CEO Rakas Group, Founder Atlas Cigar, Ketua Umum HIPMI Jawa Tengah

Teddy Tirtayadi, Sukses dan Berjaya dari Kertas Mika hingga Cerutu Premium

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Seorang anak kelas tiga duduk dengan tekun menggambar di atas kertas mika berwarna. Ia begitu percaya diri menjual hasil karyanya kepada teman-teman sekolah. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar kreativitas anak kecil. Namun bagi si anak, setiap lembar yang laku adalah pelajaran pertama tentang dunia usaha dengan modal sekitar Rp150 per lembar yang dijual seharga Rp500. Inilah kisah mengharukan Teddy Tirtayadi, kelahiran Semarang, 28 april yang akrab disapa Teddy. Pengalaman dan kreativitas masa kecilnya telah membuat ia menemukan keyakinan dan bersahabat dengan dunia bisnis hingga. Tidaklah heran langkah pasti karir Teddy yang lahir dari keluarga pedagang ini telah membuat ia dikenal luas sebagai CEO Rakas Group, Founder Atlas Cigar sekaligus Ketua Umum HIPMI Jawa Tengah.

“Bukan karena bahan bakunya mahal, tetapi karena saya percaya kreativitas mampu menciptakan nilai yang lebih tinggi daripada sekadar biaya produksi. Bisnis bukan dimulai dari besarnya modal, melainkan dari kemampuan melihat sesuatu yang belum dilihat orang lain. Begitu juga ketika SMA, saya melihat peluang lewat budidaya ikan cupang termasuk jenis Yellow Double Trail yang laku hingga 250 ribu per ekor”

Screenshot

Berawal dari Bisnis Keluarga Menjadi Ekosistem Usaha

Titik balik penting datang saat Teddy kembali ke Semarang meneruskan bisnis keluarga di bidang perkakas, bukan sekadar meneruskan warisan, melainkan menjawab tantangan zaman.

“Saya melihat kesenjangan besar antara cara bisnis dijalankan dan arah perkembangan dunia yang semakin digital”

Ia mentransformasi bisnis dari dalam hingga Rakas Group tumbuh menjadi salah satu pemimpin industri perkakas di wilayahnya. Dari proses itu lahir prinsip yang terus dipegang yaitu jangan bergantung pada satu sumber pendapatan, tetapi bangun ekosistem bisnis yang saling menguatkan.

Filosofi ini yang mendorongnya merintis Atlas Cigar, berangkat dari kecintaan pada budaya cerutu premium sekaligus keyakinan bahwa Indonesia punya potensi menghasilkan cerutu berkelas dunia.

“Atlas bukan sekadar merek yang menjual cerutu, melainkan upaya menghadirkan cerita, merayakan craftsmanship, dan menumbuhkan kebanggaan bahwa produk Indonesia mampu berdiri sejajar dengan karya-karya terbaik di pasar internasional”

Tantangan Menjadi Motivasi dan Komitmen

Tantangan terbesar sebagai pengusaha tak pernah berhenti berubah. Di masa awal, keterbatasan modal memaksanya berpikir lebih kreatif, memutar arus kas, membangun kepercayaan dengan pemasok dan pelanggan, serta menginvestasikan kembali keuntungan alih-alih menikmatinya. Begitu transformasi berjalan, tantangan berpindah dari soal modal menjadi soal manusia. Teddy meyakini bahwa kepemimpinan bukan tentang menyenangkan semua orang, melainkan menjaga arah dan nilai perusahaan. Bisnis yang hebat tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi dari kemampuan membangun sistem, budaya, dan SDM yang mampu bertahan, beradaptasi, dan terus tumbuh dalam jangka panjang.

“Membangun tim yang memiliki integritas, visi, dan semangat bertumbuh ternyata jauh lebih kompleks daripada membangun produk atau memperluas pasar termasuk keputusan tak populer untuk berpisah dengan orang-orang lama yang nilainya tak lagi sejalan dengan budaya perusahaan”

Membaca Tren Menciptakan Peluang

Kepekaan membaca arah pasar menjadi kunci strategi Teddy menjaga bisnisnya tetap adaptif. Saat olahraga padel berkembang pesat di Indonesia, ia tak memandangnya sekadar tren sesaat, melainkan peluang membangun ekosistem bisnis baru lewat Padelport, dari penyediaan perlengkapan hingga komunitas.

“Prinsip yang paling penting dalam membangun bisnis adalah selalu melihat perubahan sebagai peluang”

Filosofi serupa tertanam dalam DNA Atlas Cigar—cerutu yang baginya bukan sekadar produk untuk dinikmati, melainkan pengalaman yang merepresentasikan karakter, kualitas, dan perjalanan hidup.

“Di balik merek ini tersimpan nilai legacy, sebuah warisan yang dibangun melalui kesabaran, ketekunan, dan komitmen terhadap kualitas”

Memimpin HIPMI Memperluas Dampak

Selain sebagai CEO, Teddy dipercaya memimpin HIPMI Jawa Tengah sebagai Ketua Umum. Baginya, kesuksesan pengusaha tak pernah diukur semata dari besarnya perusahaan, melainkan dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

“Saya melihat HIPMI bukan hanya sebagai organisasi pengusaha, tetapi sebagai wadah untuk membangun ekosistem di mana para pengusaha muda dapat saling belajar, bertumbuh, dan berkembang bersama. Peran sebagai CEO dan Ketua HIPMI bukanlah dua tanggung jawab yang berbeda, melainkan satu misi yang saling melengkapi, menciptakan lebih banyak pengusaha yang tangguh dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah”

Keseimbangan Waktu dan Menetapkan Prioritas

Komitmen sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari cara Teddy membangun bisnis. Ia rutin berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk mendorong bisnisnya dalam kegiatan sosial yang berdampak positif.

“Kolaborasi adalah salah satu cara untuk memperluas manfaat, karena setiap pihak memiliki kekuatan yang dapat saling melengkapi”

Di tengah padatnya peran sebagai CEO sekaligus Ketua HIPMI, Teddy lebih mengutamakan kemampuan menetapkan prioritas ketimbang mengatur setiap menit secara kaku. Rasa ingin tahu yang tak pernah padam menjadi bahan bakarnya untuk tetap relevan.

“Menjadi pemimpin bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri, tetapi memastikan setiap tanggung jawab tetap terlaksana dengan baik melalui kolaborasi, kepercayaan kepada tim dan berkomitmen. Sumber pembelajaran tidak selalu berasal dari ruang kelas atau seminar, tetapi juga dari percakapan sehari-hari, pengalaman pelanggan, hingga dinamika yang terjadi di pasar”

Keberanian dan Inovasi Membangun Bisnis

Teddy ingin membangun perusahaan yang berfondasi kuat dan berjalan profesional, Rakas Group lewat diversifikasi bisnis dan pemimpin-pemimpin baru di setiap unit usaha, Atlas Cigar sebagai ikon cerutu premium Indonesia di pasar internasional, dan HIPMI Jawa Tengah sebagai warisan organisasi yang bermanfaat bagi anggotanya.

“Harapan ke depannya, saya tidak hanya dikenal karena bisnis yang dibangun, tetapi karena ekosistem, peluang, dan dampak positif yang berhasil saya ciptakan bagi banyak orang”

Namun baginya, kesuksesan sejati bukan sekadar soal perusahaan yang semakin besar. Ia ingin membangun sebuah kehidupan yang penuh warna dan bermakna, menganalogikan lini-lini bisnis sebagai spektrum warna yang masing-masing memiliki karakter sendiri, namun tetap bergerak harmonis dalam satu visi dalam keseimbangan antara bisnis, keluarga, kesehatan, spiritualitas, dan waktu menikmati proses kehidupan.

“Saya ingin perjalanan hidup saya tidak hanya dikenang melalui perusahaan yang berhasil dibangun, tetapi juga melalui hubungan yang bermakna dan warisan nilai yang dapat terus hidup”