MajalahInspiratif.com, Jakarta – Kemajuan teknologi terus bergerak begitu cepat. Namun, di tengah perubahan zaman, Dr. H. Komarudin Kudiya, S.IP., M.Ds., memiliki keyakinan bahwa batik tidak akan pernah kehilangan tempatnya, selama manusia tetap menjaga jiwa yang terkandung di dalam setiap helai kainnya. Berbekal ilmu pengetahuan, inovasi dan semangat berbagi, ia membuktikan bahwa tradisi dan teknologi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan untuk menjaga masa depan batik Indonesia.
Tak banyak orang yang mampu mengabdikan hampir seluruh perjalanan hidupnya untuk satu bidang. Namun, itulah jalan yang ditempuh Dr. H. Komarudin Kudiya, S.IP., M.Ds dalam industri batik. Karena baginya, batik bukan sekadar profesi atau sumber penghidupan. Batik telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara berpikir, berkarya, sekaligus mengabdi kepada masyarakat.

Bahkan, di balik kiprahnya sebagai pendiri Rumah Batik Komar, dosen, penulis, peneliti, inovator, hingga Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), ia mendedikasikan lebih dari dua dekade perjalanan hidupnya untuk menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan batik Indonesia kepada generasi masa depan.
Warisan Lima Generasi. Kecintaan sosok bersahaja yang akrab disapa Komar ini, terhadap batik bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Tradisi membatik telah mengalir dalam keluarganya selama lima generasi, mulai dari canggah, buyut, nenek, ibu, hingga dirinya. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan canting, malam dan lembaran kain yang perlahan berubah menjadi karya penuh makna.
Bahkan, Komar masih sempat belajar langsung dari buyutnya yang tetap membatik hingga usia lebih dari seratus tahun. Dari merekalah ia mengenal berbagai motif klasik Cirebon, sekaligus belajar bahwa membatik bukan hanya soal keterampilan, melainkan tentang kesabaran, ketelitian dan kecintaan terhadap budaya.
Meski lahir dari keluarga pembatik, Komar tidak ingin sekedar mengandalkan warisan. Ia memilih memperkuat pengalaman tersebut melalui pendidikan formal. Setelah menyelesaikan pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, ia melanjutkan studi Magister hingga Doktor di bidang Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.
“Batik memang sudah mengalir dalam darah saya. Tetapi saya merasa itu belum cukup. Saya harus belajar agar batik bisa terus berkembang mengikuti zaman,” tuturnya.
Bekal akademik itulah yang kemudian membentuk cara pandang Komar. Baginya, batik bukan sekadar produk budaya, tetapi perpaduan antara seni, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi kreatif, hingga pemberdayaan masyarakat.

Lahirnya Batik Komar. Perjalanan membangun Rumah Batik Komar dimulai pada tahun 1998. Namun jauh sebelum menggunakan nama tersebut, Komar lebih dahulu merintis usaha batik dengan nama Batik Vitaloka.
Titik balik perjalanan itu terjadi saat ia berhasil meraih Juara I Lomba Desain Selendang Batik Internasional. Prestasi tersebut membuka jalan untuk bertemu dengan berbagai tokoh nasional yang kemudian memberikan banyak masukan mengenai arah pengembangan usahanya.
Atas saran sejumlah tokoh, termasuk Prof. Dwi Kartini dari Universitas Padjadjaran yang menjadi salah satu dosennya di Universitas Padjadjaran, Komar akhirnya memutuskan menggunakan nama Rumah Batik Komar sebagai identitas yang melekat hingga sekarang.
Sejak saat itu, Rumah Batik Komar terus berkembang, bukan hanya sebagai tempat memproduksi batik, tetapi juga menjadi ruang lahirnya berbagai inovasi. Di tempat inilah riset desain, pengembangan motif, pendidikan, dokumentasi, hingga pengembangan sumber daya manusia berjalan berdampingan.
Bagi Komar, keberhasilan sebuah usaha tidak cukup hanya diukur dari banyaknya produk yang terjual. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat melalui usaha tersebut.
Batik Berbasis Riset. Berbeda dengan kebanyakan perajin batik yang mengawali proses berkarya dari sebuah gambar atau inspirasi yang muncul begitu saja, Komar justru memulai semuanya dari riset. Baginya, sebuah motif tidak cukup hanya indah dipandang, tetapi juga harus memiliki cerita, makna dan alasan mengapa motif tersebut diciptakan.
“Sebelum membuat desain batik, saya mengawalinya dengan studi literasi. Misalnya ingin membuat motif Jakarta, ya saya pelajari dulu sejarah, budaya, tradisi, arsitektur, sampai simbol-simbol yang menjadi ciri khas daerah setempat. Setelah itu baru masuk ke studi bentuk, membuat sketsa, menyusun komposisi, lalu menentukan teknik produksinya,” jelas Komar.
Menurutnya, tahapan tersebut sangat penting agar setiap motif memiliki identitas yang kuat. Tidak sekadar menjadi gambar yang menarik, tetapi juga mampu merepresentasikan budaya yang melatarbelakangi.
Cara berpikir itulah yang kemudian melahirkan ratusan motif khas Rumah Batik Komar. Inspirasinya pun datang dari berbagai hal, mulai dari kekayaan budaya Nusantara, flora, fauna, hingga fenomena alam dan perkembangan ilmu pengetahuan. “Batik tanpa narasi akan terasa kosong. Setiap motif harus punya cerita supaya orang yang memakainya juga memahami nilai yang ada di balik kain tersebut,” ujarnya.
Selama hampir tiga dekade berkarya, Komar telah mendokumentasikan lebih dari 10.000 desain batik. Sekitar 150 di antaranya telah memperoleh perlindungan Hak Cipta, sementara ribuan cap batik yang dikembangkannya menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan ragam hias Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.

Menjaga Keaslian Batik. Di tengah maraknya tekstil bermotif batik yang beredar di pasaran, Komar mengaku prihatin karena masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara batik asli dengan kain bercorak batik hasil cetak atau batik printing. Padahal, menurutnya, perbedaan keduanya sangat mendasar.
“Kalau tidak menggunakan lilin panas dalam proses pembuatannya, jangan disebut batik. Itu namanya tekstil bermotif batik. Batik harus melalui proses pembatikan menggunakan malam atau lilin panas sebagai perintang warna,” tegasnya.
Karena itu, ia terus mengedukasi masyarakat agar lebih mengenal proses pembuatan batik. Baginya, ketika masyarakat memahami proses di balik selembar kain batik, mereka akan lebih menghargai karya para pembatik yang membutuhkan ketelatenan, keterampilan, dan waktu yang tidak singkat.
Harapan Komar kepada pemerintah pun sederhana. Ia ingin produk tekstil bermotif batik diberi pelabelan yang jelas di berbagai platform penjualan, sehingga masyarakat dapat membedakan mana batik asli dan mana tekstil bermotif batik.
“Masyarakat harus tahu mana batik asli dan mana tekstil bermotif batik. Dengan begitu mereka bisa memilih dengan sadar sekaligus menghargai karya para pembatik,” ujarnya.
Menurut Komar, membeli selembar batik asli bukan sekadar membeli kain. Di baliknya ada banyak tangan yang ikut bekerja dan menggantungkan hidup, mulai dari perancang motif, pembatik, pewarna, penjahit, hingga para pelaku usaha yang menjadi bagian dari rantai industri batik.
“Batik bukan sekadar kain. Di dalamnya ada ilmu, budaya, kehidupan dan jiwa. Selama itu terus kita jaga, saya yakin masa depan batik Indonesia akan tetap cerah,” katanya.
Bottom of Form
Kolaborasi Tradisi dan Teknologi. Meski dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga tradisi, Komar bukanlah pribadi yang anti terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, ia justru menjadi salah satu tokoh yang aktif mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung perkembangan industri batik.
Berbagai inovasi pun lahir dari tangannya. Mulai dari pengembangan mesin Pendulum Batik atau Ayunan Semesta, sistem pengolahan limbah batik (ALIMBa), hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses eksplorasi desain.
Namun, di balik semua inovasi tersebut, Komar tetap memiliki satu batas yang tidak boleh dilanggar. “Teknologi hanya alat bantu. AI bisa membantu mencari inspirasi, tetapi yang memberi makna tetap manusia. Karena sejatinya mesin tidak punya rasa, tidak punya hati, tidak punya jiwa,” ungkapnya.
Menurut Komar, secanggih apa pun teknologi berkembang, sentuhan manusia akan tetap menjadi ruh dalam proses membatik. Sebab, batik bukan sekadar menghasilkan motif, melainkan juga menghadirkan nilai budaya, filosofi, bahkan doa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itulah, ia melihat perkembangan AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang. Generasi muda justru perlu memanfaatkan teknologi untuk memperkaya kreativitas. Namun, sebelum menggunakan AI, mereka harus terlebih dahulu memahami sejarah batik, filosofi motif, hingga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. “Kalau hanya bisa membuat prompt AI tanpa memahami batik, hasilnya hanya gambar yang indah. Tetapi belum tentu memiliki jiwa batik,” ujarnya.
Cetak Generasi Pembatik. Komar menyadari, tantangan terbesar dunia batik saat ini bukan hanya persoalan pasar, tetapi juga regenerasi. Tak sedikit anak muda yang menganggap membatik adalah pekerjaan kuno, sulit, bahkan tidak menjanjikan. Padahal, menurutnya, batik memiliki peluang yang sangat besar apabila dikembangkan dengan kreativitas dan sentuhan teknologi.
Karena itulah, melalui berbagai organisasi yang dipimpin, Komar terus mengajak generasi muda untuk lebih dekat dengan batik. Ia tercatat aktif di Yayasan Batik Indonesia sejak tahun 2001. Kemudian pada tahun 2008 mendirikan Yayasan Batik Jawa Barat yang berhasil mendorong lahirnya sentra batik di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Selanjutnya, pada tahun 2017, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).
Lewat organisasi tersebut, berbagai program pelatihan, pendampingan, pameran, hingga pembinaan perajin terus dilakukan secara berkelanjutan. “Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal untuk melahirkan sebuah inovasi, kita harus benar-benar turun ke lapangan, mendengar kebutuhan para perajin, memahami persoalannya, baru kemudian mencari solusi,” jelasnya.
Menurut Komar, regenerasi tidak cukup hanya mengajarkan cara memegang canting. Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan rasa bangga terhadap batik sejak usia dini. “Kalau anak-anak sudah bangga memakai batik, senang belajar membatik dan tahu bahwa batik itu keren, saya yakin masa depan batik Indonesia akan tetap terjaga,” ucapnya mantap.
Sharing Ilmu dan Pengalaman. Bagi sebagian orang, ilmu merupakan bekal untuk meraih kesuksesan. Namun bagi Komar, ilmu justru memiliki makna yang lebih luas. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk membagikannya kepada orang lain.
Prinsip itulah yang terus ia pegang hingga sekarang. Di tengah kesibukannya mengelola Rumah Batik Komar, mengembangkan berbagai inovasi, hingga memimpin organisasi batik, Komar juga dikenal sebagai salah satu dosen di Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung.
Selain itu, Komar juga kerap berkeliling daerah di Indonesia untuk memberikan pelatihan membatik kepada masyarakat. “Sejak tahun 2001 saya sudah mulai mengajar membatik. Dari Riau, Sumatera Barat, Solo, Jambi, sampai tiga tahun terakhir rutin ke Papua. Saya merasa ini memang menjadi tanggung jawab kami sebagai pelaku batik untuk terus berbagi ilmu,” tuturnya.
Ia bahkan tak khawatir kegiatan berbagi ilmu dan pengalaman tersebut kelak melahirkan pesaing baru. Baginya, semakin banyak orang yang mampu membatik, maka semakin besar pula peluang batik Indonesia untuk berkembang.
“Kalau ada yang berpikir mengajari orang lain akan mengurangi rezeki kita, menurut saya itu keliru. Rezeki sudah diatur Allah. Yang penting kita terus berkarya dan berbagi ilmu. Itu yang akan menjadi amal jariyah,” ungkapnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan pentingnya melindungi hasil karya melalui hak kekayaan intelektual. Setiap inovasi, motif, maupun merek sebaiknya didaftarkan agar memiliki perlindungan hukum yang jelas. Baginya, berbagi ilmu dan menjaga karya bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan agar industri batik terus tumbuh secara sehat.
Perjuangan Komar melestarikan batik belum selesai. Bahkan pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, tak menghentikan langkahnya. Justru pengakuan tersebut menjadi amanah agar seluruh masyarakat Indonesia ikut menjaga, mencintai, dan melestarikannya.
Karena itu, setiap pelatihan yang ia berikan tidak hanya mengajarkan teknik membatik. Lebih dari itu, Komar juga mengajak para peserta memahami filosofi, sejarah, hingga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam setiap motif batik. “Kalau generasi muda tidak dikenalkan sejak sekarang, siapa lagi yang akan melanjutkan batik Indonesia nanti?” ujarnya.
Menembus Pasar Dunia. Ketekunan Komar dalam melakukan riset ternyata tidak hanya melahirkan karya-karya batik yang sarat makna. Lebih dari itu, pendekatan tersebut juga mengantarkan Rumah Batik Komar menembus pasar internasional.
Namun, menurut Komar, keberhasilan menembus pasar luar negeri bukan berarti memaksakan budaya Indonesia diterima begitu saja. Justru sebaliknya, seorang perancang batik harus terlebih dahulu memahami budaya negara yang dituju.
“Kalau ingin ekspor, jangan memaksakan semua motif tradisional kita dipakai masyarakat luar negeri. Kita harus mempelajari budaya mereka, apa yang mereka sukai, simbol apa yang dekat dengan kehidupan mereka,” jelasnya.
Prinsip itulah yang selama ini ia terapkan. Untuk pasar Jepang misalnya, Rumah Batik Komar telah dipercaya memproduksi kain kimono dan obi selama hampir 12 tahun. Menariknya, masyarakat Jepang justru lebih menyukai motif-motif batik khas Indonesia dibandingkan motif bergaya Jepang.
“Beberapa kali kami mencoba membuat motif bergaya Jepang, tetapi kurang diminati. Mereka justru ingin memakai kimono dengan sentuhan batik Indonesia. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujarnya.
Sementara untuk pasar Amerika Serikat, Komar memilih pendekatan yang berbeda. Ia melakukan riset terhadap budaya masyarakat setempat, kemudian menerjemahkannya ke dalam motif-motif batik yang lebih dekat dengan karakter pasar di sana.
Baginya, desain merupakan bahasa universal. Ketika seorang desainer mampu memahami budaya masyarakat yang dituju, maka sebuah karya akan lebih mudah diterima. “Kalau sudah terbiasa melakukan riset, proses mempelajari karakter sebuah negara tidak membutuhkan waktu lama. Semua sudah ada metodenya,” tambahnya.
Hadapi Tantangan. Di balik perjalanan panjang Rumah Batik Komar, tentu tidak semua berjalan mulus. Berbagai tantangan terus datang silih berganti, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Komar, tantangan terbesar justru berasal dari faktor eksternal. Mulai dari kondisi ekonomi global, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, kenaikan harga bahan baku akibat konflik geopolitik, hingga menurunnya daya beli masyarakat. “Bahan baku batik banyak yang berasal dari turunan minyak bumi, seperti malam atau parafin. Ketika harga minyak naik, otomatis biaya produksi juga ikut meningkat,” jelasnya.
Meski tak bisa menghindari rintangan, Komar terus berupaya untuk menjaga eksistensi batik, Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap para pelaku batik, beberapa waktu lalu APPBI juga menggelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara yang mempertemukan perajin, pengusaha, akademisi, komunitas, pemerintah, hingga masyarakat dalam satu ruang apresiasi.
Komar berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda rutin yang mendapat dukungan lebih besar dari berbagai pihak. “Bagi kami, pameran bukan hanya tempat berjualan. Pameran adalah ruang edukasi, ruang silaturahmi, sekaligus ruang untuk memperkenalkan batik asli kepada masyarakat,” tambahnya.
Menulis sebagai Warisan Pengetahuan
Selain mengajar, Komar juga aktif menulis. Hingga kini, ia telah menghasilkan sedikitnya 23 buku yang membahas berbagai aspek dunia batik, mulai dari teknik produksi, pewarnaan, makna filosofi, batik klasik, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pengembangan desain batik.
Aktivitas menulis menjadi salah satu caranya mendokumentasikan pengetahuan agar tidak hilang bersama perjalanan waktu. “Ilmu itu harus ditinggalkan dalam bentuk karya. Kalau hanya disimpan di kepala, suatu saat bisa hilang. Tetapi kalau ditulis, akan terus bisa dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Semangat yang sama juga ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir setiap selesai menunaikan salat Subuh, Komar memanfaatkan waktu paginya untuk menulis buku, jurnal ilmiah, maupun menyusun berbagai gagasan baru sebelum memulai aktivitas lainnya.
Baginya, produktivitas bukan ditentukan oleh banyaknya waktu yang dimiliki, melainkan oleh komitmen untuk terus berkarya. “Selama kita punya komitmen, insya Allah semuanya bisa dijalankan,” ucapnya.
Berbagi Menjadi Budaya Perusahaan
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Komar tetap berusaha mempertahankan budaya berbagi yang telah lama diterapkan di Rumah Batik Komar.
Setiap ada rombongan pelajar atau masyarakat yang ingin belajar membatik, ia selalu berusaha memberikan kemudahan. Bahkan untuk anak-anak sekolah di sekitar lingkungan usahanya, kegiatan belajar membatik sering kali diberikan secara cuma-cuma.
“Kalau mereka datang untuk belajar, sebisa mungkin kami bantu. Anak-anak itu harus dikenalkan dengan batik sejak dini. Insya Allah rezekinya akan Allah gantikan dari jalan yang lain,” tuturnya.
Prinsip yang sama juga ia terapkan kepada para karyawannya. Saat pandemi melanda dan kondisi usaha mengalami penurunan, Komar memilih mempertahankan sebanyak mungkin tenaga kerja yang telah lama mengabdi bersamanya.
Meski jumlah karyawan sempat berkurang dari sekitar 300 orang menjadi 150 orang, keputusan tersebut lebih banyak dilakukan melalui penyesuaian pekerjaan, bukan sekadar pemutusan hubungan kerja. “Saya berusaha mempertahankan orang-orang yang sudah puluhan tahun bersama kami. Kalau nanti kondisi usaha kembali membaik, mereka akan kami panggil lagi, imbuhnya.
Baginya, keberhasilan sebuah usaha bukan hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari seberapa banyak kehidupan yang dapat ikut bertumbuh bersama perusahaan.
Tak hanya peduli kepada manusia, Komar juga memberikan perhatian besar terhadap lingkungan. Ia mengembangkan ALIMBa, sebuah sistem pengolahan limbah batik yang dirancang untuk meminimalkan dampak proses produksi terhadap lingkungan sekitar. “Batik memang warisan budaya, tetapi proses produksinya juga harus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Jangan sampai kita melestarikan budaya, tetapi merusak alam,” tekan sosok yang juga akrab dengan dunia pondok pesantren ini.
Regenerasi Dimulai dari Keluarga
Di balik kiprah Komar yang begitu aktif mengembangkan dunia batik, ada keluarga yang selama ini menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya. Sang istri, Nuryanti Widya, juga berasal dari keluarga pembatik. Dukungan itulah yang membuat perjalanan Rumah Batik Komar terus bertahan hingga sekarang.
“Alhamdulillah, istri saya selalu mendukung. Bahkan beliau juga berasal dari keluarga pembatik. Jadi kami memiliki semangat yang sama untuk menjaga batik,” tutur Komar.
Semangat tersebut kemudian ditanamkan kepada keempat anaknya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Komar tidak pernah memaksa anak-anaknya menjadi pembatik, tetapi ia ingin mereka mengenal dan mencintai batik terlebih dahulu.
Seiring bertambahnya usia, masing-masing anak memilih jalan yang berbeda. Ada yang mendalami desain tekstil, ada yang mengembangkan inovasi teknologi batik, hingga ada yang dipercaya memimpin perusahaan.
Menurut Komar, regenerasi bukan sekadar mewariskan usaha, melainkan juga mewariskan nilai-nilai kehidupan. “Anak-anak bebas berkarya, bebas membuat brand sendiri. Tetapi Rumah Batik Komar tetap harus dijaga bersama. Saya ingin mereka meneruskan perjuangan ini dengan caranya sendiri,” katanya.
Berani Melepaskan Tongkat Estafet
Komar memahami bahwa sebuah perusahaan tidak boleh bergantung pada satu orang. Karena itu, sejak awal 2026 ia memberikan kepercayaan kepada putra keduanya, Nauval Mirrah Makareem, untuk memimpin Rumah Batik Komar sebagai Chief Executive Officer (CEO).
Keputusan tersebut bukanlah langkah yang mudah. Namun bagi Komar, setiap pemimpin harus berani memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk tumbuh.
“Kalau anak melakukan kesalahan, ya saya ingatkan. Kami berdiskusi bersama. Mereka harus belajar mengambil keputusan, karena suatu hari nanti mereka yang akan melanjutkan perjuangan ini.”
Kini, perannya lebih banyak sebagai mentor, pendamping, sekaligus penjaga nilai-nilai yang selama puluhan tahun dibangun di Rumah Batik Komar. Baginya, regenerasi bukan berarti kehilangan peran, melainkan bentuk kepercayaan kepada generasi penerus untuk membawa batik melangkah lebih jauh.
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @batikkomar





