MajalahInspiratif.com, Jakarta – Investasi terbaik adalah ilmu, koleksi terbaik adalah pengalaman. Jangan takut mencoba, selalu belajar dan terus bertumbuh. Pernyataan ini bukan sekadar jargon motivasi yang ditempel di dinding ruang seminar. Bagi Yustinus Dwi Atmojo, kalimat tersebut merupakan ringkasan dari perjalanan hidup yang penuh liku dari seorang analis kesehatan yang berpindah-pindah profesi, terjebak dalam jerat investasi bodong, hingga akhirnya berdiri sebagai eksportir, trainer, dan pendiri lembaga pendidikan yang menginspirasi ribuan pelaku UMKM.
Kisah Mas Yust, sapaan akrab kelahiran Wonogiri, 10 Desember 1975 ini tidak dimulai dari garis start seorang pengusaha. Ia mengawali kariernya sebagai analis kesehatan, lalu berpindah menjadi sales alat kesehatan, marketing, sampai produk spesialis. Titik baliknya datang ketika ia tanpa sengaja menghadiri sebuah seminar motivasi dan kewirausahaan. Seminar itu membuka mindset yang selama ini terkunci.

“Saya memulai usaha dengan modal minim, bimbingan belajar rumahan, dari 2008 dan bertahan hingga sekarang”
Jalan yang ditempuh jauh dari mulus. Sistem kemitraan yang pernah dijalankan berhenti sekejap setelah dihantam pandemi. Di tengah upaya bangkit, semangat untuk berinvestasi justru membawanya ke jurang lain. Minimnya literasi keuangan membuatnya sempat terjebak dalam investasi bodong dan bisnis yang tidak jelas arahnya.
Namun di titik itu karakternya diuji dan justru menemukan strategi yang sesungguhnya. Strategi itu ia praktikkan sungguh-sungguh hingga berhasil mengekspor produk furnitur, permen jahe, kerajinan, aneka snack, sayuran segar, rempah-rempah, hingga kopi ke pasar internasional.
Mengubah Luka Finansial Menjadi Misi Pendidikan
Pengalaman ekspor dengan nilai transaksi besar tidak membuat Mas Yust berhenti belajar. Justru dari sana lahir komitmen untuk membereskan persoalan finansial yang bermula dari ketidaktahuan. Ia sadar betul bahwa pendidikan adalah kunci, sehingga ia melanjutkan kuliah S1 Manajemen dan S2 Magister Manajemen Sumber Daya Manusia sambil terus menjalankan bisnis.
Pahit dan getir dalam berusaha ia rangkum menjadi cerita panjang yang menginspirasi dan menyemangati banyak pelaku UMKM. Akhirnya kisahnya menjadi materi training yang selalu dinanti. Dedikasinya diganjar penghargaan sebagai Tokoh Pendamping UMKM dan Pemberdayaan Masyarakat Jawa Tengah pada 2021, tepat di tengah pandemi, saat keterbatasan justru tidak menyurutkan langkahnya mendampingi UMKM. Pencapaian itu berlanjut hingga ia terpilih sebagai Chief Executive Regional Asia Small Business Federation Central Java.

Konsistensi Menjadi Musuh Terbesar Sekaligus Kunci Kemenangan
Lulusan Program Magister Manajemen Sumber Daya Manusia yang menjabat sebagai Direktur Sifa Jaya Sejahtera Trading Company Export, DnA Entrepreneur Academy Training Centre, Training Entrepreneurship & Investasi, Simply Fast Indonesia Learning Centre dan Training Akademis Beasiswa Hunter ini menegaskan bahwa keberanian memulai langkah merupakan syarat mutlak agar sesuatu bisa terjadi, dan konsistensi adalah jembatan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan. Semangat ini yang mendorong Mas Yust mendirikan DnA Entrepreneur Academy, sebuah wadah pelatihan kewirausahaan, investasi, sekaligus circle wirausaha. Baginya, memulai bisnis butuh keberanian dan motivasi, menjalankannya butuh ilmu dan strategi, sementara menjaga konsistensi membutuhkan lingkungan yang mendukung salah satunya dengan komunitas positif.
“Orang memulai usaha takut risiko, padahal justru jika tidak memulai itu sangat berisiko. Padahal tidak ada yang sempurna, mulai dulu, sempurnakan sambil jalan. Niat berbisnis diletakkan sebagai penambah penghasilan, bukan pengganti penghasilan yang justru bisa membebani secara psikologis. Konsistensi sangat dibutuhkan dalam hal ini yang dapat mewujudkan harapan menjadi kenyataan”
Menemukan Bakat Tanpa Memaksakan Kehendak
Lewat Simply Fast Indonesia Learning Center, Mas Yust mengembangkan metode belajar seperti Beasiswa Hunter, Berhitung Cepat, Menghafal Mudah, dan Meringkas Menyenangkan. Program-program ini lahir dari keresahannya melihat bagaimana kesuksesan anak selama ini selalu diukur dari nilai akademis dan ranking semata, seolah anak yang tidak pintar secara akademik tidak punya kesempatan untuk sukses.
“Banyak orang tua ingin anaknya sempurna di semua mata pelajaran, Jika seorang anak unggul dan senang matematika, seharusnya orang tua mendampinginya terus hingga menjadi juara matematika bukan hanya fokus pada kekurangannya di mata pelajaran lain dan memaksakan nilai sempurna di semua bidang. Petakan sukses anak melalui penelusuran bakat dan minat bawaan, pahami keunggulannya, dukung sampai jadi juara”

Mewujudkan Ruang Pendidikan yang Bedampak
Di luar bisnis intinya, Mas Yust dan lembaga yang dipimpin juga aktif memberi ruang bagi UMKM dan generasi muda lewat program pemagangan, kuliah umum di berbagai kampus hingga fasilitas booth pameran gratis bagi UMKM yang ingin membidik pasar internasional. Dengan berbagai banyak peran, sebagai pengusaha, trainer, sekaligus pemimpin lembaga pendidikan, Mas Yust meyakini bahwa manajemen waktu merupakan kunci kemajuan.
“Aset waktu adalah aset dasar yang dimiliki sejak lahir. Ketika kita bijak menggunakannya, kita akan mengalami kemajuan. Saya juga berusaha menciptakan sistem agar usaha dan program-program yang sudah ada dapat tetap berjalan tanpa harus selalu ada di tempat. Namun ia tak pernah berhenti belajar, sebab baginya keluarga, program, usaha, dan tim adalah cerminan dirinya sendiri sebagai sumber inspirasi”
Mas Yust memiliki visi sederhana melalui bisnis ekspor maupun lembaga pelatihannya. Ia memiliki keyakinan dapat membawa Sumber Daya Indonesia ke panggung dunia melalui Sumber Daya Alam yang sama-sama berkualitas, sehingga Indonesia benar-benar dapat diperhitungkan di panggung dunia dan benar-benar menjual value bukan sekedar perang harga. Sejalan dengan harapan besarnya, Master Trainer BNSP dan Industrial Advisor BNSP ini juga berharap dapat berkontribusi secara penuh bersama lini bisnisnya untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang berkualitas.
“Saya berharap dapat menjadi lembaga pendidikan, pelatihan yang memberi kontribusi nyata untuk bangsa karena dampak positif yang tercipta. Tercipta circle wirausaha dengan lingkup internasional yang saling membutuhkan bukan sekedar ketergantungan. Menggunakan digital sebagai tools penunjang bukan penentu penghasilan dan kehidupan”





