Manager Design & Sales China State Construction Overseas Development Shanghai  

Retno Sari, ST, Angkat Produk Lokal Menembus Konstruksi Global

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dunia konstruksi identik dengan pekerjaan keras yang masih didominasi laki-laki. Namun, bagi Retno Sari, kondisi tersebut bukan alasan bagi perempuan untuk berada di belakang. Ia justru membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu bersaing dalam proyek konstruksi berskala internasional. Tak hanya membawa kompetensi sebagai arsitek, Retno juga membuka ruang bagi Engineer Indonesia dan mendorong produk lokal bersaing di pasar global. Baginya, berkarya di dunia konstruksi bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga membawa nama Indonesia lebih jauh.

Kesempatan untuk berada di tengah industri konstruksi global membawa Retno Sari pada tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyelesaikan sebuah proyek. Ia ingin kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perempuan, membuka peluang bagi tenaga profesional Indonesia, sekaligus memperkenalkan kemampuan dan produk dalam negeri agar semakin dipercaya di proyek berstandar internasional. Prinsip “untuk Indonesia dan untuk dunia” menjadi semangat yang ia bawa dalam setiap langkah profesionalnya.

Jejak Karier. Perjalanan sosok yang karib disapa Retno menuju posisi saat ini, tentu tidak berlangsung singkat. Berbekal latar belakang arsitektur, Retno membangun pengalaman dari berbagai proyek dan lingkungan kerja, termasuk ketika mendapat kesempatan berkarier di luar negeri. Dari sana, cakrawala profesionalnya semakin berkembang hingga membawanya ke dunia konstruksi internasional.

Ia berkesempatan bergabung dengan sebuah konsultan di Italia yang menangani desain interior vila di kawasan sekitar Mount Etna, Catania. Selama hampir dua tahun, Retno terlibat dalam perancangan interior vila-vila yang menjadi bagian dari kawasan wisata tersebut.

Usai dari Italia, perjalanan profesionalnya berlanjut ke Istanbul, Turki. Hampir dua tahun ia bekerja di sebuah Medical University, menangani desain berbagai ruang di kampus kedokteran, termasuk ruang kelas khusus dan laboratorium.

Pengalaman di dua negara tersebut menjadi bekal penting sebelum akhirnya Retno bergabung dengan China State Construction Overseas Development Shanghai melalui proses headhunter.

Perusahaan tersebut merupakan bagian dari China Construction, perusahaan konstruksi berskala global yang mengerjakan berbagai proyek di banyak negara. Salah satu proyek besarnya berada di Kairo, Mesir, melalui pembangunan kawasan New Administrative Capital. Di Dubai, perusahaan tersebut juga menangani proyek di kawasan Jumeirah.

Sementara di tanah air, salah satu proyek besarnya adalah The Two Sudirman Oasis Apartment, bagian dari kawasan yang diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru Jakarta. “Seperti halnya Twin Tower di Malaysia, The Two Sudirman ini juga dirancang menjadi gedung tertinggi di Indonesia dengan pembangunan selama 10 tahun,” tutur Retno.

Hampir dua tahun bergabung di perusahaan tersebut, Retno kini dipercaya menjabat sebagai Manager Design and Sales. Tanggung jawabnya mencakup desain, pemilihan material konstruksi, hingga menangani presentasi tender untuk berbagai proyek.

Tonjolkan Value. Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Retno adalah ketika ditempatkan di site project Sudirman, di mana lingkungan kerjanya didominasi Engineer laki-laki dari China dan Jepang. Dari keseluruhan Engineer sekitar 90% merupakan laki-laki. Sementara Engineer perempuan Indonesia menjadi kaum minoritas.

“Jumlah Engineer lokal bahkan bisa dihitung jari dan yang perempuan mungkin hanya di bawah lima orang termasuk saya. Arsitek perempuan banyak di Indonesia tapi untuk Engineer level internasional masih sangat sedikit,” ungkapnya.

Situasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun Retno memilih tidak menempatkan dirinya sebagai pihak yang berbeda. Justru ia membangun keyakinan bahwa dirinya memiliki value yang membuat perusahaan memilihnya.

“Kenapa HR (headhunter, Red.) dari user, direktur memilih saya perempuan? Berarti saya punya kelebihan di antara mereka. Saya sudah ada worth it, saya punya nilai yang mereka tidak miliki. Nah, itu yang harus dikembangkan dan membuat confidence atau kepercayaan diri kita muncul,” ujarnya.

Baginya, confidence menjadi modal penting, terutama ketika harus berhadapan dengan klien, sesama Engineer, maupun profesional dari berbagai negara. Apa lagi di lingkungan kerja internasional, komunikasi berlangsung to the point. Tidak banyak basa-basi dan tidak tersedia ruang abu-abu. Sebuah konsep harus dapat dipertanggungjawabkan dengan alasan, teori, data, dan bukti yang jelas.

Karena itu, ia mengingatkan agar profesional Indonesia tidak mudah terbawa perasaan ketika mendapat pertanyaan atau kritik. “Di dunia internasional dilarang baper. Kedua, mereka tanpa basa-basi, tanpa introduction mereka langsung straight to the point. Jadi tidak ada zona abu-abu, black or white. Kita harus menjelaskan apa konsep kita based on proof, based on konsep, based on teorinya apa,” tegasnya.

Bawa Produk Lokal. Berada di perusahaan konstruksi internasional tidak membuat Retno melupakan identitasnya sebagai orang Indonesia. Justru, posisi tersebut ia manfaatkan untuk membawa produk dan tenaga profesional Indonesia masuk ke proyek berskala internasional.

“Walaupun saya bekerja di dunia international construction, tapi jiwa saya tetap jiwa Indonesia karena saya mau memajukan produksi material dari Indonesia, jadi local product,” katanya.

Dalam proyek yang ditangani, Retno berupaya memilih produk Indonesia sebanyak mungkin, selama memenuhi standar dan persyaratan yang dibutuhkan. Malah, hampir 80% material yang digunakan lebih diarahkan pada produk lokal. Bukan semata-mata karena alasan nasionalisme, tetapi juga karena ia ingin membuka peluang kerja bagi masyarakat Indonesia sekaligus memperkenalkan kemampuan industri dalam negeri.

“Kalau produk tersebut telah mengantongi sertifikat internasional dan head to head  dengan produk asing, why not?” tegasnya.

Retno pun mendorong agar produk lokal tidak berhenti menjadi pemain di pasar domestik. Dengan kualitas dan sertifikasi yang memadai, produk Indonesia menurutnya memiliki kesempatan untuk bersaing di pasar global.

Upaya tersebut bahkan dilakukan Retno dengan membantu pelaku UMKM yang produknya berpotensi digunakan dalam proyek konstruksi, tetapi masih terkendala sertifikasi. Bersama pihak perusahaan, ia berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan konsultan agar mereka dapat memahami dan memenuhi standar yang dibutuhkan, termasuk sertifikasi green label.

“Jadi kita panggil konsultannya, bagaimana mereka bisa mengawal UMKM tersebut agar produknya bisa kita gunakan di perusahaan konstruksi kita tapi dengan sertifikasi yang sudah dia miliki,” jelasnya.

Ke depan, Retno menyimpan mimpi besar untuk dunia konstruksi Indonesia. Ia ingin semakin banyak produk material dalam negeri yang mampu memenuhi standar internasional dan digunakan di berbagai proyek konstruksi. Menurutnya, pemerintah juga memiliki peran penting dalam membantu produk lokal mendapatkan sertifikasi yang dibutuhkan.

Buka Jalan Engineer Indonesia

Selain produk lokal, perhatian Retno juga tertuju pada sumber daya manusia Indonesia. Apa lagi ketika pertama kali bergabung, komposisi Engineer di lingkungan kerjanya didominasi tenaga asing. Namun setelah masuk, ia dipercaya untuk membentuk tim local engineer. Kesempatan tersebut kemudian ia manfaatkan untuk merekrut lebih banyak Engineer Indonesia.

“Jadi saya merekrut banyak Engineer Indonesia, dengan harapan suatu saat kitalah yang membangun gedung-gedung di Indonesia. Bukan sekedar menjadi penonton ataupun tamu, tetapi kita sendiri yang bergerak, walaupun perusahaan konstruksinya dari China,” paparnya.

Ditambahkan Retno, keberadaan perusahaan konstruksi internasional di Indonesia seharusnya juga menjadi kesempatan bagi Engineer lokal untuk belajar, berkembang dan mengambil peran lebih besar.

Dan khusus bagi perempuan, Retno ingin lebih banyak yang berani masuk ke dunia konstruksi dan membuktikan kemampuannya. “Untuk para perempuan di sana, jangan takut untuk selalu mengeksplor potensi diri. Apa lagi di dunia konstruksi ini, coba apply dan berani bahwa woman engineer can be work in international project, dan itu bisa,” tegasnya.

Pada akhirnya, bagi Retno, kepemimpinan dan pemberdayaan perempuan memiliki satu fondasi yang sama, yakni kepercayaan terhadap kemampuan diri. “Woman is equal in everything, even in construction work. Woman is equal, woman can do that man can do also and leadership not only for man, leadership also for woman,” tuturnya, bijak.

Sebuah keyakinan yang kini tidak hanya ia ucapkan, tetapi juga ia buktikan melalui perjalanan kariernya. Memulai karier dari seorang arsitek, menjadi bagian dari proyek konstruksi berskala global, hingga membuka jalan agar semakin banyak perempuan dan profesional Indonesia berani mengambil tempat di panggung dunia.

Empowerment Perempuan adalah Keharusan

Jika ada satu isu yang paling kuat diperjuangkan Retno, salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Menurutnya, dunia konstruksi memang masih identik dengan laki-laki. Namun kondisi tersebut bukan alasan bagi perempuan untuk menghindar.

“Kenapa perempuan Indonesia tidak bisa bersaing dengan engineer pria dari dunia internasional? Kita punya skill, kemampuan bahasa, dan mental yang kuat. Jadi, sebenarnya kita punya modal yang sama untuk bersaing,” tegasnya.

Ia pun mendorong perempuan untuk terus menggali potensi diri dan menambah keterampilan. Tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga bahasa asing.  Karena menurut perempuan kelahiran Jakarta, 16 Maret ini, kemampuan berbahasa Inggris perlu diperkuat dan akan semakin penting jika dilengkapi dengan kemampuan bahasa lainnya seperti Mandarin, Jepang, maupun Jerman.

Namun ia juga mengingatkan bahwa perempuan perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, perempuan harus memiliki kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi. “Perempuan Indonesia harus menggali potensi lagi, mencari skill pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi AI. Itu yang paling penting,” katanya.

Baginya, pemberdayaan perempuan bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.  “Perempuan berdaya, perempuan bekerja, perempuan berkarya, itu it’s a must,” tegas Retno.

Pendekatan Teaching by Doing

Semangat pemberdayaan juga diterapkan Retno ketika memimpin tim. Baginya, pemimpin tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi, tapi  juga harus mampu mengembangkan kemampuan tim. “Sekarang bukan zamannya pemimpin yang straight to the rules, tapi pemimpin manajer yang bisa berkembang dan men-develop bukan hanya dirinya sendiri tetapi tim di bawahnya. Jadi kita berkembang bersama, maju bersama,” jelasnya.

Apa lagi sebagian besar anggota timya merupakan generasi Z (Gen Z). sehingga Retno memilih membangun komunikasi yang lebih cair. Ia tidak hanya memosisikan diri sebagai manajer, tetapi juga membuka ruang sebagai teman untuk berdiskusi.

Saat suasana kerja serius, ia tetap menuntut keseriusan. Namun ketika berdiskusi mengenai ide, ia memberikan ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan pandangan. “Saya tidak menutup kemungkinan adanya ide dari tim, jadi kita bisa combine dengan ide saya. Lalu saya kasih deadline juga. Jadi kita santai tapi santai yang ada target dan ada time schedule,” tuturnya.

Baginya, fleksibilitas tetap harus berjalan bersama target. Sebab tim yang kuat bukan hanya tentang siapa yang berada di depan, melainkan bagaimana seluruh anggota bergerak bersama. Prinsip tersebut juga ia terapkan kepada empat perempuan arsitek yang kini berada dalam timya. Retno melihat mereka bukan hanya sebagai anggota tim, tetapi calon penerus yang perlu dipersiapkan. “Saya akan menjadikan mereka penerus International Women Engineer,” katanya.

Ia pun memilih pendekatan teaching by doing agar mereka memiliki pengalaman dan keberanian untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di masa mendatang.

 Dari Perempuan di Lapangan untuk Perempuan Indonesia

Pengalaman menjadi satu-satunya perempuan Indonesia di tengah ratusan engineer dari China dan Jepang dalam proyek The Two Sudirman memberikan pelajaran tersendiri bagi Retno. Ia belajar bahwa menjadi minoritas bukan alasan untuk merasa lebih rendah.

Di lingkungan tersebut, ia justru menemukan bahwa para Engineer internasional menghargai kemampuannya sebagai Woman Engineer. Mereka berdiskusi, saling bertukar pengetahuan, bahkan saling bertanya ketika menemukan hal yang tidak mereka ketahui. “Jadi saling melengkapi. Nah, itulah bagusnya international world, mereka lebih appreciate,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perempuan Indonesia memiliki ruang yang luas untuk berkembang di dunia konstruksi internasional. Ia berharap semakin banyak arsitek dan Engineer Indonesia memiliki pengalaman global sehingga tidak hanya memahami dunia konstruksi dari dalam negeri.

“Dunia konstruksi Indonesia lebih didominasi oleh International Architect yang punya pengalaman bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Namun, untuk Woman Engineer jangan takut untuk mencoba. Apa lagi kita memiliki kemampuan bekerja di mana saja. Baik di kantor, turun ke site project, memimpin tim, bahkan berhadapan dengan lingkungan konstruksi yang selama ini identik dengan laki-laki. Jadi Woman empowerment is a must. Dan satu hal lagi, di site project, woman in white helm, engineer safety clothes juga bisa dengan lipstik merah, tas pink dan high heels, masih bisa cantik,” ujarnya sambil tersenyum.

Tetap Manusia di Tengah Gempuran AI

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) juga menjadi perhatian Retno, terutama dalam dunia arsitektur dan desain. Ia tidak menolak penggunaan AI. Sebaliknya, ia mengakui teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan. Namun menurutnya, AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kreativitas dan originalitas.

Dalam desain, sebuah karya tidak cukup hanya terlihat indah. Seorang arsitek harus mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan desain. “AI dan ChatGPT hanya untuk membantu. Di dalam dunia desain kamu harus punya originalitas sendiri,” ujarnya.

Pesan tersebut juga ia sampaikan kepada mahasiswa arsitektur ketika menjadi pembicara dalam seminar. Menurut Retno, teknologi dapat menghasilkan desain dengan cepat. Namun ketika seseorang ditanya mengapa sebuah meja dibuat melengkung, mengapa sebuah ruang dirancang dengan bentuk tertentu, atau apa konsep yang melandasinya, seorang arsitek tetap harus mampu menjelaskan dengan pemikiran dan kreativitasnya sendiri. Di situlah, menurutnya, nilai manusia tetap dibutuhkan.

Ditegaskan Retno, arsitektur juga bukan sekadar persoalan estetika. Setiap desain harus berangkat dari kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. Karena itu, sebelum membuat desain, ia terlebih dahulu berdiskusi dengan pemilik proyek dan pengguna ruang, kemudian melakukan riset. “Arsitektur itu adalah desain dan membangun ruang yang terukur. Bukan hanya menampilkan estetika atau keindahan, tapi juga memikirkan pengguna di dalamnya,” jelas Retno.

Selain itu, kenyamanan dan keselamatan juga menjadi bagian penting. Lebih dari itu, ia ingin menciptakan ruang yang mampu memberikan pengalaman positif bagi penggunanya. “I feel good in this room, I feel good in this building,” ujarnya menggambarkan tujuan yang ingin dicapai melalui sebuah desain.

Karena itu pula, Retno terbuka terhadap masukan. Setelah melakukan riset dan menyusun desain, ia kembali meminta feedback dari klien. Baginya, keterbukaan terhadap masukan merupakan bagian dari proses untuk terus berkembang.