MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di balik setiap seragam dan jabatan, ada manusia yang memilih mendedikasikan hidup untuk melayani sesama. Semangat itulah yang tercermin dalam perjalanan Kopda Alfani, S.H., prajurit aktif TNI sekaligus Coach The Winner Palangka Raya, bersama sang istri, Dr. (c.) H. Siti Aseanti, S.ST., M.Keb., Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah yang juga dikenal sebagai bidan dan dosen. Meski menempuh jalan pengabdian yang berbeda, keduanya dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, serta meninggalkan teladan bagi generasi penerus.
Bagi pasangan suami istri yang akran disapa Alfani dan Sean ini, kesuksesan tidak diukur dari tingginya pangkat, luasnya kewenangan, ataupun banyaknya penghargaan. Kesuksesan adalah ketika kehadiran mereka mampu membuka jalan bagi orang lain untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Saat seorang anak muda berhasil mewujudkan impiannya menjadi anggota TNI atau Polri setelah melalui proses pembinaan yang panjang, ketika seorang ibu di pelosok desa memperoleh layanan kesehatan yang layak, atau ketika suara masyarakat dari daerah terpencil akhirnya mendapat ruang dalam pengambilan kebijakan, di situlah mereka menemukan makna keberhasilan.

Di tengah zaman yang sering mengaitkan keberhasilan dengan materi dan popularitas, pasangan ini justru memilih jalan pengabdian. Bagi mereka, jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara, sedangkan manfaat yang diberikan kepada masyarakat akan terus hidup jauh setelah masa jabatan berakhir.
Mengabdi untuk Masa Depan. Perjalanan karier Alfani maupun Sean bukanlah kisah yang tercipta dalam semalam. Keduanya ditempa oleh disiplin, kerja keras, pengorbanan, dan keyakinan bahwa setiap amanah harus dijalankan sepenuh hati.
Meski berangkat dari dunia yang berbeda, Alfani dari lingkungan militer, sedangkan Sean dari dunia kesehatan, langkah mereka bermuara pada tujuan yang sama yakni membangun manusia Indonesia yang lebih sehat, lebih tangguh, berkarakter dan siap menghadapi masa depan.
Bagi Alfani, semua berawal dari didikan keluarga yang menanamkan disiplin sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak kecil ia dibiasakan menghargai waktu, memegang teguh kejujuran, serta menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Nilai-nilai sederhana itulah yang kemudian mengantarkannya memilih jalan sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kariernya dibangun dari jenjang paling bawah. Tidak ada jalan pintas, apalagi kemudahan yang datang begitu saja. Setiap tahap dilalui melalui latihan yang keras, penugasan panjang, dan berbagai tantangan yang menguji ketahanan fisik maupun mental.
Baginya, menjadi prajurit bukan hanya tentang mengenakan seragam loreng atau memegang senjata. Menjadi prajurit berarti siap menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
”Saya selalu percaya bahwa pangkat adalah amanah. Semakin tinggi amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Pangkat bukanlah kebanggaan pribadi, melainkan pengingat bahwa semakin banyak masyarakat yang harus kita layani,” ujar pria kelahiran Wonosobo, 27 Agustus ini.
Berbagai penugasan, mulai dari wilayah perbatasan hingga pembinaan masyarakat, memberinya pelajaran berharga yang tidak pernah ditemukan di ruang kelas. Dari pengalaman itulah ia memahami bahwa kepemimpinan bukan soal memberi perintah, melainkan memberi teladan. Seorang pemimpin harus menjadi orang pertama yang siap bekerja dan orang terakhir yang menikmati hasilnya.
Nilai-nilai itu kemudian ia bawa ketika dipercaya membina generasi muda melalui The Winner, pusat pembinaan calon anggota TNI, Polri dan sekolah kedinasan yang kini menjadi salah satu kebanggaan Kalimantan Tengah.
Sementara itu, perjalanan Sean dimulai dari ruang persalinan. Sebagai seorang bidan, ia menyaksikan secara langsung awal kehidupan seorang manusia. Setiap tangisan bayi yang lahir menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan meraih masa depan yang lebih baik.
Profesi bidan mengajarkannya bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara tentang tindakan medis, tetapi juga menghadirkan rasa aman, harapan, dan ketenangan bagi setiap keluarga.
Pengabdiannya di berbagai pelosok Kalimantan Tengah memperlihatkan kenyataan yang tak selalu mudah. Masih banyak ibu hamil yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Masih ada anak-anak yang tumbuh dengan masalah gizi, sementara keterbatasan tenaga kesehatan di daerah terpencil menjadi tantangan yang terus dihadapi. Pengalaman-pengalaman itulah yang semakin menguatkan kepeduliannya terhadap masyarakat.
Semangat tersebut kemudian membawanya menjadi dosen. Baginya, pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Di ruang kuliah, ia tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada para mahasiswa.
”Saya percaya pendidikan mampu mengubah kehidupan. Ketika seseorang memperoleh ilmu, ia bukan hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga membawa perubahan bagi masyarakat di sekitarnya,” ungkap perempuan kelahiran Banjarmasin, 17 September ini.
Pengalaman sebagai tenaga kesehatan dan akademisi akhirnya mengantarkan Sean ke dunia kebijakan publik. Ketika dipercaya masyarakat Kalimantan Tengah menjadi Anggota DPD RI, Sean melihat kesempatan yang lebih luas untuk memperjuangkan persoalan-persoalan yang selama ini ia temui langsung di lapangan.
Baginya, kebijakan yang baik tidak lahir hanya dari ruang rapat. Kebijakan harus berangkat dari kenyataan yang benar-benar dialami masyarakat. Karena itulah hingga kini ia tetap memilih turun langsung ke desa-desa, berdialog dengan warga, mendengarkan tenaga kesehatan, guru, tokoh adat, para ibu, hingga generasi muda. Dari sanalah setiap gagasan memperoleh pijakan yang nyata.

Kesamaan Misi. Tidak semua kisah cinta bermula dari pertemuan yang romantis. Ada pula kisah yang tumbuh dari kesamaan visi dan cita-cita. Begitulah kisah Alfani dan Sean. Pertemuan mereka terjadi melalui berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saat itu Sean aktif menjalankan program pemberdayaan di bidang kesehatan, pendidikan dan pembangunan daerah sebagai Anggota DPD RI. Di waktu yang sama, Alfani tengah membangun The Winner sebagai pusat pembinaan generasi muda Kalimantan Tengah agar siap mengabdi melalui TNI, Polri, maupun instansi pemerintahan.
Hubungan mereka berawal dari kerja sama profesional. Diskusi mengenai pendidikan karakter, kesehatan generasi muda, hingga pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian dari keseharian mereka. Seiring waktu, keduanya menyadari bahwa mereka memiliki pandangan hidup yang sama.
Mereka percaya bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh karakter. Bangsa yang besar membutuhkan generasi yang sehat, disiplin, berintegritas, dan memiliki semangat melayani.
Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika melihat peserta binaan The Winner berhasil lolos seleksi dan resmi dilantik menjadi anggota TNI maupun Polri. Tangis haru para orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka mengenakan seragam kebanggaan menjadi pengalaman yang tak pernah mereka lupakan.
Dari sanalah keyakinan itu semakin kuat. Mereka menyadari bahwa jalan pengabdian akan lebih bermakna jika dijalani bersama. Hubungan profesional perlahan berkembang menjadi ikatan yang lebih personal hingga akhirnya mereka memutuskan membangun rumah tangga dengan satu komitmen yang sama: menjadikan keluarga sebagai rumah bagi nilai-nilai pengabdian.
Bagi Alfani dan Sean, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua misi kehidupan. Sejak saat itu, mereka melangkah sebagai pasangan, sahabat, sekaligus rekan seperjuangan.
Kolaborasi Saling Menguatkan. Sekilas, dunia yang dijalani Alfani dan Sean tampak berbeda. Alfani membina calon prajurit, sementara Sean memperjuangkan kebijakan publik. Namun dalam praktiknya, keduanya justru saling melengkapi.
Dalam pengembangan The Winner, misalnya, para peserta tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga dibekali pemahaman tentang kesehatan, gizi, pola hidup sehat, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental. Di sinilah pengalaman Sean sebagai tenaga kesehatan memberikan kontribusi yang sangat berarti.
Sebaliknya, ketika Sean menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, Alfani turut memberikan pembinaan mengenai kedisiplinan, wawasan kebangsaan, serta semangat bela negara.
Mereka meyakini bahwa masyarakat yang sehat membutuhkan karakter yang kuat. Sebaliknya, karakter yang kuat akan tumbuh lebih baik jika didukung oleh kesehatan dan pendidikan yang berkualitas.
Kolaborasi sederhana itu menjadi bukti bahwa pembangunan manusia tidak dapat dilakukan secara terpisah. Ia harus menyentuh tubuh, pikiran, karakter, sekaligus jiwa. Dengan cara itulah, mereka berharap dapat ikut menyiapkan generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian, serta semangat mengabdi bagi bangsa
Mengawal Aspirasi, Menjaga Harapan
Bagi Sean, amanah sebagai Anggota DPD RI bukanlah garis akhir dari perjalanan pengabdiannya. Justru dari sinilah ia merasa memiliki ruang yang lebih luas untuk terus hadir dan bekerja bagi masyarakat.
Latar belakangnya sebagai bidan sekaligus dosen membentuk cara pandangnya dalam melihat berbagai persoalan. Ia tidak terbiasa memaknai masyarakat hanya lewat angka statistik atau laporan di atas meja. Baginya, setiap angka selalu mewakili kehidupan nyata.
Di balik data kematian ibu, ada keluarga yang kehilangan sosok yang dicintai. Di balik angka stunting, ada anak-anak yang sedang berjuang menggapai masa depan. Begitu pula ketika berbicara tentang rendahnya akses pendidikan, yang terbayang olehnya bukan sekadar persentase, melainkan mimpi-mimpi anak bangsa yang terancam berhenti sebelum sempat berkembang.
Karena itu, setiap kali berkunjung ke desa-desa, menyusuri wilayah pedalaman Kalimantan Tengah, atau berdialog dengan masyarakat adat, Sean lebih memilih mendengar. Baginya, solusi yang baik lahir dari kesediaan memahami, bukan sekadar menyampaikan pendapat.
”Saya belajar bahwa masyarakat sebenarnya tahu apa yang mereka butuhkan. Tugas kita adalah mendengarkan, memahami, lalu memperjuangkannya dalam kebijakan,” tekannya.
Pendekatan itulah yang membuat setiap langkah pengabdiannya terasa dekat dengan masyarakat. Kehadirannya bukan sekadar untuk menyapa, tetapi untuk memastikan setiap suara memiliki kesempatan didengar dan diperjuangkan.
Dan sebagai seorang bidan, perhatian Sean terhadap kesehatan ibu dan anak bukan hanya bagian dari profesi, tetapi telah menjadi panggilan hidup yang terus ia bawa hingga kini. Ia percaya bahwa kualitas sebuah bangsa dibangun sejak seorang anak masih berada dalam kandungan.
Keyakinan itu pula yang mendorongnya menjadikan penguatan layanan kesehatan ibu dan anak sebagai salah satu fokus perjuangannya di DPD RI. Baginya, setiap warga negara, termasuk mereka yang tinggal di pelosok, berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Berbagai pengalaman di lapangan masih membekas dalam ingatannya. Ia pernah mendampingi ibu hamil yang harus menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan perahu hanya untuk memeriksakan kandungan. Di tempat lain, ia menjumpai keluarga yang harus menunggu cuaca membaik sebelum dapat membawa anggota keluarganya ke puskesmas.
Pengalaman-pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di kota-kota besar. Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan hingga ke pelosok.
”Indonesia harus hadir hingga ke pelosok. Setiap ibu berhak melahirkan dengan aman dan setiap anak berhak tumbuh sehat. Tidak boleh ada yang kehilangan kesempatan hidup hanya karena tempat tinggalnya jauh dari fasilitas kesehatan,” tambah Sean.
Karena itu, perjuangannya tidak berhenti pada peningkatan layanan medis semata. Sean juga terus mendorong upaya pencegahan stunting, perbaikan gizi keluarga, serta pemerataan tenaga kesehatan agar masyarakat di daerah terpencil memperoleh layanan yang setara.
Baginya, investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah gedung-gedung yang menjulang tinggi, melainkan manusia yang sehat, tumbuh dengan baik, dan memiliki kesempatan yang sama sejak awal kehidupan.

Pendidikan sebagai Jalan Membuka Masa Depan
Selain kesehatan, pendidikan selalu menjadi perhatian yang dekat di hati Sean. Pengalamannya sebagai dosen membuatnya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidikan membentuk cara berpikir, karakter, sekaligus memberi seseorang kesempatan untuk mengubah hidupnya.
Ia berharap semakin banyak putra-putri Kalimantan Tengah dapat melanjutkan pendidikan tinggi, terutama di bidang kesehatan. Harapan itu lahir dari keyakinannya bahwa daerah akan lebih kuat jika dibangun oleh sumber daya manusia yang memahami budaya, karakter, dan kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Menurutnya, ketika anak-anak daerah diberi kesempatan belajar, lalu kembali mengabdi di tanah kelahirannya, pembangunan akan tumbuh dari dalam dan berjalan lebih berkelanjutan. ”Daerah akan lebih cepat berkembang jika dibangun oleh orang-orang yang memahami budaya, karakter dan kebutuhan masyarakat setempat,” ujarnya.
Atas dasar itulah Sean terus mendorong penguatan pendidikan vokasi, peningkatan kualitas tenaga kesehatan, serta pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari perjuangannya di tingkat nasional.
Bagi Sean, pendidikan bukan hanya jalan untuk memperoleh pekerjaan. Pendidikan adalah jalan untuk memutus rantai kemiskinan, memperluas kesempatan, dan melahirkan generasi yang kelak mampu membawa perubahan bagi daerahnya sendiri. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah selalu berawal dari kualitas manusianya.
Merawat Kearifan Lokal
Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, Kalimantan Tengah tetap menyimpan kekayaan budaya yang menjadi identitas sekaligus kekuatan masyarakatnya. Bagi Sean, warisan budaya Dayak bukan sekadar tradisi yang perlu dikenang, tetapi nilai-nilai kehidupan yang terus relevan hingga hari ini. Nilai tentang hidup selaras dengan alam, menghormati sesama, dan menjaga semangat gotong royong menjadi fondasi yang tidak boleh hilang di tengah pembangunan.
Menurutnya, kemajuan tidak harus dibayar dengan hilangnya jati diri. Justru pembangunan akan memiliki makna ketika mampu berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Karena itu, selama menjalankan amanah di DPD RI, Sean juga turut mendorong berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat adat serta memastikan setiap regulasi nasional tetap menghormati karakteristik dan kekhasan daerah.
”Pembangunan bukan berarti menghilangkan budaya. Justru budaya adalah kekuatan yang harus menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri. Indonesia menjadi kuat karena keberagamannya,” tegasnya.
Di balik berbagai perjalanan yang dijalani Alfani maupun Sean, ada satu pelajaran yang selalu mereka bawa pulang, bahwasanya harapan sering kali tumbuh dari tempat-tempat yang paling sederhana. Mereka masih mengingat wajah-wajah masyarakat di pedalaman Kalimantan Tengah. Warga yang hidup jauh dari berbagai kemudahan, yang harus menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan layanan kesehatan, atau orang tua yang tetap berjuang menyekolahkan anak-anak mereka meski harus melewati sungai dan jalan tanah setiap hari.
Namun, di tengah segala keterbatasan itu, mereka tidak kehilangan semangat. Mereka tetap bekerja, saling membantu, dan menyambut siapa pun dengan senyum yang tulus. Bagi Alfani dan Sean, masyarakat seperti inilah yang justru menjadi guru kehidupan. ”Mereka mengajarkan kepada kami bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemudahan. Kadang, kebahagiaan justru tumbuh dari rasa syukur dan semangat untuk terus berjuang,” ucap Sean dan Alfani bersahutan.
Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat keduanya tidak pernah lelah menjalankan amanah. Sebab, di balik setiap kebijakan yang diperjuangkan dan setiap langkah yang diambil, selalu ada wajah-wajah masyarakat yang menjadi alasan untuk terus mengabdi.
Perubahan yang Mengubah Banyak Kehidupan
Dalam perjalanan panjangnya sebagai Anggota DPD RI, ada satu pengalaman yang semakin menguatkan keyakinan Sean bahwa jalan pengabdian adalah pilihan hidup yang tepat.
Suatu ketika, setelah melalui proses yang panjang bersama berbagai pihak, sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun mengalami kekurangan tenaga kesehatan akhirnya memperoleh tambahan seorang bidan.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin tampak sebagai urusan administratif biasa. Namun bagi masyarakat setempat, kehadiran satu tenaga kesehatan membawa perubahan yang nyata. Ibu hamil tidak lagi harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk memeriksakan kandungan. Anak-anak memperoleh layanan kesehatan yang lebih dekat dan lebih baik. Keluarga pun merasa lebih tenang karena ada tempat untuk memperoleh pertolongan ketika dibutuhkan.
Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa sebuah kebijakan yang tepat dapat menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan banyak orang. ”Dari situ saya semakin yakin bahwa kebijakan yang tepat bisa mengubah kehidupan begitu banyak orang. Jabatan hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana alat itu digunakan untuk menghadirkan manfaat nyata,” ungkapnya, haru.
Keyakinan serupa juga dirasakan Alfani. Setiap kali melihat para alumni The Winner mengenakan seragam TNI, Polri, maupun berbagai instansi kedinasan, ia tidak hanya melihat keberhasilan individu. Ia melihat kebanggaan orang tua yang selama ini berjuang, harapan baru bagi keluarga, serta lahirnya generasi yang kelak akan mengabdi kepada bangsa.
Bagi Alfani dan Sean, perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan dimulai dari satu kesempatan, satu keputusan, atau satu tangan yang bersedia membantu. Dari situlah kehidupan banyak orang perlahan berubah, dan harapan terus tumbuh untuk masa depan yang lebih baik.
Pengabdian Dimulai dari Keluarga
Di balik berbagai amanah yang diemban, Alfani dan Sean meyakini bahwa keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang cinta, tanggung jawab dan pengabdian. Bagi keduanya, keluarga bukanlah sesuatu yang harus dikorbankan demi pekerjaan. Sebaliknya, keluargalah yang menjadi sumber kekuatan untuk menjalankan setiap amanah dengan hati yang utuh.
Mereka memahami bahwa membangun rumah tangga di tengah profesi yang sama-sama menuntut dedikasi tinggi bukanlah perkara sederhana. Ada kalanya mereka harus berada di kota yang berbeda, ketika agenda kenegaraan Sean bertepatan dengan jadwal pembinaan peserta The Winner yang dijalankan Alfani. Ada pula hari-hari ketika rindu hanya dapat disampaikan lewat panggilan telepon singkat di sela padatnya aktivitas.
Situasi seperti itu bukan hal yang asing bagi mereka. Namun justru dari sanalah mereka belajar bahwa pernikahan bukan tentang selalu bersama setiap saat, melainkan tentang tetap melangkah menuju tujuan yang sama, meski terkadang harus menempuh jalan yang berbeda. ”Kami tidak melihat pasangan sebagai pesaing, tetapi sebagai rekan seperjuangan,” imbuh Sean.
Kalimat sederhana itu menjadi fondasi hubungan mereka. Keberhasilan salah satu adalah kebahagiaan bersama, sementara kesulitan yang dihadapi salah satu menjadi beban yang dipikul berdua. Tidak ada ruang untuk saling menjatuhkan. Yang ada hanyalah saling menguatkan dan saling percaya.
Bagi Alfani dan Sean, keharmonisan keluarga dibangun di atas kepercayaan. Kepercayaan itulah yang membuat mereka mampu menjalani hari-hari ketika tugas negara harus didahulukan, tetap tenang saat jarak memisahkan dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan. Sebab mereka percaya, pengabdian kepada masyarakat hanya akan berjalan baik jika keluarga tetap menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan.
Merawat Kebersamaan Lewat Hal-Hal Sederhana
Kesibukan, menurut Alfani dan Sean, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga. Karena itu, mereka menjaga beberapa kebiasaan sederhana yang menjadi ruang untuk kembali saling terhubung. Salah satunya adalah makan malam bersama. Tidak harus di tempat mewah atau dengan hidangan istimewa. Yang terpenting, seluruh anggota keluarga hadir, menyisihkan sejenak gawai dan pekerjaan.
Di meja makan itulah mereka berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari, mendengarkan pengalaman anak-anak atau sekadar tertawa bersama membahas hal-hal kecil. Justru momen-momen sederhana seperti inilah yang paling mereka rindukan di tengah kesibukan.
Selain itu, mereka juga berusaha meluangkan waktu untuk beribadah bersama. Bagi keduanya, doa bukan hanya menjadi sumber kekuatan pribadi, tetapi juga perekat dalam kehidupan keluarga.
Di sela padatnya agenda, mereka memiliki komitmen untuk sesekali mengambil jeda melalui staycation singkat, biasanya sekitar sekali dalam tiga bulan. Meski hanya berlangsung satu atau dua hari, waktu itu mereka dedikasikan sepenuhnya untuk keluarga, tanpa rapat, tanpa pekerjaan, dan tanpa pembahasan mengenai tugas negara.
Pada momen-momen itulah mereka kembali menjadi ayah, ibu, dan pasangan. Bukan pejabat, bukan pelatih, dan bukan anggota dewan. ”Bagi kami, rumah adalah tempat mengisi ulang energi. Dari keluarga yang bahagia, kami memperoleh semangat untuk kembali melayani masyarakat,” ucap keduanya, kompak.
Melayani Tanpa Melupakan Diri Sendiri
Banyak orang begitu sibuk melayani orang lain hingga lupa merawat dirinya sendiri. Namun Alfani dan Sean memandang hal itu secara berbeda. Menurut mereka, menjaga kesehatan fisik maupun mental bukanlah kemewahan, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Bagi Alfani, olahraga menjadi ruang untuk merefleksikan diri. Lari pagi hampir selalu menjadi bagian dari rutinitasnya. Di setiap langkah, ia tidak hanya melatih kebugaran tubuh, tetapi juga menenangkan pikiran, mengevaluasi berbagai keputusan dan menyusun kembali langkah-langkah pengabdiannya.
Sean memiliki caranya sendiri untuk menemukan ketenangan. Memasak menjadi aktivitas yang membantunya melepas penat setelah menjalani berbagai kesibukan. Ia juga membiasakan diri menjauh dari layar gawai sekitar tiga puluh menit sebelum tidur agar pikirannya benar-benar memiliki waktu untuk beristirahat.
Keduanya meyakini bahwa seseorang tidak akan mampu memberikan pelayanan terbaik apabila dirinya sendiri kelelahan. Karena itu, menjaga diri bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari tanggung jawab kepada orang-orang yang mereka layani.
Warisan Terbaik untuk Generasi Mendatang
Di antara berbagai pencapaian yang telah mereka raih, kebanggaan terbesar Alfani dan Sean sesungguhnya tidak selalu lahir dari jabatan ataupun penghargaan. Mereka tentu bersyukur setiap kali melihat peserta The Winner berhasil mengenakan seragam TNI, Polri atau diterima di berbagai instansi pemerintahan. Sean pun merasakan kebahagiaan ketika perjuangan kebijakan yang diusulkannya benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Namun, kebanggaan yang paling dalam tetap mereka rasakan saat melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, menghormati sesama, dan memahami arti pengabdian.
”Bagi kami, warisan terbaik bukanlah harta atau jabatan, melainkan nilai-nilai kehidupan yang terus hidup di dalam keluarga dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” sahut ibu dari Adiba dan Bilqis ini.
Meski telah menorehkan banyak pencapaian, pasangan ini masih menyimpan mimpi yang terus mereka perjuangkan. Mereka ingin melihat Kalimantan Tengah memiliki sumber daya manusia yang sehat, unggul dan mampu bersaing di tingkat nasional.
Mereka berharap semakin banyak anak muda dari daerah memperoleh kesempatan meraih cita-cita tanpa terhalang keterbatasan pendidikan maupun layanan kesehatan. Melalui The Winner, Alfani dan Sean ingin melahirkan lebih banyak generasi yang siap mengabdi sebagai anggota TNI, Polri, aparatur sipil negara, maupun pemimpin di berbagai bidang.
Target yang mereka pasang bukan sekadar angka. Mereka membayangkan 10.000 putra-putri terbaik Kalimantan Tengah kelak mengabdi dengan integritas di berbagai institusi negara. ”Bagi kami, angka itu bukan sekadar target. Itu adalah simbol harapan bahwa setiap anak di Kalimantan Tengah memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkan cita-citanya,” ungkap Sean yang diaminkan Alfani.
Menjelang akhir setiap pertemuan dengan generasi muda, keduanya hampir selalu menyampaikan pesan yang sama. Bahwa pengabdian adalah pilihan hidup yang menuntut disiplin, keikhlasan, dan integritas. ”Latih fisikmu, kuatkan mentalmu, tetapi jangan pernah lupa membangun akhlak dan integritas. Negara membutuhkan orang-orang yang bukan hanya cerdas dan kuat, tetapi juga jujur,” ucap Alfani.
Sean melengkapi pesan itu dengan mengingatkan bahwa setinggi apa pun cita-cita seseorang, jangan pernah melupakan keluarga. ”Jangan melihat keluarga sebagai penghalang untuk meraih mimpi. Justru keluargalah yang akan menjadi sumber kekuatan terbesar dalam perjalanan hidup,” ujarnya.
Bagi Alfani dan Sean, pada akhirnya pengabdian selalu bermula dari rumah. Dari keluarga yang saling menguatkan, lahir semangat untuk melayani sesama. Dari nilai-nilai yang diwariskan di dalam keluarga, tumbuh generasi yang kelak akan meneruskan perjuangan membangun daerah, bangsa, dan negara.





