MajalahInspiratif.com, Jakarta – Keberhasilan bukan ketika kita menjadi pusat perhatian, tetapi ketika ilmu yang kita miliki mampu membuat orang lain berani tampil, bertumbuh dan memberi manfaat. Hal tersebut begitu diyakini oleh Lizvy Revina. Sejak duduk di bangku sekolah, perempuan yang biasa disapa Lizvy ini sudah menunjukkan ketertarikan besar pada dunia komunikasi dan kepemimpinan. Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari karya tulis ilmiah, pidato, puisi, hingga tampil sebagai Master of Ceremony.
Tidak hanya di atas panggung, sosok kelahiran Cirebon, 17 Mei 1980 ini juga tumbuh sebagai penggerak organisasi. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah dipercaya menjabat sebagai Ketua OSIS. Bahkan semasa SMA ia juga aktif di organisasi dan banyak meraih prestasi di berbagai lomba, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, wilayah, provinsi hingga nasional. Setelah lulus dan menempuh pendidikan tinggi di bidang Kesehatan Masyarakat, Lizvy menerima amanah sebagai Wakil Ketua Senat Mahasiswa. Hingga kemudian, ia melanjutkan program Magister Manajemen Sumber Daya Manusia.
Pengalaman berorganisasi sejak dini tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai komunikator dan pemimpin yang tidak hanya piawai berbicara, tetapi juga terbiasa menggerakkan orang lain.

Membangun Karier di Dunia Broadcast dan Public Speaking
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Lizvy sempat bekerja di rumah sakit sejak tahun 2002 hingga 2009, sejalan dengan latar belakang Kesehatan Masyarakat yang ia miliki. Namun panggilan hatinya di dunia komunikasi terus tumbuh. Ia kemudian merambah ke bidang Public Relations di perusahaan advertising dan konsultan, sebelum akhirnya menapaki dunia televisi sebagai presenter sejak tahun 2008 hingga 2020.
Dunia televisi memberinya bekal yang sangat berharga, mulai dari artikulasi, ekspresi, penguasaan panggung, kemampuan berpikir cepat, profesionalisme, hingga cara menyampaikan informasi secara menarik dan bertanggung jawab. Dari sana, kepercayaan untuk menjadi Master of Ceremony, moderator, narasumber, hingga motivator terus mengalir dalam berbagai acara, baik formal maupun nonformal.
Bagi Lizvy, pengalaman saja tidak cukup. Ia meyakini bahwa pengalaman harus berjalan beriringan dengan pembelajaran yang berkelanjutan. Karena itu ia terus meningkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan, termasuk pelatihan bersertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), agar ilmu yang ia bagikan memiliki kompetensi yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari titik itulah ia berkembang menjadi seorang Praktisi Public Speaking dan Master Trainer.
QVY Learning Center, Ruang Bertumbuh bagi Banyak Orang
Kegelisahan sekaligus harapan untuk melihat lebih banyak orang menemukan keberanian, mendorong Lizvy mendirikan QVY Learning Center. Ia melihat banyak orang sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum memiliki keberanian, keterampilan komunikasi, atau lingkungan yang mendukung untuk mengembangkannya.
Melalui QVY Learning Center, Lizvy menghadirkan ruang belajar yang tidak berhenti pada sekadar “tahu”, melainkan mengubah pengetahuan menjadi keterampilan, keberanian dan tindakan nyata. Program-program yang dikembangkan berfokus pada communication, public speaking, leadership, confidence, dan character, dengan harapan setiap orang yang belajar bersama QVY Learning Center membawa pulang keberanian baru untuk melangkah lebih maju.

Organisasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Ilmu dan kesempatan akan menjadi jauh lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain. Prinsip tersebut membawa Lizvy aktif dalam berbagai organisasi sosial. Sejak tahun 2022 hingga saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Jakarta Selatan. Pada tahun 2016, ia juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI). Selain itu, Lizvy tercatat sebagai anggota Perkumpulan Pembicara Profesional Indonesia (Peranesia) – WelldoneSkill, pengurus POMG di sekolah anak-anaknya, serta aktif mengikuti berbagai kajian keagamaan seperti Ngaji Ceria, TACA (Tanah Air Cinta Al-Qur’an), PPA (Pola Pertolongan Allah), Spiritual Motherhood, dan Meaningful Ways.
Bersama organisasi yang dipimpin, Lizvy dan tim berupaya menghadirkan program yang tidak sekadar seremonial, melainkan berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Beberapa program binaan yang mereka jalankan antara lain menjadi orang tua asuh bagi anak-anak dengan kondisi stunting, program sekolah lansia, serta pembinaan santriwati dhuafa di pondok pesantren.
Perhatian besarnya diberikan pada edukasi dan pelatihan public speaking bagi para santriwati dhuafa. Menurut Lizvy, mengajarkan public speaking kepada mereka bukan semata agar pandai berbicara di depan umum, melainkan untuk membekali mereka dengan keberanian, etika, kemampuan berkomunikasi dan kepercayaan diri, agar kelak setelah menyelesaikan pendidikan mereka dapat mengambil peran sebagai pendakwah yang santun, berkarakter, beretika dan membawa manfaat bagi umat.

Keluarga sebagai Kekuatan
Di tengah kesibukan sebagai entrepreneur, praktisi public speaking dan penggerak organisasi, Lizvy tetap menjadikan keluarga sebagai kekuatan utama. Ia menikah dengan dr. Ferdynand Z., Sp.Rad., M.Sc., dan dikaruniai dua orang anak, Amanda yang kini menempuh pendidikan di jenjang SMA dan Alif di jenjang SMP.
Lizvy meyakini bahwa keseimbangan bukan berarti setiap peran mendapatkan porsi yang sama setiap waktu, melainkan kemampuan memahami prioritas. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk organisasi, dan ada waktu ketika keluarga harus menjadi yang utama. Baginya, keberhasilan profesional tidak akan terasa lengkap apabila keluarga kehilangan kesempatan untuk menikmati kehadirannya.
Filosofi Kepemimpinan dan Pemberdayaan
Leadership bagi Lizvy bukan soal jabatan, melainkan keteladanan, tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan dan kemampuan membuat orang lain bertumbuh. Seorang pemimpin, menurutnya, tidak harus selalu berada di depan. Ada saatnya ia memberi arah dari depan, mendampingi dari samping, dan memberi ruang untuk orang lain tumbuh dan bersinar dari belakang.
Ia juga berpegang pada nilai integritas, pembelajaran, kebermanfaatan dan rasa syukur. Kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi dari seberapa besar keberadaan seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
“Pemimpin yang hebat bukan yang membuat dirinya terlihat paling hebat, tetapi yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya menjadi lebih hebat. Jangan hanya menjadi perempuan yang ingin bersinar. Jadilah perempuan yang cahayanya membuat orang lain berani menemukan sinarnya.”





