Dokter Spesialis Neurologi dan Konsultan Neurodegeneratif RS PON

Asnelia Devicaesaria, Sp.N, Subsp.NGD(K), Mengabdikan Diri di Bidang Neurologi demi Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Lahir dan tumbuh besar di tengah tiga generasi keluarga menjadikan dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.N., Subsp.NGD(K) akrab dengan kehidupan para lansia sejak kecil. Kehangatan saat mendampingi buyut, nenek dan kakek, serta menyaksikan mereka menjalani hari-hari di usia senja, perlahan menumbuhkan kepekaan yang kelak mengarahkan langkahnya memilih bidang neurologi, khususnya neurodegeneratif yang berfokus pada penanganan penyakit otak dan persarafan. Bagi sosok yang akrab disapa dr. Asnel ini, merawat pasien lansia bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan panggilan untuk menjaga kualitas hidup mereka sekaligus meneruskan nilai kepedulian yang telah tumbuh sejak masa kanak-kanak.

Di balik kiprah dr. Asnel sebagai Dokter Spesialis Neurologi sekaligus Konsultan Neurodegeneratif di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), tersimpan komitmen untuk tidak sekadar mengobati penyakit, melainkan menjaga kualitas hidup, menghadirkan harapan, serta mendampingi pasien beserta keluarganya menghadapi setiap fase kehidupan dengan empati dan ketulusan.

Karena baginya, kesuksesan seorang dokter bukan semata-mata diukur dari gelar akademik, jabatan atau banyaknya pasien yang ditangani. melainkan ketika ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat, mengurangi penderitaan dan membuat pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup dengan bermakna.

Saya percaya, tugas dokter bukan hanya mengobati penyakit. Kita harus membantu pasien dan keluarganya memahami kondisi yang dihadapi, mendampingi mereka dan berikhtiar bersama agar kualitas hidupnya tetap terjaga,” tuturnya.

Pandangan tersebut tidak lahir begitu saja. Sejak kecil, dr. Asnel terbiasa hidup berdampingan dengan para lansia. Ia melihat secara langsung bagaimana bertambahnya usia membawa berbagai perubahan, bukan hanya pada kondisi fisik, tetapi juga emosi, daya ingat, hingga kemandirian seseorang.

Dari pengalaman sederhana itulah, dokter kelahiran Jakarta, 3 April ini, belajar bahwa para lansia membutuhkan lebih dari sekadar pengobatan. Mereka membutuhkan perhatian, kesabaran, penghormatan dan keluarga yang memahami perjalanan hidup mereka.

Memori dr. Asnel kian membekas karena buyutnya mampu menjalani usia hampir satu abad dalam kondisi yang relatif sehat. Kedekatan itu menumbuhkan kekaguman sekaligus rasa ingin tahu dalam diri dr. Asnel mengenai bagaimana seseorang dapat tetap memiliki kualitas hidup yang baik hingga usia lanjut. Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan masa kecil itu menemukan jawabannya ketika ia mendalami ilmu neurologi.

Pola Asuh Demokratis. Nilai-nilai kepedulian yang tumbuh di rumah juga diperkuat oleh pola asuh kedua orang tua. Ayah dan ibu dr. Asnel sama-sama menempuh pendidikan kedokteran. Sang ibu kemudian mengabdikan diri sebagai dokter umum di sebuah Puskemas, sementara sang ayah sebagai sarjana kedokteran berkarir di industri farmasi. Meski berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia kesehatan, kedua orang tua dr. Asnel tidak pernah memaksakan pilihan hidup putri semata wayang mereka. Sebaliknya, mereka memberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidup sendiri, dengan satu syarat, setiap keputusan harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Prinsip itulah yang hingga kini menjadi pegangan hidup dr. Asnel. Baginya, kebebasan bukan berarti melakukan apa pun yang diinginkan tanpa batas, melainkan keberanian memilih jalan hidup sekaligus kesiapan menerima konsekuensi dari setiap pilihan. Nilai tersebut pula yang membentuk pandangannya tentang makna kemerdekaan sebagai seorang perempuan, yakni bebas berkembang dan berkarya, namun tetap bertanggung jawab terhadap keluarga, profesi dan masyarakat.

”Orang tua saya selalu memberi ruang untuk memilih. Tetapi mereka juga mengajarkan bahwa setiap pilihan harus dipertanggungjawabkan. Nilai itu yang terus saya pegang sampai sekarang,” kenangnya.

Pola asuh demokratis tersebut, membuat dr. Asnel tumbuh sebagai pribadi yang aktif dan percaya diri. Selain menyukai pelajaran biologi, ia juga mengembangkan berbagai minat di bidang seni dan aktif sebagai anggota paskibra serta organisasi siswa. Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah atas, ia aktif mengikuti paduan suara, menjadi vokalis band, menari bahkan pernah menjadi guru tari. ”Seni bukan sekadar hobi, tetapi ruang untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, serta mengekspresikan diri,” katanya.

Komunikasi yang Luwes. Jauh sebelum memutuskan menekuni dunia kedokteran, dr. Asnel ternyata pernah memiliki cita-cita yang sama sekali berbeda. Ia sempat tertarik pada dunia broadcasting dan bermimpi berkiprah di bidang media massa, baik televisi maupun radio saat itu dan penyiaran.

. Kepribadiannya yang supel, komunikatif, dan percaya diri membuatnya merasa bidang tersebut selaras dengan karakter yang dimilikinya. Namun, impian itu tidak berlanjut karena pada saat itu jenjang pendidikan yang tersedia hanya sampai Diploma III.

Meski tidak menjalani bidang tersebut, kemampuan berkomunikasi yang telah diasah sejak muda justru menjadi bekal berharga dalam profesinya sebagai dokter. Setiap hari ia berhadapan dengan pasien dan keluarga yang datang membawa kecemasan, kebingungan, bahkan rasa takut terhadap penyakit yang diderita. Menurut dr. Asnel, di situlah kemampuan berkomunikasi memegang peranan yang sama pentingnya dengan penguasaan ilmu kedokteran.

”Pasien tidak hanya membutuhkan dokter yang menguasai ilmu, tetapi juga dokter yang mau mendengarkan, mampu menjelaskan kondisi mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, serta membangun rasa percaya. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, pasien dan keluarganya akan lebih tenang dan lebih siap menjalani proses pengobatan,” tutur wanita berdarah Minang ini.

Bukan Sekadar Profesi. Memilih menempuh pendidikan kedokteran bukanlah keputusan yang ringan bagi dr. Asnel. Ia menyadari bahwa profesi tersebut menuntut proses pendidikan yang panjang sekaligus biaya yang tidak sedikit. Rasa syukur pun menyertainya ketika berhasil masuk 10 besar nilai terbaik dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Prestasi tersebut membuatnya memperoleh potongan biaya pendidikan hingga 75 persen. ”Orang tua saya berjuang luar biasa. Karena itu tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang diberikan,” tuturnya.

Kesadaran tersebut membentuk etos kerja yang terus dipegangnya hingga kini. Ia meyakini bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, dr. Asnel mengawali pengabdiannya sebagai dokter umum di salah satu puskesmas di wilayah Jakarta Timur. Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang semakin meneguhkan keyakinannya bahwa menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi sesama.

Merasa harus meningkatkan kemampuan diri, ia pun melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Dari berbagai cabang ilmu kedokteran, neurologi menjadi bidang yang paling menarik perhatiannya. Menurutnya, otak dan sistem saraf merupakan pusat kendali seluruh aktivitas manusia. Mulai dari berpikir, bicara, mengingat, merasa dan bergerak. Ketika fungsi-fungsi tersebut terganggu, bukan hanya pasien yang terdampak, tetapi juga keluarga yang mendampinginya.

Keyakinan itulah yang mengantarkannya diterima di Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di sanalah arah pengabdiannya semakin jelas. Dr. Asnel memilih bidang Neurobehaviour dalam tesis kelulusannya, yang membawanya semakin dekat pada misi menjaga kualitas hidup para lansia serta pasien dengan penyakit neurodegeneratif.

Sejak lulus sebagai Neurolog, pengabdiannya di bidang Neurobehaviour, Neurogeriatri, Gangguan Gerak dan Gangguan Tidur, menjadikan pehobi menyanyi ini sebagai Konsultan Neurodegeneratif. Saat ini, ia juga tengah menempuh Program Doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dengan fokus penelitian di bidang genetika Alzheimer. Baginya, setiap jenjang pendidikan bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bekal untuk menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi pasien.

Tidak hanya di bidang Neurologi, ia pernah dipercaya menjadi Public Relation, Tim Penyusun Formularium Obat dan Kepala Instalasi Neurodiagnostik pada periode Direksi RS PON saat masa merintis RS tersebut sebagai RS vertikal Kemenkes rujukan pusat penyakit otak dan persarafan. Dari situlah ia belajar strategi pemasaran dan menejerial layanan kesehatan. Kemampuannya membangun komunikasi dan menjalin hubungan baik dengan berbagai relasi turut mendukung upaya memperkenalkan layanan unggulan RS PON kepada masyarakat.

Saat ini walaupun sudah tidak menjabat lagi, ia mengembangkan diri pada organisasi profesinya yaitu PERDOSNI (Pehimpunan Dokter Neurologi Indonesia) di bidang Kerjasama dan Acara Ilmiah dan Kolegium Neurologi sebagai Bendahara.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa seorang dokter tidak hanya dituntut menguasai ilmu medis, tetapi juga mampu membangun kepercayaan, menjalin kolaborasi dan menghadirkan solusi terbaik bagi pasien, institusi maupun organisasi tempatnya mengabdi.

Ketika kehadiran dan Kehilangan menjadi titik balik

Di awal karier sebagai dokter neurologi, dr. Asnel dihadapkan pada salah satu ujian terbesar dalam hidup. Sang ibu didiagnosis menderita kanker tiroid yang telah menyebar ke paru-paru, bahkan ditemukan pula kanker primer di otak. Di tengah kondisi tersebut, sang ibu sang ibu memintanya untuk punya anak lagi. “Ibu bilang, nanti beban keluarga bisa dibagi ke kakak dan adiknya, tidak seperti saya yang sekarang harus menanggung semuanya sendiri karena anak tunggal,” kenangnya.

Ia dan suamipun setuju untuk menambah momongan Namun, selama menjalani kehamilan anak kedua, kondisi ibunya terus memburuk. Pada saat yang hampir bersamaan, ayah mertuanya juga mengalami gangguan jantung yang semakin serius. Di tengah situasi tersebut, ia harus tetap menjalankan profesinya sebagai neurolog yang baru merintis karier, mengasuh anak pertamanya, menjaga kesehatan diri dan kehamilannya, harus semangat dan juga bisa menyemangati kedua orang tua dan keluarganya.

Setelah melahirkan anak kedua, dr. Asnel dan rekan satu divisi di Neurobehaviour RS PON diminta oleh gurunya untuk menggantikan kehadiran beliau pada acara Demensia di Singapura. Acara tersebut memberikan kesempatan padanya untuk bertemu dengan sejawat yang bergelut di bidang Demensia dari berbagai centre di Indonesia bahkan luar negri. untuk itu, ia memberanikan diri meminta izin untuk mengikuti acara tersebut kepada ibunya yang saat itu dirawat di RS dan direncanakan akan menjalani perawatan rawat homecare. Ia meminta ibunya menunggunya sampai ia pulang dari Singapura. Ibunya pun merestui.

Saat itu kebetulan hampir semua keluarga dekat dan jauh, tetangga, teman dekat orangtuanya, teman-teman yang merawat ibu di RS, teman – teman sekolah dan kuliah pun datang membesuk ibunya. “Saya bilang ke masing-masing mereka titip mama sampai saya pulang dari Singapura dan setelahnya saya akan bawa mama pulang buat homecare,” katanya. Atas restu ibunya, ia pun berangkat, namun di hari terakhir jadwal kembali ke Jakarta, ia di kabari ibunda sudah tiada. Sesampainya di Jakarta, almarhumah ibu sudah diurus semua dari RS tempatnya di rawat sampai tinggal siap untuk dikuburkan menunggu kepulangnnya.

“Awalnya saya terpukul, namun saya melihat hikmah di balik semua. Mungkin kalau saya berada di samping mama saat ajal menjemput, Allah SWT tahu saya tidak akan kuat. Kata “titip” yang saya ucapkan ke semua orang yang menjenguk mama saat itu, mereka bereskan semua urusan mama saat saya tidak ada. Saya merasa mama justru yang menitipkan saya ke keluarga suami, keluarga besar kami dan pertemanan tersebut, seolah menyatakan saya tidak pernah sendirian. Dan tanpa saya sadari, saya juga mendapat keluarga baru dari bidang Neurobehaviour Indonesia karena mereka yang mendampingi saya saat berduka di Singapura. Saya merasa mama saya juga menitipkan saya untuk berkembang bersama guru saya dan senior di bidang yang saya geluti ini. Dan untuk anak- anak saya, saya mendapat pesan bahwa mereka ada buat berbagi peran dan melihat mereka tumbuh nanti menjadi pengingat kenangan akan mama. Setelah pengajian 40 hari meninggalnya mama, papa mertua saya pun berpulang karena penyakit jantung. Dari semuanya saya merasa saat itu titik balik bagi diri saya”, ungkapnya lirih.

Deretan peristiwa tersebut, menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian selalu membutuhkan keikhlasan, doa, dan restu orang tua.

Melayani dengan Hati

Pengalamannya dekat dengan lansia di rumah, kehilangan ibu dan ayah mertua, membuatnya semakin empati dalam melayani pasien-pasien lansianya, Baginya lansia perlu di dengar, di perhatikan dan perlu dukungan dari keluarga. Khusus di bidangnya yang menangani lansia dengan gangguan memori seperti Penyakit Alzheimer, gangguan gerak seperti Penyakit Parkinson dan juga di sertai dengan gangguan tidur, ia merasa keluarga adalah dukungan terbaik setara dengan obat untuk penyakitnya.

”Saya tahu bagaimana rasanya menjadi keluarga pasien. Karena itu saya selalu berusaha menjelaskan kondisi pasien dengan bahasa yang mudah dipahami, supaya keluarga mengerti apa yang sedang dihadapi dan bisa mendampingi pasien dengan lebih tenang,” ujar dokter yang juga menggelar praktik di Bidakara Medical Centre (BIMC) ini.

Ia juga selalu mendoakan kesehatan pasien-pasiennya dan keluarga saat berpraktek, Baginya hal yang ia lakukan itu untuk tabungan amalnya di akhirat. ”Saya bahkan sering minta doa pasien -pasien saya. Saya menganggap seperti orang tua sendiri. Malah enak kan, didoain terus oleh banyak orangtua,” ujar sosok yang dari TK sampai SMA di Al-Azhar Pusat Kebayoran Baru sambil ketawa.

Luangkan Waktu Menyalurkan Hobi

Di tengah kesibukan sebagai dokter, akademisi, peneliti, moderator, pembicara, MC dan pengurus organisasi, dr. Asnel tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Ia percaya bahwa dokter juga perlu memiliki ruang untuk mengembangkan diri agar tetap sehat, kreatif dan bahagia. Kecintaannya pada dunia seni masih terus ia pelihara hingga kini. Ia aktif bernyanyi di Vocal Group – Ukulele Ensamble NANO UI. Komunitas Alumni Neurologi FK UI ini di buat untuk melatih fungsi otak, yang tadinya tidak bisa main alat musik, mereka belajar bersama memainkan ukulele. Tidak hanya di vocal group, ia juga menjadi Vocalis Spike Band, band yang berisi Alumni Neurologi FK UI juga.

Hobinya yang lain adalah di dunia fashion. Ia kerap mendisain sendiri baju yang ia pakai untuk hadir pada event ilmiah, non ilmiah dan keluarga sesuai tema. “Seperti saat ini, khusus Majalah Inspiratif, saya buat tema Maskulin vs Feminin. Gaya Maskulin idenya dari kostum millitary Michael Jackson dengan celana pallazo. Gaya femininya berkreasi collar yang berpadu dengan batik,” katanya semangat.

Baginya seni dan kedokteran bukanlah dunia yang bertolak belakang, namun keduanya sama-sama membutuhkan kepekaan dan kreatifitas.

Di rumah, ia juga menikmati perannya sebagai istri dan ibu bagi dua orang putra. Keluarga sangat mendukung dirinya baik dalam pekerjaan, urusan rumah tangga dan hobi dr. Asnel, begitu juga sebaliknya. Sebagai perempuan satu-satunya dalam keluarga kecilnya, dr. Asnel menyesuaikan dan mendukung juga suami yang offroader, anak sulung yang hobinya otomotif dan anak bungsu drummer yang juga atlet ice hockey dan street BMX. Ia percaya bahwa keluarga merupakan sumber energinya.

Keluarga Menjadi Inspirasi

Saat ini ayah dr. Asnel berusia menjelang 80 tahun. Beliau masih aktif dan mandiri. Hobinya membaca berita dan koran, senang mengisi TTS dan mengimnya ke redaksi koran tersebut, bahkan sering TTS yang dikimkannya menang dan mendapat hadiah. Beliau juga senang menonton berita dan kuis di TV bahkan seru menjawab jawaban kuis tersebut. Disiplin waktu, rajin mencatat hal-hal yang akan di lakukannya, masih mahir menggunakan Hp, mandiri dan masih memasak makanan yang ia suka, masih terlibat dalam kegiatan rumah tangga dan masih aktif berkegiatan bersama saudara dan temannya. Ibu mertua dr. Asnel berusia pertengahan 60 -an tahun, juga masih aktif pengajian, memasak untuk catering, urus rumah tangga dan juga aktif berkegiatan bersama saudara dan temannya.

Dr. Asnel banyak belajar dari keduanya tentang bagaimana lansia harus menjaga kualitas hidup. Salah satu mimpi dr. Asnel adalah membuat layanan Rumah Day Care yang menjadi sebuah pusat layanan terpadu bagi para lansia yang menggabungkan konsep rumah dengan aktivitas sosial, stimulasi kognitif, konsultasi kesehatan, hingga pendampingan bagi keluarga. Menurutnya, masyarakat Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang yang mampu membantu para lansia tetap aktif, produktif dan menikmati  masa tua dengan bermartabat.

Ia membayangkan sebuah tempat di mana para lansia dapat mengikuti berbagai kegiatan sesuai minatnya, seperti bermusik, melukis, memasak, berkebun, menjahit, berolahraga, atau sekadar berbincang dengan teman sebaya. Di tempat yang sama tersedia pula layanan konsultasi kesehatan, edukasi keluarga, hingga pemantauan kondisi neurologis secara berkala.

”Lansia bukan hanya membutuhkan pengobatan. Mereka juga membutuhkan aktivitas yang membuat otaknya tetap aktif, tubuhnya tetap bergerak, dan hatinya tetap bahagia,” tambahnya.

Ditekankan dr. Asnel, menjaga kualitas hidup tidak bisa dimulai ketika seseorang sudah jatuh sakit. Upaya tersebut harus dilakukan sejak dini melalui gaya hidup sehat, aktivitas fisik, stimulasi otak, serta lingkungan sosial yang mendukung. Karena itulah, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pengabdiannya sebagai dokter.

Ia kerap membaca dan mengamati layanan lansia di luar negri dan ingin ia terapkan di tanah air. Pada tahun 2013 di tahun yang sama iaya melahirkan anak keduanya, ia di terima Program Fellowship di salah satu universitas di Singapura bersama salah satu profesor ahli Demensia. Namun kesempatan itu ia lepaskan karena memilih untuk mendampingi buah hatinya yang masih bayi dan balita. “Saya percaya, kalau memang Allah mengizinkan, kesempatan itu akan datang pada waktu yang paling tepat”, ujarnya yang masih penasaran belajar ke luar negri terutama di bidangnya.

Di balik berbagai mimpi tersebut, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah. Dalam setiap langkah penting, dr. Asnel selalu memulai dengan doa. Ia meyakini bahwa keberhasilan bukan semata hasil kerja keras manusia, tetapi juga buah dari pertolongan Allah SWT, restu orang tua, dukungan suami, serta doa anak-anak dan keluarga.

Bagi dr. Asnel, melalui pelayanan Neurologi yang humanis, dedikasi mengembangkan ilmu Neurodegeneratif bukan hanya menghadirkan layanan terbaik bagi lansia agar selalu sehat, mandiri, berkualitas, bermartabat dan penuh harapan, namun menjadi ladang ikhtiarnya dalam mencari pahala.