MajalahInspiratif.com, Jakarta – Bagi Dinda Dwimanda, kesuksesan tidak pernah diukur dari panjangnya daftar jabatan atau besarnya angka dalam rekening. Di balik berbagai peran yang dijalaninya sebagai dosen komunikasi, womenpreneur, business coach, konsultan branding, hingga pendamping UMKM, perempuan kelahiran Jakarta, 29 Mei 1993 ini justru memegang prinsip hidup yang sederhana namun bermakna: mudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusan kita.
Prinsip itulah yang mengantarkannya melangkah dari ruang redaksi media, dunia korporasi, perusahaan multinasional, startup, hingga akhirnya menemukan panggilan hidup sebagai pendidik dan pemberdaya masyarakat. Baginya, setiap pengalaman bukanlah lompatan karier yang saling terpisah, melainkan potongan-potongan perjalanan yang membentuk satu benang merah: komunikasi sebagai jalan untuk menciptakan perubahan.

“Yang saya cari bukan validasi. Saya hanya ingin hadir dan memberi manfaat sebanyak yang saya bisa,” ujarnya.
Berawal dari Dunia Media. Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sahid ini mengawali karier sebagai reporter di sejumlah stasiun televisi lokal sebelum bergabung dengan Kompas TV pada masa-masa awal berdirinya. Dunia jurnalistik memberinya kesempatan untuk bertemu beragam karakter, memahami persoalan masyarakat, sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi secara langsung di lapangan.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya memasuki dunia korporasi. Ia pernah berkarier di Astra International Holding Company, bergabung dengan Top Karir Indonesia yang merupakan platform pencari kerja untuk anak muda Indonesia dalam program kerja sama bersama Kementerian Pendidikan untuk mendorong penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah, hingga melanjutkan karier di Wall Street English. Beragam pengalaman itu memperkaya sudut pandangnya tentang dunia bisnis, sumber daya manusia, komunikasi organisasi, dan pengembangan masyarakat.
Meski berpindah dari satu bidang ke bidang lain, Dinda menyadari bahwa seluruh perjalanannya sesungguhnya masih berada dalam jalur yang sama.
“Kalau dilihat, sebenarnya saya tidak pernah benar-benar keluar dari dunia komunikasi. Bentuk pekerjaannya boleh berubah, tetapi inti pekerjaannya tetap bagaimana membangun hubungan, menyampaikan pesan, dan membantu orang berkembang.”

Komunikasi yang Berakar pada Empati
Menariknya, komunikasi bukanlah pilihan pertama yang diimpikannya. Sejak remaja, Dinda justru ingin menempuh pendidikan Psikologi. Namun kesempatan beasiswa membawanya masuk ke Jurusan Ilmu Komunikasi.
Alih-alih mengubur mimpinya, ia justru memadukan keduanya. Selama kuliah hingga setelah lulus, ia memperdalam psikologi komunikasi melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi. Bekal itulah yang kemudian membentuk pendekatannya sebagai dosen maupun business coach.
Sebagai dosen praktisi, Dinda tidak hanya mengajar teori. Ia membawa pengalaman nyata dari dunia media, korporasi, hingga bisnis ke dalam ruang kelas. Ia juga membuka ruang konsultasi bagi mahasiswa yang membutuhkan teman berdiskusi, baik mengenai akademik, pengembangan diri, maupun kesiapan menghadapi dunia kerja.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membangun kepercayaan diri dan karakter.
“Percuma seseorang pintar kalau tidak mampu berkomunikasi. Sebaliknya, komunikasi yang baik juga harus dibarengi dengan attitude. Tiga hal yang menurut saya harus dimiliki generasi muda adalah kompetensi, komunikasi, dan sikap.”
Menemukan Makna dalam Pemberdayaan UMKM
Pandemi menjadi titik balik perjalanan kariernya. Setelah sempat mengembangkan bisnis kuliner, Dinda memutuskan kembali fokus pada bidang yang paling dicintainya: komunikasi, pengembangan SDM, dan pemberdayaan.
Keputusan itu membuka jalan baru. Sejak 2023, ia dipercaya menjadi pendamping Program Wirausaha Baru Pemerintah Kota Depok. Setahun kemudian, Miss Dinda dan Pemkot Depok bersinergi mendampingi UMKM bersama 27 Kota Kabupaten Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Di lapangan, ia menemukan bahwa persoalan terbesar UMKM sering kali bukan kualitas produk, melainkan bagaimana memperkenalkan produk tersebut kepada pasar.
“Banyak produk UMKM sebenarnya luar biasa. Rasanya enak, kualitasnya bagus, desainnya menarik. Tetapi orang tidak mengenalnya. Karena itu saya selalu mengajarkan bahwa branding harus dibangun terlebih dahulu, kemudian marketing, baru selling.”
Pendampingan yang dilakukannya tidak hanya membahas strategi bisnis. Tak jarang, para pelaku UMKM datang membawa persoalan pribadi, kehilangan semangat, hingga kebingungan menghadapi tekanan hidup. Di situlah Dinda merasa perannya jauh lebih luas daripada sekadar seorang mentor bisnis.
“Banyak yang datang bukan hanya bertanya soal usaha. Ada yang bercerita tentang keluarga, kehilangan semangat, bahkan ingin menyerah. Kadang yang mereka butuhkan bukan jawaban, tetapi seseorang yang mau mendengarkan.”
Selain itu, Miss Dinda juga banyak memberikan kontribusi nyata dalam organisasi BPC HIPMI Kota Depok. Sejak 2023 hingga kini, ia juga menjadi mitra strategis pemerintah dan para stakeholder di Kota Depok

Membangun Ekosistem Bertumbuh
Semangat memberdayakan itu kemudian diwujudkan melalui Miss Dinda Development Academy (MDDA), wadah yang menaungi berbagai program pelatihan komunikasi, public speaking, personal branding, pengembangan SDM, hingga pendampingan UMKM.
Bersama DDW Labs Indonesia dan sejumlah unit usaha lain yang dikembangkannya, Dinda berusaha membangun sebuah ekosistem yang saling terhubung. Ada yang bergerak di bidang kreatif, teknologi, pelatihan, hingga pengembangan talenta. Semuanya dirancang dengan tujuan yang sama, yakni membantu individu maupun pelaku usaha agar mampu bertumbuh secara berkelanjutan.
Baginya, bisnis bukan hanya soal keuntungan, melainkan ruang untuk menciptakan manfaat yang lebih luas.
“Saya selalu menyisihkan waktu untuk melakukan ‘CSR kehidupan’. Tidak harus selalu dalam bentuk materi. Kadang ilmu, waktu, dan perhatian juga bisa menjadi bentuk kontribusi.”
Integritas sebagai Warisan Terbesar
Di balik semangatnya berkarya, Dinda menyimpan pesan yang selalu diingat dari sang ayah. Jangan mencari validasi. Bekerjalah dengan jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab.
Pesan sederhana itu terus menjadi kompas dalam setiap langkahnya, bahkan setelah ayah dan kakak perempuannya berpulang. Baginya, keberhasilan tidak akan pernah berarti jika harus mengorbankan nilai-nilai yang diyakini.
Karena itulah, di mana pun ia berada, baik sebagai dosen, konsultan, maupun pengusaha, ia selalu berusaha menjadi teladan bagi orang-orang yang mempercayainya.
“Saya membawa nama baik profesi saya ke mana pun. Mahasiswa melihat saya bukan hanya saat mengajar di kelas, tetapi juga bagaimana saya menjalani hidup.”
Merdeka Berkarya, Merdeka Bertanggung Jawab
Bagi Dinda, perempuan memiliki hak yang sama untuk terus berkembang dan berkarya. Namun kemerdekaan itu, menurutnya, bukan berarti menyaingi laki-laki.
Ia meyakini bahwa perempuan perlu memiliki kemandirian finansial agar mampu bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, sekaligus tetap memahami peran dan nilai-nilai yang dimilikinya.
“Perempuan berpenghasilan tinggi bukan untuk mengecilkan laki-laki. Itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.”
Lebih jauh, ia memaknai kemerdekaan sebagai kemampuan menerima diri sendiri, mengenali batas kemampuan, dan tidak lagi sibuk membandingkan hidup dengan orang lain.
“Jadilah versi terbaik diri sendiri. Jangan terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain. Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan, lalu maksimalkan potensi yang kita miliki.”
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, pelaku usaha, pengurus organisasi, dan pendamping UMKM, Dinda masih menyimpan satu mimpi yang belum selesai: terus belajar, terus bertumbuh, dan terus menghadirkan ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Sebab pada akhirnya, menurutnya, pencapaian terbesar bukanlah ketika seseorang berhasil mencapai puncak, melainkan ketika kehadirannya mampu menjadi jalan bagi orang lain untuk ikut bertumbuh.





