MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah kerasnya dunia pertambangan dan konstruksi, Wulandari Harmadi membuktikan bahwa ketangguhan tidak ditentukan oleh gender. Berbekal keberanian untuk terus belajar dan pantang menyerah, ia menapaki berbagai lika-liku kehidupan, mulai dari meninggalkan karier di perbankan, membangun usaha dari nol, menghadapi kegagalan dalam bisnis batu bara, hingga bangkit kembali dengan semangat yang tak pernah padam. Baginya, kesuksesan bukan sekadar tentang materi, melainkan tentang menjadi pribadi yang lebih baik, membahagiakan keluarga dan membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan impian.
Perjalanan Wulandari Harmadi menuju dunia bisnis bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Perempuan kelahiran Tanjung Karang, 3 Juli 1979 ini justru memulai kariernya di sektor perbankan. Berbekal kemampuan membangun relasi dan semangat bekerja yang tinggi, ia meniti karier dari posisi marketing hingga dipercaya menduduki jabatan Head Officer. Dunia perbankan memberinya banyak pelajaran tentang profesionalisme, pelayanan, serta pentingnya membangun kepercayaan.

Namun, pada 2015 ia memutuskan mengundurkan diri atas permintaan sang suami. Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Meski tidak lagi bekerja di kantor, Wulan mengaku tidak pernah bisa menjadi pribadi yang hanya berdiam diri di rumah. Ia tetap aktif mengikuti berbagai komunitas, kajian, hingga forum perempuan pengusaha yang mempertemukannya dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
Mampu Karena Mau. Keinginan untuk terus berkembang mendorongnya mencoba berbagai peluang usaha. Ia pernah menekuni bisnis fashion, kuliner, perdagangan, hingga berbagai usaha skala UMKM. Bagi Wulan, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dipelajari. Selama dilakukan dengan jujur dan memberikan pengalaman baru, semuanya layak dicoba.
Prinsip itulah yang kemudian menjadi bekal penting ketika hidup membawanya menghadapi ujian yang jauh lebih besar. Pada 2022, ia harus menerima kenyataan bahwa rumah tangganya berakhir. Setelah resmi berpisah, Wulan memutuskan hijrah ke Bandar Lampung untuk memulai kehidupan baru.
Alih-alih larut dalam kesedihan, ia justru melihat peristiwa tersebut sebagai kesempatan untuk membangun kembali masa depannya. Pengalaman mendampingi mantan suami yang berkecimpung di industri batu bara membuatnya cukup memahami seluk-beluk bisnis tersebut. Ketika sebuah peluang datang, ia pun memberanikan diri terjun langsung ke sektor pertambangan, sebuah dunia yang selama ini identik dengan laki-laki.
Berawal dari bisnis batu bara, Wulan kemudian ikut mengelola aktivitas pertambangan rakyat, menangani administrasi, dokumen, hingga penjualan batu bara untuk kebutuhan industri maupun ekspor. Ia juga terlibat dalam bisnis perkapalan tongkang dan berbagai aktivitas pendukung pertambangan. Semua dijalaninya dengan satu modal utama, yakni kemauan untuk terus belajar.
Baginya, kemampuan bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Kemampuan dibentuk oleh keberanian untuk mencoba, kesediaan mendengarkan, dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa pun.

Kembali Bangkit. Dunia pertambangan mengajarkan Wulan bahwa keuntungan dan kerugian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari setiap keputusan bisnis. Salah satu ujian terberat datang ketika harga batu bara mengalami penurunan drastis pada 2022 hingga 2023. Padahal ketika itu ia telah menanamkan modal dalam jumlah besar untuk membeli stok batu bara. Walhasil ia terpaksa menjual dengan nilai jauh di bawah harga pembelian. Kerugian yang dialaminya tidak sedikit. Modal yang telah dikumpulkan dengan susah payah nyaris habis dalam waktu singkat.
Situasi tersebut sempat menjadi pukulan berat. Namun, Wulan memilih untuk tidak tenggelam dalam penyesalan. Baginya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi diri dan melangkah dengan lebih bijaksana.
Keyakinan itulah yang membuatnya kembali bangkit. Ia mulai mencari peluang di bidang lain, memperluas jaringan dan perlahan membangun kembali usahanya. Baginya, setiap kegagalan justru memperkaya pengalaman yang kelak menjadi bekal untuk mengambil keputusan dengan lebih matang.
Menembus Batas. Memasuki dunia pertambangan dan konstruksi bukanlah perkara mudah, terlebih bagi seorang perempuan. Di lapangan, Wulan kerap berhadapan dengan lingkungan kerja yang hampir seluruhnya didominasi laki-laki. Tak jarang ia merasakan pandangan yang meragukan kemampuannya hanya karena perbedaan gender.
Namun, pengalaman itu tidak pernah membuatnya gentar. Baginya, rasa hormat tidak lahir dari jenis kelamin, melainkan dari kompetensi, integritas dan hasil kerja yang mampu ditunjukkan. Karena itu, ia memilih membuktikan kualitas dirinya melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata.
”Kalau mereka menganggap saya hanya perempuan, ya tidak apa-apa. Tugas saya adalah menunjukkan bahwa perempuan juga mampu bekerja sama baiknya, bahkan bisa memberikan hasil yang lebih baik,” ujarnya.
Prinsip tersebut membuat Wulan selalu berusaha memahami setiap detail pekerjaan yang dijalaninya. Ia tidak ingin hanya menjadi pemilik usaha yang memberi instruksi dari balik meja. Sebaliknya, ia memilih terjun langsung ke lapangan, mempelajari proses kerja, berdiskusi dengan para pekerja, hingga memahami persoalan yang mereka hadapi.
Karakter itu pula yang membuatnya nyaman berpindah dari satu bidang usaha ke bidang lainnya. Mulai dari perdagangan, kuliner, pertambangan, hingga konstruksi, semuanya dijalani dengan semangat yang sama, yakni belajar. Baginya, setiap bidang memiliki tantangan sekaligus ilmu baru yang akan memperkaya pengalaman hidup.
Meski kini lebih fokus pada sektor konstruksi, Wulan mengaku tidak pernah membatasi dirinya pada satu jenis usaha. Selama melihat peluang yang baik dan dikerjakan secara jujur, ia tidak ragu untuk mempelajarinya.
”Saya memang senang bekerja di lapangan. Di sanalah saya merasa hidup. Bertemu banyak orang, menyelesaikan persoalan, dan belajar hal-hal baru membuat saya terus berkembang,” tambahnya.
Merangkul Sesama. Di balik ketegasan Wulan sebagai pemimpin, ia justru dikenal memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, tetapi juga oleh hubungan baik yang dibangun dengan setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Karena itu, ia tidak pernah memandang seseorang dari jabatan ataupun latar belakang sosial. Baginya, seorang pekerja lapangan memiliki nilai yang sama berharganya dengan seorang pejabat atau mitra bisnis.
Pemandangan Wulan duduk bersama para pekerja menikmati makan siang bukanlah hal yang asing. Ia kerap membeli makanan untuk dinikmati bersama para tukang bangunan, buruh pelabuhan, maupun pekerja proyek. Baginya, kebersamaan sederhana justru menjadi cara terbaik untuk membangun rasa saling percaya.
”Rezeki setiap orang memang berbeda, tetapi saya tidak pernah membeda-bedakan orang. Buat saya, ketika kita menghargai orang lain, mereka juga akan menghargai kita,” cetusnya.
Dalam memimpin, Wulan memegang tiga prinsip sederhana yang selalu ia tanamkan kepada dirinya sendiri maupun orang-orang yang bekerja bersamanya, yakni kemauan untuk terus belajar, kejujuran, dan tanggung jawab. Menurutnya, ketiga nilai tersebut merupakan fondasi yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar keuntungan.

”Kalau kita punya kemauan, kita pasti mau belajar. Kalau sudah belajar, kita tahu bagaimana bekerja dengan benar. Setelah itu tinggal menjaga kejujuran dan bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan,” tekan Wulan.
Filosofi itulah yang membuat Wulan tidak pernah berhenti bertumbuh. Ketika satu usaha mengalami penurunan, ia tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia segera mencari peluang lain, mempelajari bidang baru, dan kembali melangkah dengan optimisme yang sama. Ia percaya bahwa selama seseorang masih memiliki kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan menciptakan keberhasilan berikutnya.
Terus Melangkah. Bagi Wulan, kesuksesan tidak pernah diukur semata-mata dari banyaknya harta yang dimiliki. Ia percaya, rezeki akan selalu mengikuti mereka yang memiliki kemauan, tekad, dan tidak pernah berhenti berusaha. Namun, di atas semua itu, kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang dikelilingi oleh keluarga, anak-anak, sahabat, dan orang-orang baik yang senantiasa hadir memberikan doa, dukungan, dan kekuatan dalam setiap fase kehidupan.
“Mungkin hari ini saya belum menjadi orang yang kaya raya. Tapi saya yakin, selama masih memiliki kemauan dan tekad, saya bisa mencapainya. Hanya saja, bagi saya kekayaan bukan hanya soal harta. Memiliki keluarga, anak-anak, sahabat, dan orang-orang baik di sekeliling saya, itu juga adalah kekayaan yang tak ternilai,” tutupnya.
Tanamkan Kemandirian Kepada Buah Hati
Di balik seluruh perjuangan yang dijalaninya, ada satu alasan yang selalu membuat Wulan memilih bangkit setiap kali terjatuh, yakni keluarga, terutama keempat putranya. Meski kehidupan membawanya pada perpisahan dengan sang suami, ia tidak pernah ingin anak-anaknya tumbuh dengan perasaan kehilangan atau menganggap diri mereka sebagai korban keadaan.
Sebaliknya, ia justru menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai pelajaran yang bisa diwariskan kepada mereka. Baginya, anak-anak tidak cukup hanya diberikan kenyamanan atau materi, tetapi juga harus dibekali karakter, mental yang kuat dan keberanian menghadapi kehidupan. ”Kalau saya bisa meninggalkan sesuatu untuk anak-anak, saya ingin itu bukan hanya materi, tetapi juga nilai-nilai kehidupan,” imbuhnya.
Sejak kecil, Wulan membiasakan putra-putranya untuk berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui kerja keras. Ia tidak ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang mudah bergantung kepada orang lain atau merasa segala sesuatu dapat diperoleh secara instan.
Karena itu, ketika kedua putranya memasuki bangku kuliah, ia justru mendorong mereka untuk mulai bekerja paruh waktu. Bukan karena kebutuhan ekonomi, melainkan agar mereka memahami arti tanggung jawab, menghargai proses dan merasakan kepuasan memperoleh sesuatu dari hasil usaha sendiri.
Nilai-nilai tersebut lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Wulan mengaku pernah merasakan hidup berkecukupan ketika sang ayah masih hidup. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, ia mulai memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung kepada siapa pun.
“Di balik setiap langkah dan perjuangan yang saya jalani, ada doa, kasih sayang, dan dukungan yang tak pernah putus dari orang-orang tercinta. To my wonderful family, thank you for filling my life with love, laughter, and endless support. I wouldn’t be who I am today without you. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk mama saya, Agusni Sulityaningsih, keempat putra saya, Michael Budi Purnomo Junior, Mario Rafael Bimawan, Moreno Ediwibowo, dan Attar Rayan Hadinoto, serta kedua kakak saya, Desi Listyana Sari dan Linia Sari Lintang. Terima kasih juga untuk seluruh sahabat dan teman-teman terbaik yang selalu hadir, mendukung, dan menguatkan saya dalam setiap perjalanan hidup. Love you all, forever,” tutur Wulan, haru.
Impian Membangun Panti Jompo
Kesibukan menjalankan berbagai usaha tidak membuat Wulan menutup mata terhadap lingkungan sekitar. Sejak lama ia aktif mengikuti kegiatan sosial bersama komunitas yang diikuti, mulai dari mengunjungi panti asuhan hingga panti jompo.
Kepeduliannya bahkan diwujudkan dengan mengangkat dua anak kembar yatim piatu sebagai anak asuh. Selama bertahun-tahun, ia membantu memenuhi kebutuhan mereka dan berusaha hadir layaknya seorang ibu.
Bagi Wulan, berbagi tidak selalu harus menunggu menjadi kaya. Sekecil apa pun yang dimiliki, selalu ada ruang untuk membantu orang lain. Ia pun memiliki impian sederhana yang hingga kini masih disimpan. Jika suatu saat diberi rezeki yang lebih, ia ingin mendirikan sebuah panti jompo. Ada kebahagiaan tersendiri setiap kali ia bertemu para lansia yang menurutnya menyimpan begitu banyak cerita dan kasih sayang.
”Saya selalu merasa bahagia kalau bisa berbagi, terutama kepada lansia. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa memiliki panti jompo sendiri,” ucapnya berangan-angan.
Tak Ada Kata Terlambat
Bagi Wulan, kemerdekaan perempuan bukanlah tentang bersaing dengan laki-laki ataupun meninggalkan kodratnya sebagai istri dan ibu. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk berkembang, belajar, berkarya dan menjadi pribadi yang mandiri tanpa kehilangan nilai-nilai yang diyakini.
Menurutnya, perempuan yang bahagia akan lebih mudah menghadirkan energi positif bagi keluarga maupun lingkungan sekitar. Karena itu, ia percaya setiap perempuan berhak memiliki ruang untuk berekspresi dan mengembangkan potensinya.
Ia juga mengajak para perempuan, khususnya mereka yang menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal, agar tidak menggantungkan masa depan kepada orang lain. ”Jangan pernah merendahkan diri hanya karena ingin bergantung pada orang lain. Kalau kita mau belajar dan bekerja keras, kenapa tidak menjadi perempuan yang kuat dengan kemampuan kita sendiri?,” ucapnya, tegas.
Memasuki usia 47 tahun, Wulan tidak merasa dirinya terlambat mengejar impian. Sebaliknya, ia melihat usia sebagai bekal pengalaman yang membuat setiap langkahnya semakin matang. Ia masih memiliki target untuk mengembangkan usaha, memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, serta mewujudkan berbagai mimpi yang selama ini belum sempat diraih.
Di atas semua itu, ia memiliki doa yang sangat sederhana. Bukan semata-mata ingin menjadi perempuan terkaya, melainkan menjadi pribadi yang terus bertumbuh, semakin bijaksana, dan mampu membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang.
”Yang saya minta kepada Allah hanya kesehatan, kebahagiaan dan kesempatan untuk terus belajar. Selama saya masih diberi itu semua, saya yakin masih ada banyak hal baik yang bisa saya lakukan,” pungkasnya.





