MajalahInspiratif.com, Jakarta – Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia. Bagi Sari Kesit Hastaningsih, kecintaan itu diwujudkan melalui karya. Di tangannya, kulit sapi, batik, tenun, dan bambu dari berbagai daerah dirangkai menjadi tas cantik yang tidak hanya membawa identitas Nusantara, tetapi juga menghidupkan banyak tangan di baliknya. Dari para pengrajin hingga perempuan yang dilatih dan diberi kesempatan untuk berkarya, bisnis berlabel Eksotik by Ary yang dibangunnya bukan sekadar tumbuh sebagai sebuah brand, melainkan menjadi ruang untuk menciptakan nilai, membuka peluang, dan menumbuhkan harapan. Kini, karya tersebut tengah bersiap melangkah lebih jauh, membawa pesona Indonesia ke panggung dunia.
Kecintaan Sari Kesit Hastaningsih pada dunia fashion membuatnya piawai memadupadankan busana dan aksesori dalam berbagai penampilan. Salah satunya ketika berkebaya. Agar nuansa khas Indonesia semakin terasa, ia melengkapi tampilannya dengan berbagai aksesori lokal, salah satunya tas.
Namun, ia kerap menyayangkan penampilan perempuan Indonesia yang justru memadukan kebaya dengan tas bermerek atau produk impor, sehingga look Nusantara terasa kurang maksimal. Hal itulah yang kemudian menginspirasinya membuat tas-tas cantik bernuansa etnik.

Ia ingin menunjukkan bahwa identitas Indonesia dapat hadir dalam bentuk yang modern. Sebuah tas ketika dikenakan bersama kebaya, menurutnya, bukan hanya menjadi pelengkap penampilan, tetapi juga dapat memperkuat keseluruhan karakter busana Indonesia.
Namun, ia tidak ingin membuat produk yang sekadar terlihat tradisional. Desain tetap harus elegan, modern, dan sesuai dengan kebutuhan perempuan masa kini. Bagi Ary, produk Indonesia tidak harus kehilangan identitas untuk terlihat berkelas. Justru identitas itulah yang seharusnya menjadi kekuatan.
“Saya memulai bisnis dengan label Eksotik by Ary ini dari tahun 2013, dengan meluncurkan tas kulit yang dihiasi lukisan realis. Proses produksinya di Bandung, namun lukisannya dibuat oleh pelukis di Bali,” cerita sosok yang karib disapa Ary ini.
Perubahan di Tengah Pandemi. Konsep tas lukis yang ditawarkan Ary memang menghasilkan karya yang unik. Namun, ketika permintaan mulai meningkat, tantangan pun muncul. Jumlah pelukis yang mampu mengerjakan karya sesuai standar sangat terbatas. Saat itu, Ary hanya memiliki tiga pelukis karena upaya mencari dan menambah tenaga baru tidaklah mudah.
Persoalannya bukan hanya pada jumlah sumber daya manusia. Biaya pengerjaan lukisan juga cukup tinggi sehingga berdampak pada harga tas. Ditambah proses produksi yang membutuhkan waktu panjang, Ary harus mencari jalan lain agar bisnis dapat terus berkembang.
Ketika pandemi COVID-19 datang, produksi yang sebelumnya bertumpu pada pelukis di satu tempat semakin sulit berjalan. Ada pelukis yang sakit, ditambah pembatasan sosial yang membuat mobilitas dan proses kerja ikut terganggu.

Pengalaman tersebut membuat Ary menyadari satu hal penting: bisnis tidak boleh terlalu bergantung pada satu sumber daya. Ia pun mulai berpikir untuk membuat variasi tas kulit lainnya. Namun, jika hanya membuat tas kulit, apa yang membuat produknya berbeda? Jawabannya adalah identitas Indonesia.
Ary mulai mengeksplorasi kombinasi material Nusantara berupa kulit dengan tenun, batik, bambu, serta teknik laser cutting pada kulit. Dari perubahan tersebut, lahirlah karakter Eksotik by Ary yang semakin kuat. Bambu kemudian menjadi salah satu signature yang membedakan produknya.
“Begitu mereka melihat di tas itu ada bambu, mereka tahu itu produk Eksotik by Ary,” ujar perempuan kelahiran Yogyakarta, 8 Oktober tersebut.
Sejak 2020, ia mulai membangun sistem produksi yang lebih beragam dan memindahkan area produksi ke Yogyakarta. Kini, ia menggandeng petani bambu, pembatik, penenun, serta pengrajin kulit dari berbagai daerah.
Walhasil, dari satu produk tas, bukan hanya jumlah tangan yang terlibat yang bertambah, tetapi juga kekayaan cerita yang tertuang di dalamnya.
Bambu yang digunakan pun bukan sembarang bambu. Ary memilih bambu premium yang memang dipersiapkan untuk kebutuhan fashion. Sedangkan untuk material kain, ia bekerja sama dengan pembatik dan penenun dari sejumlah daerah, termasuk meminta desain khusus sesuai kebutuhan produknya.
Sementara untuk kulit, ia menggandeng pengrajin di Yogyakarta dan memilih kulit sapi dengan proses nabati, bukan menggunakan proses berbasis bahan kimia. Warna dan bentuk material pun dipersiapkan sesuai kebutuhannya.
Semua proses produksi dari hulu hingga hilir berlangsung di Indonesia. Bagi Ary, keputusan tersebut bukan sekadar persoalan bisnis. Ada keyakinan bahwa sebanyak mungkin material dan tenaga kerja lokal harus dilibatkan dalam proses penciptaan produk.
Belajar dari Alam. Dengan konsep baru yang diusung, bukan berarti Eksotik by Ary terbebas dari kendala. Ketika persoalan sumber daya manusia mulai menemukan jalan keluar, material bambu yang berasal dari alam justru menghadirkan tantangan baru.
Bambu merupakan material yang sepenuhnya bergantung pada kondisi alam. Untuk mendapatkan bambu terbaik, Ary harus menunggu waktu yang tepat. Proses menuju material yang siap dianyam pun bergantung pada matahari dan cuaca.

Dari pengalaman tersebut, Ary belajar untuk tidak lagi menghitung kebutuhan material hanya berdasarkan produksi saat ini. Ketika cuaca sedang baik dan petani mendapatkan bambu dalam jumlah banyak, ia memasok sebanyak mungkin bambu untuk disimpan sebagai cadangan.
“Ketika mereka banyak stok, saya ambil saja semua untuk menjadi simpanan kita,” katanya.
Strategi tersebut membuatnya memiliki persediaan ketika musim hujan datang dan produksi bambu mulai terbatas.
Pengalaman demi pengalaman juga membuat sistem bisnisnya semakin matang. Saat ini, proses produksi Eksotik by Ary telah diatur dari hulu hingga hilir melalui sistem kerja dan SOP yang ketat. Di setiap akhir tahun, ia bahkan telah menyiapkan desain tas berikut jumlah produksi untuk satu tahun ke depan.
“Sekarang, semua produksi sudah by system, jadi ketika akan produksi, semua material yang dibutuhkan sudah siap, mulai dari kulit sapi, kain hingga bambu, semua harus dipersiapkan sejak awal. Karena buat saya, kreativitas memang penting. Tetapi kreativitas tanpa sistem akan sulit membawa bisnis berkembang,” tegasnya.
Merangkai Banyak Tangan. Di balik sebuah tas Eksotik by Ary, ada banyak tangan yang terlibat. Ada petani yang menyediakan bambu, pembatik dan penenun yang menjaga material tradisional tetap hidup, pengrajin kulit yang mengolah bahan, serta tim produksi yang memastikan desain Ary berubah menjadi produk nyata.
Namun, Ary tidak ingin hubungan dengan para pengrajin berhenti sebatas transaksi. Ia berusaha memberikan pengetahuan dan pengalaman baru kepada mereka. Ketika menemukan referensi mengenai material atau teknik tertentu, Ary membagikannya. Ia pun terbuka belajar dari para pengrajin yang memiliki pengalaman panjang di bidangnya.
Baginya, mereka tidak hanya menerima pekerjaan, tetapi juga memperoleh ilmu yang dapat dibawa pulang. “Saya selalu bilang bahwa uang bisa dicari di mana saja. Tetapi ada pelajaran yang akan diambil yang membuat kita menjadi lebih pandai,” tutur Ary.
Saat ini, dalam proses pembuatan tas, ia bekerja sama dengan pihak ketiga dengan menggunakan material dan desain yang telah ia siapkan. Namun, demi menjaga eksklusivitas, terdapat sistem dan kesepakatan yang diatur secara detail. Bahkan, limbah sisa kain atau kulit hasil produksi pun harus dikembalikan. “Selain meminimalisasi terjadinya kecurangan, adanya sisa material juga memudahkan kami untuk menghitung harga pokok,” terangnya.
Memimpin dengan Rasa. Perkembangan Eksotik by Ary hingga sejauh ini tak lepas dari dukungan tim yang kini berjumlah delapan orang. Sama halnya dengan perlakuan kepada para mitra, Ary juga senantiasa mengajak timnya bertumbuh bersama.
Ia ingin setiap orang yang bekerja bersamanya memiliki kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk berkembang, bahkan ketika suatu hari mereka tidak lagi bekerja bersama Ary. Sebab, menurutnya, pekerjaan seharusnya tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga meningkatkan kapasitas seseorang.
Meski menciptakan sistem kerja yang rapi, Ary tidak ingin menciptakan jarak dengan tim. Sebaliknya, ia membangun kepemimpinan dengan pendekatan kekeluargaan. Ketika berkumpul, ia ingin semua makan bersama di satu meja. Tidak ada sekat yang terlalu tinggi antara pemimpin dan tim.
Sesekali, ia juga mengajak tim berkegiatan bersama atau menikmati waktu di luar rutinitas pekerjaan. Baginya, hubungan yang baik akan membuat tim merasa menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
“Kita sama-sama belajar. Saya belajar dari mereka, mereka juga belajar dari pengalaman yang mungkin saya tahu,” katanya.
Bagi Ary, pemimpin bukan seseorang yang berjalan sendirian paling depan, melainkan seseorang yang mampu mengajak orang-orang di belakangnya tumbuh bersama. “Tidak akan pernah ada pemimpin yang bisa maju ke depan tanpa dukungan dari belakang. Sebuah ide, menurut Ary, tidak akan menjadi apa-apa tanpa tangan-tangan yang membantu mewujudkannya,” tegas Ary.
Membuka Panggung Dunia. Sejak awal dirintis, Eksotik by Ary bukan hanya dipasarkan dan dipopulerkan secara online, tetapi juga melalui berbagai pameran. Tampilannya yang mewah dan elegan bahkan mendorong sejumlah teman dan kerabat yang tinggal atau memiliki butik di luar negeri untuk ikut memasarkannya.
“Karena bukan mass product, jadi untuk impor saat ini memang belum skala massal. Apalagi kami masih tergolong handmade yang memang terbatas produksinya,” terang Ary.
Namun, pintu yang lebih besar kini kian terbuka. Eksotik by Ary mendapatkan kesempatan untuk mengikuti runway di New York Fashion Week pada Februari 2027 mendatang melalui Flying Solo.
Momentum tersebut sedang dipersiapkan dengan serius. Ary bahkan tengah menyiapkan delapan look dari delapan daerah Indonesia. Material dari berbagai wilayah Nusantara akan menjadi bagian dari karya yang dibawa ke panggung tersebut.
Baginya, kesempatan itu bukan hanya tentang nama brand. Ada harapan agar semakin banyak orang mengenal bahwa Indonesia memiliki material, keterampilan, dan kreativitas yang mampu diterjemahkan menjadi produk fashion berkelas. Dan New York menjadi salah satu jendela untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada dunia.
Menyiapkan Masa Depan. Ary kini juga tengah dipersiapkan untuk memasuki lini pakaian ready to wear. Namun, seperti halnya tas, Ary ingin proses produksi dilakukan dari hulu hingga hilir.
Ia tidak ingin hanya membeli kain siap pakai, melainkan mengolahnya sendiri, termasuk melalui proses pewarnaan alam. Prinsip keberlanjutan juga menjadi salah satu arah yang ingin terus dibangun. Ary ingin produk fashion yang dikembangkan semakin ramah lingkungan, tetapi tetap memiliki kualitas dan harga yang dapat dijangkau.
Meski ia menyadari, produk yang ramah lingkungan memiliki tantangan tersendiri karena prosesnya cenderung lebih panjang dan membutuhkan biaya lebih besar. Oleh sebab itu, ia menyiapkan dua segmen pasar, yakni high-end dan middle line. Idealisme tetap dijaga, namun nilai ekonomi juga turut diperhitungkan.
“Karena saya punya idealisme, tetapi saya juga butuh hidup. Dan banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari Eksotik by Ary ini. Dan buat saya, bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai dan keberlanjutan ekonomi,” ujarnya sederhana.
Memaknai Kemandirian Perempuan
Di balik kesibukan membangun bisnis, ada perjalanan personal yang membuat pandangan Ary tentang kemandirian perempuan semakin kuat. Suaminya, Mayjen TNI Robertus Donatus Ndona, telah berpulang sekitar setahun terakhir. Semasa hidup, sang suami menjadi salah satu sumber dukungan terbesar dalam perjalanan Ary. Ia memberikan ruang bagi Ary untuk mengikuti pameran, seminar dan berbagai kegiatan bisnis, baik di dalam maupun luar negeri. Dukungan tersebut sangat berarti, terlebih Ary juga mendampingi perjalanan sang suami sebagai bagian dari keluarga TNI.
Kini, setelah kehilangan pasangan, Ary semakin memahami arti penting kemandirian finansial bagi seorang perempuan. Menurutnya, perempuan yang merdeka secara finansial bukan berarti ingin menandingi suami atau merasa lebih hebat. Kemerdekaan finansial adalah tentang memiliki pilihan. Ketika perempuan mampu menghasilkan, memiliki kemampuan, dan percaya pada dirinya sendiri, ia akan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat.
“Menurut saya, perempuan perlu mempersiapkan masa depannya sendiri. Bukan karena kehidupan rumah tangga harus dicurigai, tetapi karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dan perempuan mandiri akan punya kesiapan menghadapi apa pun yang terjadi ke depan,” ujarnya.
Kesuksesan menjalani bisnis juga tak lepas dari dukungan kedua putrinya, Magdalena Rosari Ndona dan Maria Gloria Isabella Ndona. Keduanya pun tak segan menjadi model yang memamerkan produk-produk cantik rancangan Eksotik by Ary.
Pemberdayaan Perempuan Lewat Limbah
Pemberdayaan bagi Ary tidak berhenti pada orang-orang yang terlibat dalam produksinya. Ia juga kerap memberikan pelatihan kepada sejumlah perempuan untuk membuat produk fashion sederhana, salah satunya pouch atau sabuk dari kulit yang dapat dibuat tanpa mesin jahit.
Material yang digunakan berasal dari sisa produksi Eksotik by Ary. Limbah kulit sapi, batik, atau tenun yang berpotensi menjadi sampah dapat diolah kembali menjadi produk lain, seperti bros dan aksesoris kecil yang proses pembuatannya tidak memerlukan mesin khusus, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai jual.
Beberapa perempuan yang pernah mengikuti pelatihannya pun telah memasarkan hasil karya mereka secara komersial. Meski belum menjadi usaha besar, bagi Ary, proses tersebut adalah awal dari sebuah kemandirian.
Ia percaya, pemberdayaan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar, ketelatenan, dan keberanian untuk mencoba. Lewat pelatihan yang diberikan, Ary ingin menunjukkan bahwa menciptakan produk bernilai ekonomi tidak selalu membutuhkan modal besar ataupun peralatan mahal.
Membawa Indonesia Lebih Jauh
Pada akhirnya, mimpi Ary bukan hanya tentang membuat tas yang cantik. Ia ingin lebih banyak perempuan Indonesia mencintai dan menggunakan produk Indonesia. Ia ingin mengubah paradigma bahwa produk luar selalu lebih membanggakan. Baginya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek apa yang dikenakan, tetapi oleh kemampuan mengaktualisasikan diri dan menghargai apa yang dimiliki.
“Saya ingin suatu saat orang luar akan bangga memakai produk kita. Selama ini kita yang selalu merasa bangga dengan produk luar,” ungkapnya.
Harapan itu pula yang menjadi alasan Ary untuk terus mengembangkan bisnis. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, ia membayangkan suatu hari produk yang dikembangkan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk menciptakan usaha dari rumah, membuka lapangan pekerjaan, dan membangun bisnis kecil yang tetap memiliki karakter Indonesia.
“Semakin banyak orang mencintai produk Indonesia, semakin besar pula peluang ekonomi yang bisa tercipta,” pungkasnya. Laili
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @eksotikbyary





