Dokter Spesiais Anak

Erviani Maulidya, Sp.A, Dedikasi Pengabdian untuk Kesehatan Generasi Masa Depan

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dunia kesehatan anak bukanlah sekadar profesi bagi dr. Erviani Maulidya, Sp.A, melainkan sebuah panggilan hidup yang dijalani dengan penuh empati dan integritas. Lahir di Samarinda pada 15 Oktober 1989, perjalanan dr. Ervin, begitu beliau akrab disapa adalah cerminan dari semangat pembelajar seumur hidup yang didorong oleh keinginan tulus untuk memberikan dampak positif bagi kualitas hidup anak-anak di Indonesia. Keputusan menjadi dokter anak bukan berdasarkan cita-cita, tetapi pengalaman selama menjalani pendidikan kedokteran.

“Saya menyadari bahwa anak bukanlah “orang dewasa dalam ukuran kecil”. Cara mereka sakit, cara mereka merespons pengobatan, bahkan cara mereka berkomunikasi sangat berbeda. Hal itu membuat bidang pediatri terasa menantang sekaligus menarik karena membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh tidak hanya memahami penyakitnya, tetapi juga memahami tumbuh kembang, kondisi keluarga, dan lingkungan tempat anak dibesarkan”

Kelahiran Samarinda, 15 Oktober 1989 ini bertahan di bidangnya karena melihat dampat yang dapat diberikan melalui tindakan yang tepat di masa awal kehidupan. Seringkali keputusan medis yang diambil pada masa bayi atau anak dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang hingga dewasa. Ia merasa bidang ini memberi kesempatan untuk tidak hanya mengobati penyakit, tetapi juga membantu anak memiliki masa depan yang lebih sehat.

Di sisi lain, bekerja dengan anak mengajarkannya untuk selalu rendah hati. Anak-anak tidak bisa selalu menjelaskan apa yang mereka rasakan, sehingga seorang dokter dituntut untuk lebih teliti, lebih sabar, dan terus belajar. Tantangan intelektual sekaligus sisi humanis itulah yang membuatnya merasa bahwa dunia kesehatan anak adalah bidang yang paling sesuai dengan dirinya dan terus memotivasi untuk memberikan yang terbaik setiap hari.

Perjalanan Karier yang Menguatkan

Titik balik terbesar, menurut dr.Ervin justru terjadi saat ia bekerja sebagai dokter umum di daerah sebelum menjalani pendidikan spesialis. Di sana, ia sering menemui anak-anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah cukup berat karena berbagai alasan, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, kurangnya pemahaman orang tua mengenai tanda bahaya, hingga keterlambatan mencari pertolongan. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa menjadi dokter anak tidak cukup hanya menguasai ilmu medis. Edukasi kepada orang tua memiliki peran yang sama pentingnya dengan pengobatan. Banyak kondisi pada anak sebenarnya dapat dicegah atau ditangani lebih awal apabila orang tua memiliki informasi yang benar.

“Kesadaran itu terus saya bawa hingga sekarang dalam praktik sehari-hari. Saya berusaha tidak hanya memberikan diagnosis dan terapi, tetapi juga meluangkan waktu untuk menjelaskan kondisi anak dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya percaya bahwa ketika orang tua memahami penyakit, pengobatan, dan langkah-langkah yang harus dilakukan di rumah, hasil yang dicapai akan jauh lebih baik”

Pengalaman tersebut juga menjadi alasan mengapa ia aktif membuat konten edukasi kesehatan anak di media sosial. Baginya, edukasi adalah bentuk pelayanan yang dapat menjangkau lebih banyak keluarga, bahkan sebelum mereka datang ke rumah sakit. Jika satu informasi yang dibagikan dapat membantu orang tua mengenali tanda bahaya lebih cepat atau mencegah kesalahan yang sering terjadi, maka itu sudah menjadi nilai yang sangat berarti dalam pengabdiannya sebagai dokter anak.

Kesehatan Mental Anak dan Remaja Menjadi Prioritas

Kondisi kesehatan anak di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup baik di berbagai aspek. Angka imunisasi mulai meningkat kembali setelah sempat terdampak pandemi, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tumbuh kembang anak juga semakin baik, dan akses terhadap layanan kesehatan terus diperluas. Namun, tantangan yang kita hadapi juga semakin kompleks.

Selama ini, ditegaskan lulusan Pendidikan Kedokteran Universitas Mulawarman dan Pendidikan Spesialis Anak Universitas Brawijaya ini dunia kesehatan anak banyak berfokus pada masalah stunting, padahal saat ini Indonesia menghadapi apa yang disebut sebagai triple burden of malnutrition yaitu stunting dan gizi kurang yang masih ada, tetapi di saat yang sama jumlah anak dengan berat badan berlebih dan obesitas juga terus meningkat. Pola makan tinggi gula, garam, makanan ultra-proses, serta berkurangnya aktivitas fisik menjadi tantangan baru yang perlu mendapat perhatian serius.

“Kesehatan mental anak dan remaja juga menjadi isu yang semakin nyata. Tekanan akademik, penggunaan gawai yang berlebihan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi dalam keluarga dapat memengaruhi kesehatan psikologis anak. Saat ini kita semakin menyadari bahwa kesehatan anak bukan hanya tentang kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental dan kualitas tumbuh kembangnya”

Dari sisi orang tua, tantangan terbesar yang saya lihat adalah derasnya arus informasi. Informasi kesehatan sangat mudah diakses melalui media sosial, tetapi tidak semuanya benar. Tidak jarang orang tua datang dengan informasi yang belum terverifikasi sehingga menimbulkan kecemasan atau justru menunda penanganan yang sebenarnya diperlukan. Karena itu, kemampuan memilih sumber informasi yang terpercaya menjadi sangat penting. Sementara bagi tenaga medis, tantangannya adalah memberikan pelayanan yang berbasis bukti ilmiah sekaligus tetap mampu berkomunikasi dengan baik kepada keluarga pasien. Seorang dokter tidak hanya dituntut memberikan diagnosis dan terapi yang tepat, tetapi juga harus menjadi pendidik yang dapat menjelaskan kondisi anak dengan bahasa yang mudah dipahami.

“Saya percaya bahwa keberhasilan pengobatan bukan hanya ditentukan oleh obat yang diberikan, tetapi juga oleh pemahaman dan kerja sama yang baik antara tenaga kesehatan dan orang tua”

Tingkatkan Ilmu Pengetahuan dan Relasi Sosial untuk Upgrade Diri

Perkembangan ilmu kedokteran, khususnya di bidang kesehatan anak, berlangsung sangat cepat. Karena itu, dr.Ervin berkomitmen untuk terus memperbarui pengetahuan agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan perkembangan ilmu terbaru dan berbasis bukti ilmiah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah secara rutin mengikuti Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ilmu Kesehatan Anak yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai seminar, webinar, dan kegiatan ilmiah lainnya yang membahas isu-isu terkini dalam kesehatan anak. Melalui kegiatan tersebut, ia dapat memperoleh pembaruan mengenai pedoman diagnosis, tata laksana penyakit, serta perkembangan terapi terbaru yang kemudian dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari. Menjadi dokter berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Dengan terus mengikuti perkembangan ilmu kedokteran, saya berharap dapat memberikan pelayanan yang aman, tepat, dan terbaik bagi setiap anak yang ditangani.

“Saya merupakan anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan berusaha aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, baik yang bersifat ilmiah maupun pengabdian kepada masyarakat. Saya juga terlibat dalam kegiatan bakti sosial sebagai bagian dari program pengabdian Masyarakat”

Keterlibatan dalam organisasi profesi tidak hanya menjadi sarana untuk memperbarui ilmu pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan sejawat dari berbagai daerah. Diskusi dan kolaborasi tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.

Istri dari dr. Slamet Hadi Santoso, Sp.An-Ti rutin melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan memberikan pengalaman yang berbeda. Melalui kegiatan tersebut, ia dapat menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan maupun edukasi.

“Saya percaya bahwa peran seorang dokter tidak hanya berada di ruang praktik atau rumah sakit, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi, melakukan upaya promotif dan preventif, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan anak sejak dini. Bagi saya, kombinasi antara pelayanan klinis, pengembangan ilmu melalui organisasi profesi, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian yang saling melengkapi dalam menjalankan profesi sebagai dokter anak”

Keseimbangan Antara Profesi, Keluarga, dan Me Time

Menjalani profesi sebagai dokter memang memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur waktu. Karena itu, dr. Ervin berusaha menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar tetap dapat memberikan perhatian yang berkualitas, baik kepada pasien maupun keluarga.

Baginya, akhir pekan adalah waktu untuk keluarga. Ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk mendampingi anak mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya baby club. Momen-momen sederhana seperti itu sangat berharga karena ia dapat menyaksikan tumbuh kembang anak secara langsung sekaligus membangun kedekatan sebagai orang tua.

“Saya juga percaya bahwa menjaga kesehatan diri sendiri sama pentingnya dengan menjaga kesehatan pasien. Karena itu, saya menyempatkan me time dan meluangkan waktu untuk berkumpul dengan sahabat, setidaknya satu kali dalam sebulan. Waktu tersebut membantu saya melepaskan penat, mengisi kembali energi, dan kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar”

Keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi bukan berarti membagi waktu secara sama rata, tetapi memastikan bahwa setiap peran yang kita jalani mendapatkan perhatian yang berkualitas. Ketika memiliki waktu yang cukup untuk keluarga dan diri sendiri, ia juga dapat hadir sebagai dokter dengan empati, fokus, dan semangat yang lebih baik dalam melayani setiap pasien.

Pencapaian Membanggakan di Tengah Perjuangan

Pencapaian terbesar, bagi dr.Ervin bukanlah gelar atau posisi tertentu, melainkan kepercayaan yang diberikan oleh para orang tua kepadanya untuk mendampingi kesehatan anak-anak. Tidak ada kepuasan yang lebih besar daripada melihat seorang anak yang datang dalam kondisi sakit kemudian pulang dalam keadaan lebih baik, atau melihat tumbuh kembang mereka berjalan dengan baik saat kontrol berkala.

“Saya juga merasa bangga ketika orang tua tidak hanya datang untuk berobat, tetapi juga menjadikan saya sebagai tempat berdiskusi mengenai kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kepercayaan seperti itu dibangun melalui komunikasi yang baik, pelayanan yang tulus, dan komitmen untuk selalu memberikan penanganan berdasarkan bukti ilmiah”

Di luar praktik klinis, ia bersyukur dapat berkontribusi melalui edukasi kesehatan anak di media sosial. Jika informasi yang dibagikan dapat membantu orang tua mengenali tanda bahaya lebih dini, meluruskan mitos yang keliru, atau membuat mereka lebih percaya diri dalam merawat anak di rumah.

“Saya percaya bahwa keberhasilan seorang dokter bukan hanya diukur dari banyaknya pasien yang ditangani, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi anak-anak dan keluarga yang kita layani. Itulah yang terus menjadi motivasi saya untuk belajar, berkembang, dan memberikan pelayanan terbaik setiap hari”

Wujudkan Visi dan Misi dalam Profesi

Fokus mengembangkan profesi bukan berarti melupakan waktu untuk meningkatkan kompetensi. dr. Ervin mewujudkannya lewat visi dan misi yang ditanamkan sehingga menjadi prinsip dalam perubahan diri. Visinya untuk berkontribusi dalam menciptakan generasi anak Indonesia yang tumbuh sehat, tidak hanya melalui pelayanan medis di rumah sakit, tetapi juga melalui edukasi yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Ia percaya bahwa menjaga kesehatan anak tidak dimulai saat mereka sakit, melainkan dari orang tua yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar.

“Saya ingin terus mengembangkan edukasi kesehatan anak yang mudah dipahami, berbasis bukti ilmiah, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di era digital, media sosial dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan secara sederhana sehingga lebih banyak orang tua dapat memperoleh edukasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh mitos atau informasi yang menyesatkan”

Harapan dr. Ervin tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengobatan, tetapi pencegahan, pemantauan tumbuh kembang, serta membangun kemitraan dengan orang tua dalam menjaga kesehatan anak. Hasil terbaik akan tercapai ketika dokter dan keluarga bekerja sama sebagai satu tim.

“Saya berharap setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, sementara setiap orang tua merasa lebih percaya diri dalam merawat buah hatinya. Jika melalui pelayanan dan edukasi yang saya lakukan saya dapat membantu mewujudkan hal tersebut, maka itulah visi yang ingin terus saya perjuangkan sebagai dokter spesialis anak”

Harapan dan Inovasi dalam Mengembangkan Profesi

Harapan ke depan, dr.Ervin ingin terus berkembang, baik sebagai dokter spesialis anak maupun sebagai edukator kesehatan. Ia berharap dapat memberikan pelayanan yang semakin berkualitas dengan terus memperbarui ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang kesehatan anak. Selain praktik klinis, ia juga ingin memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat melalui media digital. Tujuannya agar semakin banyak orang tua yang mendapatkan informasi kesehatan anak yang benar, mudah dipahami, dan berbasis bukti ilmiah. Eedukasi yang baik dapat membantu orang tua mengambil keputusan yang tepat, bahkan sebelum anak jatuh sakit. Ia juga ingin tetap menjaga keseimbangan antara profesi dan keluarga.

“Harapan terbesar saya sederhana, yaitu dapat terus memberikan manfaat. Selama saya masih diberi kesempatan untuk belajar, melayani, dan berbagi ilmu, saya ingin terus berkontribusi bagi kesehatan anak-anak Indonesia. Saya percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh sehat dan mencapai potensi terbaiknya, dan saya ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut”

Panjatan Harapan untuk Anak-anak Indonesia

Kesehatan anak tidak hanya ditentukan ketika mereka sakit. Hal-hal sederhana seperti memberikan imunisasi lengkap, memenuhi kebutuhan gizi, memastikan anak cukup tidur dan aktif bergerak, rutin memantau tumbuh kembang, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masa depan mereka.

“Saya percaya bahwa menjaga kesehatan anak adalah kerja sama antara orang tua, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar. Ketika kita berjalan bersama, kita tidak hanya membantu anak terhindar dari penyakit, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, bahagia, dan mampu meraih potensi terbaiknya”

Sebagai orang tua, tidak perlu ragu untuk bertanya kepada tenaga kesehatan apabila ada hal yang membuat khawatir, dan berhati-hatilah dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang terpercaya dan berbasis bukti ilmiah.

“Jangan merasa harus menjadi orang tua yang sempurna. Yang paling dibutuhkan anak bukanlah orang tua yang tahu segalanya, tetapi orang tua yang mau terus belajar, hadir, dan memberikan kasih sayang. Karena pada akhirnya, investasi terbaik yang dapat kita berikan kepada anak bukan hanya pendidikan atau materi, melainkan kesehatan dan kasih sayang yang akan menjadi bekal mereka sepanjang hidup”