MajalahInspiratif.com, Jakarta – Tidak semua pengusaha lahir dari kisah yang mulus. Sebagian ditempa oleh kegagalan yang berulang hingga akhirnya menemukan jalan yang tepat sesuai panggilan hidupnya. Itulah gambaran perjalanan Steven, pengusaha asal Kota Bengkulu yang dikenal sebagai pelaku usaha sektor energi sekaligus Ketua Umum DPP Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI). Perjalanan hidupnya dimulai setelah ia bekerja di sebuah Bank Swasta di wilayah Jakarta Barat sebagai marketing. Pengalaman tersebut menjadi bekal awal dalam memahami dunia usaha, pelayanan, pemasaran dan pentingnya membangun kepercayaan dengan masyarakat.
Kelahiran Bengkulu, 18 Juli 1990 ini memutuskan untuk pulang kembali ke Bengkulu tepat di tahun 2014. Keputusan itu diambil dengan tekad untuk membangun usaha di daerah sendiri. Berbekal pengalaman kerja di perbankan, ia mulai merintis usaha pertama berupa koperasi simpan pinjam yang berlokasi di Desa Suka Makmur, Kecamatan Marga Sakti Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara. Setelah itu, ia juga mendirikan usaha pabrik pengolahan arang cangkang sawit di daerah Pamor Ganda, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara.

Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kedua usaha itu menghadapi banyak tantangan, mulai dari persoalan sumber daya manusia, keterbatasan modal, pinjaman macet, sulitnya mendapatkan suplai bahan baku cangkang sawit, hingga pembayaran dari pembeli yang tidak lancar. Pada akhirnya, kedua usaha tersebut harus berhenti dan ditutup pada tahun 2021.
“Saya melihat fase tersebut sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga. Dari sana saya belajar bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang baik, ketahanan mental, disiplin, jaringan, serta kemampuan membaca risiko”
Kegagalan tidak membuat semangatnya tenggelam. Motivasinya kembali ketika mendapat peluang untuk mendirikan UMKM Pertashop pada tahun 2019. Pertashop pertama berdiri di Desa Suka Baru, Kecamatan Marga Sakti Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara, dan menjadi salah satu dari sembilan Pertashop pertama di Provinsi Bengkulu. Pada tahun 2020, ia mendirikan Pertashop kedua di Desa Air Muring, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara. Selanjutnya, pada tahun 2021 ia kembali mendirikan Pertashop ketiga di Desa Air Putih, Kecamatan Marga Sakti Sebelat, Bengkulu Utara. Akhirnya, pada tahun 2022, ia mendirikan Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia atau HPMPI bersama rekan-rekan pengusaha Pertashop dari berbagai daerah dengan semangat untuk memperjuangkan keberlanjutan usaha Pertashop di Indonesia.
“Saya mulai fokus mempelajari seluk-beluk usaha BBM. Bagi saya, sektor ini sangat menarik karena tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di desa-desa yang membutuhkan akses energi resmi, aman, dan terjangkau”
Dalam perjalanannya, program Pertashop sebagai model bisnis baru ternyata juga memiliki berbagai tantangan, mulai dari persoalan operasional di lapangan, administrasi, regulasi, hingga birokrasi. Persoalan tersebut tidak hanya saya alami sendiri, tetapi juga dirasakan oleh banyak pengusaha Pertashop lain di Bengkulu.

Berangkat dari pengalaman lapangan dan rasa empati terhadap sesama pelaku usaha, ayahanda dari Michelle Stephanie Natalia dan Caitlyn Eleanore Gabriella dipercaya dan ditunjuk sebagai Ketua Pertashop Provinsi Bengkulu oleh forum para pengusaha Pertashop bersama Pertamina Bengkulu pada Februari 2022. Amanah ini menjadi titik awal untuk tidak hanya memikirkan usaha sendiri, tetapi juga ikut memperjuangkan kepentingan dan keberlangsungan usaha para mitra Pertashop lainnya.
Berdirinya Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia menjadi titik penting dalam perjalanan karirnya. Melalui HPMPI, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin usaha, tetapi juga tentang memperjuangkan kepentingan bersama, membangun komunikasi, membuka jejaring, dan mencari solusi bagi banyak orang. Pengalaman bergabung dengan HIPMI dan mengikuti PPNK 180 Lemhannas RI semakin memperkuat cara pandang sebagai pengusaha.
“Titik balik itu bukan hanya satu peristiwa, tetapi rangkaian proses kegagalan yang membentuk mental, peluang Pertashop yang membuka jalan baru, amanah organisasi yang memperluas tanggung jawab, serta pendidikan dan jejaring yang memperkuat kapasitas kepemimpinan. Semua itu membawa saya pada pencapaian saat ini dan menjadi bekal untuk terus melangkah ke depan”
Bangkit dari Kegagalan dengan Keyakinan
Steven mengalami titik balik terbesar dalam perjalanan hidupnya ketika berhadapan dengan kegagalan dalam usaha sebelumnya lalu mendapatkan kesempatan untuk bangkit melalui bisnis Pertashop. Kegagalan koperasi simpan pinjam dan pabrik pengolahan arang cangkang sawit menjadi pengalaman yang tidak mudah, tetapi justru dari sana ia belajar banyak hal tentang arti ketekunan, risiko, tata kelola usaha, dan pentingnya mental yang kuat dalam berbisnis.
Momen yang menjadi titik baliknya ketika ia mendirikan Pertashop pertama pada tahun 2019. Saat itu, ia melihat bahwa usaha ini memiliki potensi besar, bukan hanya sebagai bisnis, tetapi juga sebagai sarana pelayanan energi bagi masyarakat di desa. Ia merasa tertantang untuk benar-benar mempelajari sektor energi, khususnya bisnis BBM, dari dasar hingga memahami berbagai persoalan di lapangan.

“Perubahan regulasi BBM pada April 2022 juga menjadi momentum penting. Saya menyadari bahwa sektor energi sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah, sehingga aspirasi para pengusaha Pertashop perlu disampaikan secara langsung kepada pemangku kebijakan. Hal ini yang kemudian membawa saya bersama rekan-rekan melakukan audiensi ke Istana Presiden pada Agustus 2022”
Inovasi Berbasis Kebutuhan
Inovasi, menurut Steven berangkat dari kebutuhan lapangan. Ia dan tim terus memperbaiki sistem operasional, meningkatkan kedisiplinan administrasi, memperkuat pelayanan, serta mengembangkan peluang usaha di sektor pendukung, seperti transportir BBM dan pengembangan SPBU Kompak.
“Kami juga menekankan pentingnya standar keselamatan, efisiensi, dan kepatuhan. Bagi kami, inovasi tidak selalu harus besar, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas layanan, efisiensi perusahaan, dan kepercayaan masyarakat”
Selain itu, budaya kerja harus dimulai dari keteladanan. Ia selalu menekankan bahwa bisnis energi tidak bisa dijalankan secara sembarangan karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kebutuhan masyarakat.
“Nilai yang kami bangun adalah profesionalisme, integritas, kepatuhan, keselamatan, dan pelayanan. Setiap pekerjaan harus dilakukan sesuai prosedur, transparan, dan penuh tanggung jawab. Dalam sektor energi, kepercayaan adalah modal utama, sehingga pelayanan kepada pelanggan harus benar-benar dijaga”
Mewujudkan Target dan Visi Perusahaan
Visi perusahaan ke depan, ditargetkan Steven agar dapat menjadi perusahaan energi yang profesional, terpercaya, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia berharap dapat memperkuat usaha di sektor energi, baik melalui layanan BBM resmi, distribusi, transportir, maupun pengembangan peluang usaha lain yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat.
Targetnya dengan memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan kualitas layanan, memperluas jejaring kemitraan, dan mengambil peran dalam mendukung pemerataan akses energi. Harapan ke depan, perusahaan tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga ikut berkontribusi bagi pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Menjadi pengusaha bukan hanya tentang membangun perusahaan, tetapi juga tentang memberi manfaat. Semakin besar usaha yang kita bangun, semakin besar pula tanggung jawab kita kepada masyarakat, lingkungan, dan bangsa.
“Saya berharap ke depan semakin banyak pengusaha daerah yang berani tumbuh, berani berkolaborasi, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan nasional. Karena saya percaya, kekuatan ekonomi Indonesia juga tumbuh dari daerah, dari desa, dan dari para pelaku usaha yang terus berjuang dengan semangat, integritas, dan kecintaan kepada negeri” WH





