang yang mengetahui semua hal, melainkan sebagai pribadi yang dapat dipercaya, mau terus belajar, mampu menghubungkan banyak pihak, dan berusaha mengubah ilmu menjadi manfaat nyata.”
Warisan dan Harapan untuk Perempuan Indonesia
Ketimpangan akses dan mutu layanan sepanjang siklus hidup perempuan perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Kesehatan reproduksi remaja, kehamilan berisiko, kematian dan maternal, infeksi HIV–sifilis–hepatitis, kanker serviks, kesehatan mental, kekerasan berbasis gender, hingga kesehatan menopause selama ini sering ditangani dalam ruang yang terpisah, padahal pengalaman hidup perempuan berlangsung sebagai satu rangkaian yang berkesinambungan.
Ia juga menekankan pentingnya determinan sosial dan lingkungan, tempat tinggal, kemiskinan, pendidikan, kualitas lingkungan, perubahan iklim, dukungan keluarga, serta akses digital untuk lebih kuat masuk ke dalam perencanaan kesehatan. Di tengah banjir informasi yang tidak selalu benar, ia berharap pelayanan ke depan semakin berbasis data, terintegrasi, ramah kelompok rentan, dan mampu menjangkau perempuan sebelum mereka datang dalam kondisi terlambat.
Perubahan yang ingin ditinggalkan Ratna bukan sekadar sebuah program, melainkan cara pandang bahwa kesehatan perempuan harus dilihat secara utuh, didengar tanpa stigma dan dilayani melalui sistem yang saling terhubung. Ia berharap dapat ikut membangun generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya cakap secara klinis, tetapi juga peka terhadap ketidakadilan, mampu bekerja lintas profesi, berani menggunakan bukti, dan tetap hangat dalam memperlakukan pasien.
Untuk perempuan Indonesia, Ratna berpesan bahwa tubuh bukan sesuatu yang memalukan untuk dipahami. Jangan menunggu sakit menjadi berat untuk mencari pertolongan, maka bertanyalah, lakukan pemeriksaan yang diperlukan, kenali tanda bahaya, dan pilih sumber informasi yang dapat dipercaya. Merawat diri bukan tindakan egois, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab dan keberanian. Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dapat dimulai ketika seorang perempuan berani menyuarakan kebutuhannya, melindungi anaknya, membantu sesama, mengambil keputusan dengan pengetahuan, atau memperbaiki lingkungan kerjanya.
“Kita tidak harus menunggu merasa sempurna untuk mulai memberi dampak. Bertumbuhlah, ambil peran, dan izinkan pengalaman hidup kita menjadi jalan bagi perempuan lain untuk melangkah lebih jauh.”





