Owner Heritage Jolotundo

Kombes Pol. (Purn) H. Tartono, S.H., MBA & Hj. R. Sriristanti, S.I.P., M.Ak, Membangun Bisnis, Menjaga Nilai, Mewariskan Kebermanfaatan

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Bagi Kombes Pol. (Purn) H. Tartono, S.H., MBA dan Hj. R. Sriristanti, S.I.P., M.Ak membangun bisnis bukan semata tentang mengejar keuntungan, tetapi tentang menciptakan ruang agar lebih banyak orang yang dapat tumbuh dan berdaya. Dari pengalaman panjang di dunia pengabdian dan entrepreneurship, keduanya menemukan satu keyakinan, bahwasanya kesuksesan akan jauh lebih bermakna ketika kemampuan yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi orang lain. Karena kedua pasangan suami-istri ini meyakini bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Ada masa ketika Kombes Pol. (Purn) H. Tartono, S.H., MBA, yang akrab disapa Tono, terbiasa hidup dalam dunia yang serba teratur. Sejak menyelesaikan pendidikan, ia langsung memasuki dunia pengabdian sebagai anggota kepolisian. Di dalamnya ada norma kedinasan, aturan, perintah, larangan, jenjang karier, hingga tanggung jawab yang melekat pada setiap pangkat dan jabatan.

 

Bagi Tono, menjalankan tugas dalam institusi adalah tentang memahami aturan dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Setiap orang mengetahui batas, kewajiban dan tanggung jawab mereka.

Namun, kehidupan kemudian mempertemukannya dengan dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang tidak selalu memiliki aturan tertulis, tidak mengenal kepastian jenjang karier, serta tidak memberikan jaminan bahwa setiap keputusan akan berakhir sesuai harapan. Dunia itu adalah dunia bisnis. Dan pintu menuju bidang baru tersebut hadir melalui sosok yang menjadi pendamping hidupnya, yakni Hj. R. Sriristanti, S.I.P., M.Ak  atau yang lebih akrab disapa Tanti.

Saling Melengkapi. Jauh sebelum perjalanan mereka sebagai pasangan Entrepreneur, Tanti telah lebih dahulu mengenal kerasnya dunia usaha. Berbeda dengan Tono yang tumbuh dalam sistem kedinasan, Tanti terbiasa berhadapan dengan peluang, risiko, keputusan, kreativitas, serta berbagai tantangan yang tidak selalu bisa diprediksi.

Namun, perbedaan itu tidak menjadi jarak. Justru dari sanalah keduanya belajar saling melengkapi. Tono menemukan perspektif baru tentang ketangguhan melalui sang istri. Sementara Tanti memiliki pasangan yang membawa nilai disiplin, ketertiban, tanggung jawab, serta pengalaman panjang dalam memahami manusia dan kehidupan sosial.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang masing-masing, keduanya tidak sekadar dikenal sebagai pasangan suami istri. Mereka tumbuh menjadi dua pribadi yang bersama-sama membangun sejumlah lini usaha, mengembangkan BNT Group, serta menghadirkan heritage Jolotundo sebagai ruang yang memadukan bisnis, budaya, spiritualitas, komunitas, dan kebermanfaatan.

Bagi keduanya, ada nilai yang harus dijaga di balik setiap usaha. Ada manusia yang harus diberdayakan, keluarga yang harus dibangun dan warisan yang suatu hari dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, keberhasilan bagi Tono dan Tanti bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang apa yang dapat dikembangkan dan ditinggalkan.

Kesepakatan Lahirkan Kepercayaan. Diceritakan Tono, ketika masih menjalani karier sebagai anggota kepolisian, menjalankan aturan kedinasan adalah sesuatu yang penting. Sementara itu, ia melihat Tanti menjalani dunia yang berbeda. Setiap hari ada persoalan baru, orang yang harus ditemui, keputusan yang harus dibuat, peluang yang harus dipertimbangkan, serta risiko yang harus dihadapi. Tidak selalu ada buku petunjuk yang memberikan jawaban. Dari sanalah Tono mulai melihat bahwa ketangguhan memiliki bentuk yang berbeda.

“Saya melihat istri saya menghadapi kendala-kendala dalam pekerjaannya. Bisnis itu membutuhkan ketangguhan. Saya berpikir, kalau istri saya tangguh, masa saya tidak? Sebab menurut saya, ketangguhan bukan berarti tidak pernah takut atau tidak pernah gagal. Ketangguhan adalah keberanian untuk menghadapi sesuatu yang belum diketahui,” ungkapnya.

Prinsip tersebut sebenarnya telah lama tumbuh dalam diri Tono. Salah satu pengalaman paling penting dalam kehidupannya terjadi ketika ia mengambil keputusan besar untuk membantu sang kakak yang menghadapi persoalan kesehatan serius. Ketika transplantasi ginjal menjadi salah satu harapan bagi sang kakak, Tono memilih mengambil keputusan personal yang penuh konsekuensi, yakni menjadi pendonor ginjal untuk sang kakak.

Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam bahwa kehidupan selalu menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihindari. “Jangan pernah menghindari suatu masalah. Jangan pernah menghindari hal-hal baru yang belum kita ketahui. Cari tahu, hadapi, dan selesaikan. Berhasil atau tidak, sukses atau tidak, itu Allah SWT yang menentukan. Tugas kita  hanya berikhtiar dan berikhtiar,” ucap Tono, bijak.

Nilai itulah yang kemudian ia bawa dalam kehidupan bersama Tanti. Ia tidak ingin menjadi pasangan yang membatasi langkah. Sebaliknya, ia memilih memberikan kepercayaan, selama dua hal tetap dijaga, yaitu norma agama dan norma keluarga. Bagi mantan Kapolres Kulon Progo ini, kebebasan bukan berarti tanpa batas. Kepercayaan justru harus dibangun di atas komitmen dan tanggung jawab.

Tanti pun memahami prinsip tersebut. Dunia bisnis yang ia jalani memungkinkan dirinya bertemu banyak orang, bepergian ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri, serta menghadapi lingkungan yang sangat dinamis. Namun, kepercayaan yang diberikan suami menjadi modal penting baginya untuk terus berkembang. Perbedaan latar belakang pada akhirnya menjadi kekuatan yang membuat mereka saling mengisi.

Jejak di Balik Jabatan. Bagi Tono, pangkat dan jabatan bukanlah sesuatu yang melekat selamanya pada diri seseorang. Keduanya hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Ketika seragam dilepas dan masa pengabdian berakhir, yang tersisa bukan lagi pangkat, melainkan nama baik, nilai-nilai yang pernah diperjuangkan, serta jejak kebermanfaatan yang ditinggalkan.

Karena itu, jauh sebelum memasuki masa purna tugas, Tono telah memikirkan sesuatu yang lebih panjang dari sekadar karier. Ia ingin membangun pamor, bukan sekadar tentang bagaimana seseorang dipandang, tetapi tentang bagaimana ia dikenang dan apa yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam pemahaman lelaki berzodiak Leo ini, pamor bukan sekadar penampilan, bukan pula tentang seberapa tinggi jabatan seseorang. Pamor dibangun perlahan melalui karakter, pengalaman, integritas, kemampuan berkomunikasi, serta cara seseorang memperlakukan orang lain.

“Pangkat dan jabatan ini bukan warisan kakek-nenek kita. Saya di kepolisian diberikan amanah jabatan dan pangkat, tetapi itu hanya sementara, dibatasi usia yang namanya purna bakti,” ujarnya.

Kesadaran tersebut tumbuh semakin kuat menjelang masa pensiun. Ia mulai berpikir bahwa kehidupan setelah kedinasan harus dipersiapkan, bukan sekadar secara finansial, tetapi juga secara mental dan kapasitas.

Oleh sebab itu, meski masih terikat kedinasan dan memahami adanya aturan yang membatasi anggota kepolisian untuk terlibat langsung dalam bisnis, Tono tetap mempelajari dunia usaha dari lingkungan di sekitarnya.

Bukan dengan membawa institusi kepolisian ke dalam bisnis, tetapi dengan memahami bagaimana bisnis bekerja sebagai sebuah dunia yang memiliki karakter berbeda. Ia belajar dari orang-orang yang ditemuinya, dari pengalaman, dari berbagai persoalan sosial yang muncul di masyarakat, serta dari komunikasi yang dibangun selama menjalankan tugas.

Pengalaman panjang di bidang pembinaan masyarakat memberinya perspektif tersendiri, terutama ketika melayani masyarakat. Ia memahami bahwa masyarakat memiliki persoalan yang beragam, termasuk persoalan ekonomi dan usaha.

Dari sana ia melihat bahwa dunia bisnis dan pembinaan masyarakat memiliki titik temu yang menarik, keduanya sama-sama berhubungan dengan manusia. Menurutnya, bisnis tidak pernah berdiri sendiri. Di balik sebuah usaha selalu ada orang lain. Ada karyawan, mitra, pelanggan, masyarakat sekitar, pemerintah, komunitas dan berbagai pihak yang saling terhubung.

Karena itu, memahami aturan menjadi penting. Tono tidak ingin membawa pola kedinasan secara mentah ke dunia usaha. Namun, nilai yang ia dapatkan selama bertahun-tahun mengabdi tetap menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan barunya.

Kini, ketika telah memasuki masa purna tugas, ia merasa lebih leluasa menjalankan dunia yang selama ini dipelajarinya. Bukan karena baru mengenal bisnis, tetapi karena kini ia dapat berdiri di dalamnya secara utuh, membawa pengalaman dan pamor yang telah dibangunnya selama puluhan tahun.

Tak Berhenti Mengabdi. Bagi sebagian orang, pensiun mungkin menjadi tanda berakhirnya perjalanan profesional. Bagi Tono, purna tugas justru menjadi pintu menuju fase pengabdian yang berbeda.

Ia memang tidak lagi mengenakan seragam dan menjalankan tugas kedinasan seperti sebelumnya. Namun, jiwa yang terbentuk selama puluhan tahun sebagai anggota kepolisian tidak serta-merta hilang.

Semangat melayani, membina, mengedukasi dan memberi manfaat tetap menjadi bagian dari dirinya. Kini, ruang pengabdiannya hadir melalui bisnis dan berbagai aktivitas sosial yang dibangun bersama Tanti. Ia memandang perubahan tersebut sebagai sesuatu yang alamiah. Dulu, ia memiliki tanggung jawab dalam institusi. Sekarang, ia memiliki tanggung jawab sebagai pengusaha, suami, ayah, dan bagian dari masyarakat.

“Setelah purna, saya justru mendapatkan kebahagiaan dan kebanggaan. Saya bisa lebih bebas mengekspresikan diri di dalam profesi yang selama ini saya tempelkan kepada Tanti. Jadi sama-sama berjalan,” ungkapnya.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika pengalaman puluhan tahun akhirnya dapat digunakan dalam ruang yang lebih luas. Bagi Tono, bisnis menjadi pilihan menarik karena tidak mengenal istilah pensiun.

“Jabatan memiliki masa berlaku, sedangkan bisnis jika dibangun dengan benar maka dapat diteruskan,” imbuh lelaki yang memilih melanjutkan pendidikan pasca sarjana di bidang bisnis untuk semakin memahami dunia usaha.

Itulah salah satu alasan mengapa ia begitu serius memikirkan keberlanjutan usaha. Ia tidak ingin membangun bisnis hanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin membangun sesuatu yang kelak dapat diteruskan kepada anak-cucu.

Warisan Turun-temurun. Pasutri asal Kulon Progo, Yogyakarta ini memiliki pandangan yang cukup tegas mengenai warisan. Bagi keduanya, jabatan maupun pangkat bukanlah sesuatu yang dapat diturunkan kepada anak atau cucu. Namun, bisnis, ilmu, pengalaman dan nilai-nilai kehidupan dapat diwariskan.

Pemikiran itu pula yang ia tanamkan kepada putra tunggal mereka, Subronto Laras. Alih-alih mendorong sang anak mengikuti jejaknya menjadi anggota kepolisian, Tono justru ingin putranya yang akrab disapa Bronto ini membangun jalan hidup sendiri. Baginya, tidak perlu mengulang perjalanan yang sama, karena setiap generasi memiliki kesempatan untuk menghadapi tantangan dan pengalaman yang berbeda.

Meski saat ini Bronto belum terlibat langsung dalam meneruskan bisnis yang dibangun Tono dan Tanti karena telah memiliki perusahaan di bawah bendera The Elite serta beberapa perusahaan lainnya, hal tersebut bukan persoalan besar bagi keduanya. Sebab, mereka meyakini, perjalanan yang ditempuh Bronto saat ini justru menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pengalaman dan membangun kapasitas diri.

Bagi Tono dan Tanti, warisan tidak selalu berarti anak harus segera mengambil alih apa yang telah dibangun orang tua. Lebih penting memberikan bekal dan ruang agar generasi berikutnya mampu menemukan jalannya sendiri. Kelak, ketika waktunya tiba, pilihan untuk meneruskan bisnis keluarga dapat lahir dari kesiapan dan kemauan, bukan sekadar kewajiban.

Dengan demikian, ketika suatu saat ia memilih untuk melanjutkan bisnis keluarga, keputusan tersebut lahir dari kesiapan dan kemauannya sendiri, bukan semata karena tuntutan meneruskan apa yang telah dibangun orang tua.

Diceritakan Tono dan tanti, putranya menempuh pendidikan S1 di Amerika Serikat dan S2 di Australia. Kini, ia diarahkan untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis yang dapat menjadi warisan keluarga.

Bukan untuk menciptakan ketergantungan, melainkan memberikan pijakan. Sebab bagi mereka, keberhasilan orang tua bukan ketika anak menjalani kehidupan yang sama persis, tetapi ketika anak mampu berdiri dengan bekal yang lebih baik, menghadapi tantangan dengan caranya sendiri, sekaligus menciptakan sesuatu yang lebih besar untuk generasi setelahnya.

Jadikan Heritage Jolotundo Ruang Kebermanfaatan

Salah satu bentuk nyata dari pemikiran Tono dan Tanti hadir melalui kawasan usaha berlabel Jolotundo. Sebuah tempat yang memiliki ikatan emosional kuat karena berdiri di atas tanah warisan orang tua. Keduanya ingin melanjutkan perjuangan rama dan simbok (ayah dan ibu. Red), sekaligus membuat mereka bangga atas apa yang dilakukan anak-cucunya.

Oleh sebab itu, Tono dan Tanti tidak melihat tanah dan bangunan semata sebagai aset ekonomi, namun sebagai amanah. “Syukur alhamdulillah, ini tanah warisan orang tua. Saya selalu berdoa, Ya Allah, izinkan saya melanjutkan perjuangan orang tua saya yang semasa hidup mereka senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.

Dari pemikiran tersebut, lahirlah area yang tidak hanya berorientasi pada bisnis. Ada ruang kuliner, coffee shop, taman, area kegiatan komunitas bahkan masjid dan pondok pesantren dengan berbagai fasilitas yang dibangun dengan semangat memanfaatkan potensi kawasan.

”Sebelum bangunan lain, kami justru membangun masjid, karena sepatutnya tempat ibadah bukan sekedar hadir sebagai pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dari kehidupan kawasan. Kami juga menghadirkan pondok pesantren tahfiz Al-Qur’an yang diharapkan dapat terus berjalan dan memiliki sistem keberlanjutan. Sehingga bisa mencetak generasi berakhlak mulia,” ujar Tono dan Tanti, bersahutan.

Di bagian lain, terdapat ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, paguyuban, kelompok masyarakat, hingga berbagai acara seperti pernikahan. Taman menjadi salah satu fasilitas yang terbuka untuk masyarakat sekitar. Tono bahkan menyampaikan kepada pihak kelurahan agar fasilitas tersebut dapat digunakan masyarakat tanpa harus selalu berpikir soal biaya. Sebab baginya, manfaat tidak selalu harus dihitung dengan nominal.

“Dalam ilmu bisnis, apa pun yang bisa dimanfaatkan itu pasti akan ada hasil. Kebermanfaat itu akan dibayar Allah SWT, melalui keberkahan, kelancaran usaha, kesehatan, bahkan keselamatan,” imbuh keduanya.

Baik Tono dan Tanti percaya bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan kembali dalam bentuk yang mungkin tidak selalu dapat diprediksi. Itulah yang ia sebut sebagai investasi. Bukan sekadar investasi bisnis, melainkan investasi kehidupan.

Bisnis yang Tumbuh Bersama Nilai

Di tengah pembangunan berbagai usaha tersebut, Tanti tetap berjalan dengan dunianya sendiri. Jika Tono banyak berkonsentrasi pada kawasan dan lini usaha kuliner, Tanti tetap mengembangkan passion yang selama ini menjadi bagian penting dari dirinya, termasuk fashion, wastra, serta berbagai aktivitas bisnis lain.

Mereka tidak memaksakan semua lini usaha berada dalam satu kendali. Sebaliknya, pembagian peran justru menjadi bagian dari cara mereka menjaga keseimbangan. “Setelah suami saya pensiun dan mulai all out di bisnis, kami memang berbagi peran. Saya mengerjakan project-project sesuai passion saya. sedangkan beliau menangani Jolotundo,” jelas Tanti.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa partnership tidak selalu berarti mengerjakan semuanya bersama. Kadang, justru kekuatan sebuah pasangan terletak pada kemampuan untuk memberikan ruang. Tono percaya pada kemampuan Tanti, begitupun Tanti yang memahami wilayah kerja suaminya. Mereka tidak perlu saling mengambil alih peran. Yang mereka butuhkan adalah komunikasi, kepercayaan dan kesediaan untuk saling mengingatkan.

Sepanjang menjalani bisnis, Tanti menyadari bahwa membangun tim yang dapat dipercaya membutuhkan waktu. Kepercayaan tidak lahir hanya karena seseorang memiliki jabatan atau kemampuan. Ia dibentuk melalui proses panjang. “Trust itu nomor satu. Tim yang solid menjadi salah satu kunci agar bisnis dapat terus berjalan tanpa ketergantungan berlebihan kepada owner,” tutur perempuan kelahiran 15 Desember ini.

Tanti sendiri berusaha membangun lingkungan kerja yang nyaman. Menurutnya, orang yang bekerja harus merasa nyaman terlebih dahulu. Ketika seseorang bekerja tanpa ketegangan dan intimidasi, maka kreativitas dan produktivitas dapat tumbuh lebih baik.

Namun, kenyamanan bukan berarti kehilangan kontrol. Kontrol tetap dibutuhkan agar seluruh sistem berjalan sesuai arah. Karena itu, ia menerapkan mekanisme pelaporan secara berkala untuk mengetahui perkembangan pekerjaan.

Bagi Tanti, pemimpin bukan hanya seseorang yang memberi perintah. Pemimpin harus mampu menciptakan ruang bagi tim untuk bertumbuh sekaligus memastikan setiap orang tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Perdebatan Jalan Temukan Solusi

Menjadi pasangan sekaligus partner bisnis tentu tidak selalu berjalan mulus.

Tono dan Tanti bahkan mengungkap jika perdebatan bukanlah sesuatu yang pernah terjadi dalam keseharian mereka, melainkan sesuatu yang sering kali terjadi. “Bukan hanya pernah, tapi sering,” ujar keduanya seraya terkekeh.

Namun, bagi mereka, perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru, perdebatan yang sehat dapat menjadi rem. Tono memiliki prinsip bahwa jika dalam sebuah organisasi semua orang hanya mengatakan “iya”, tanpa ada yang berani berbeda pendapat, risiko kesalahan menjadi lebih besar. “Kalau kita tidak ada debat, tidak ada diskusi, tidak ada yang berseberangan, kita bisa masuk jurang,” katanya.

Karena itu, keduanya justru menyukai orang-orang yang berani mengoreksi mereka. Tono dan Tanti tidak membutuhkan lingkungan yang selalu membenarkan keduanya, melainkan orang-orang yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.

Prinsip itu pun berlaku dalam rumah tangga mereka. Perbedaan pandangan bukan tanda bahwa hubungan mereka buruk. Sebaliknya, diskusi dan perdebatan menjadi semacam “vitamin” yang menjaga mereka tetap berpikir.

”Dalam kehidupan bisnis, dua orang yang selalu sepakat belum tentu selalu benar. Kadang, keputusan terbaik lahir setelah dua sudut pandang yang berbeda dipertemukan. Dan ketika keduanya kembali menemukan titik temu, keputusan tersebut menjadi lebih matang,” tekan Tono.

Belajar dari Kegagalan dan Tantangan

Dari kacamata Tono dan Tanti, mereka menyadari bahwa salah satu kesalahan terbesar dalam bisnis adalah terlalu takut mengambil langkah. Keduanya pun mengingatkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Sekali seseorang memilih menghindar karena takut menghadapi risiko, kesempatan apa pun bisa hilang.

Namun, mereka juga tidak memandang kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan. Melainkan bagian dari proses belajar. “Kalau gagal, kegagalan itu sebenarnya sebuah hal yang selama ini orang takuti. Tapi itu bagian kita. Kita jadi punya cerita dan bisa dibagikan ilmunya kepada orang lain,” tutur keduanya, kompak.

Pemikiran itu membuat Tono dan Tanti tidak mudah panik ketika menghadapi kendala. Mereka bahkan menyebut kendala sebagai bagian dari seni kehidupan.

Ada kisah sederhana yang pernah ditemui Tono dan hingga kini membekas dalam pikirannya. Suatu ketika ia melihat seorang penjual kursi berjalan membawa barang dagangan. Tono kemudian bertanya apakah ia yakin barang yang dijual akan laku? Jawaban sederhana sang penjual justru membuatnya berpikir panjang.

“Kalau ada orang yang jual, pasti ada juga orang yang beli. Buat saya kalimat sederhana tersebut mengandung optimisme yang besar. Oleh sebab itu, dalam bisnis, keyakinan harus disertai tindakan. Tidak cukup hanya berpikir dan berbicara. Seseorang harus menggunakan akal sehat, membaca keadaan, menentukan strategi, lalu bergerak,” ucapnya.

Karena itu, Tono memiliki prinsip jangan terlalu banyak berpikir hingga akhirnya tidak pernah melangkah. Sebab kehidupan tidak akan memberikan seluruh jawabannya sebelum seseorang berani keluar dari zona nyaman.

Menularkan Prinsip Bisnis

Ada tiga kata yang menjadi prinsip Tono dan Tanti ketika membina para karyawan mereka, yakni bersih, rapih dan tertib. Ketiga kata tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi couplepreneur ini, ketiganya memiliki makna yang luas.

”Bersih berarti menjaga integritas dan lingkungan kerja, rapih berarti memiliki keteraturan dalam menjalankan tanggung jawab, sedangkan tertib berarti memastikan setiap pekerjaan dilaporkan dan dipertanggungjawabkan. Kami tidak ingin orang-orang yang bekerja bersama kami hanya mengejar keuntungan, tetapi kami juga ingin mereka pulang membawa ilmu,” tekan Tono.

Menurut pasutri ini, ketika seseorang bekerja di sebuah perusahaan, ia seharusnya tidak hanya mendapatkan gaji. Ia juga harus memperoleh pengalaman, cara berpikir, kedisiplinan, keberanian mengambil keputusan, hingga pemahaman tentang bagaimana menghadapi kehidupan.

Karena itu, ketika ada karyawan yang kemudian memilih keluar untuk membangun usaha atau kehidupan mereka sendiri, Tono dan Tanti tidak selalu melihatnya sebagai kehilangan. Justru mereka merasa bangga ketika ilmu yang diperoleh selama bekerja dapat digunakan untuk kehidupan berikutnya. Baginya, ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bentuk amal yang dapat terus mengalir.

“Jangan berpikir kamu hanya mencari untung di sini. Kamu sedang belajar. Nanti ketika mau usaha sendiri atau mau berkeluarga, kamu sudah punya pegangan,” pesannya.

Membuka Kesempatan, Menumbuhkan Kemandirian

Dalam perjalanan bisnis, Tono dan Tanti menunjukkan bahwa perusahaan dapat menjadi ruang tumbuh bagi siapa saja. Bagi keduanya, keberagaman kemampuan bukan alasan untuk membatasi seseorang mendapatkan kesempatan. Justru, ketika diberi ruang yang tepat, setiap orang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi terbaiknya.

Prinsip tersebut mereka terapkan dalam berbagai lini usaha, termasuk dengan melibatkan penyandang disabilitas maupun kelompok lanjut usia. Di dunia fashion, misalnya, Tanti memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk terlibat dalam proses produksi. Ketelitian, kerapian dan konsistensi menjadi kekuatan yang justru dapat mereka kontribusikan dalam pekerjaan.

Sementara di lini kuliner, keduanya juga membuka ruang bagi para lansia untuk tetap berkarya. Pengalaman dan keterampilan yang dimiliki para lansia tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang telah usang, melainkan sebagai kekayaan yang dapat diteruskan. Terlebih ketika menyangkut resep dan cita rasa makanan yang telah melekat sebagai bagian dari perjalanan sebuah usaha.

Akan tetapi, Tono dan Tanti tidak ingin menciptakan hubungan kerja yang membuat seseorang selamanya bergantung. Sebaliknya, setiap kesempatan diharapkan menjadi pijakan untuk belajar, memperoleh pengalaman, meningkatkan keterampilan, sekaligus membangun kepercayaan diri.

Sebab, bagi keduanya, pemberdayaan yang sesungguhnya bukanlah sekadar memberi ikan, melainkan membantu seseorang memiliki kemampuan untuk terus mencari dan mengembangkan jalannya sendiri.

Di titik inilah bisnis menemukan makna yang lebih luas. Keuntungan tetap menjadi bagian dari keberlangsungan usaha, tetapi kebermanfaatan menjadi nilai yang membuat perjalanan itu memiliki arti. Ketika sebuah perusahaan mampu membuka pintu bagi mereka yang selama ini mungkin lebih sulit mendapatkan kesempatan, maka bisnis tidak lagi hanya menciptakan produk atau keuntungan, tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupan seseorang.

Tono dan Tanti percaya, keberhasilan tidak harus membuat semua orang berada di belakang mereka. Justru, keberhasilan akan terasa lebih berarti ketika semakin banyak orang yang dapat ikut tumbuh, semakin banyak keluarga yang terbantu, dan semakin banyak individu yang akhirnya mampu berdiri tegak dengan kemampuannya sendiri.