Direktur Utama PT Focus Inter Media, Consultant & Relawan

Karina Rasmita Sembiring, Bangun Ekosistem yang Mampu Menciptakan Future Leaders

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Keberhasilan seorang pemimpin terlihat ketika orang-orang yang dipimpin mampu berjalan tanpa selalu bergantung kepadanya. Karena itu, sebagai Direktur Utama, Karina Rasmita Sembiring tidak ingin sekadar membangun bisnis, tetapi juga menumbuhkan manusia di dalamnya. Melalui Focus Inter Media, sosok cantik yang bisa disapa Karina ini terus mengembangkan ruang bagi individu dan organisasi untuk bertumbuh, berani mengambil peran dan menciptakan dampak. Baginya, kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling depan, melainkan tentang membuat lebih banyak orang mampu berdiri dan menyalakan perubahan.

Focus Inter Media kini berada dalam fase perkembangan yang dinamis. Setelah lebih dari satu dekade dibangun dari titik nol, perusahaan yang dipimpin Karina ini tidak lagi sekadar bergerak di bidang media dan komunikasi, tapi juga ke berbagai bidang, mulai dari konsultasi bisnis, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pelatihan, komunikasi dan kepemimpinan, media dan publikasi, personal maupun corporate branding, hingga kolaborasi strategis yang berorientasi pada pengembangan individu dan organisasi.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Karina yang kian memahami bahwa sebuah bisnis tidak cukup hanya bertumbuh secara angka, tetapi harus terus relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus memiliki nilai yang lebih luas.

“Perkembangan artificial intelligence (AI), digitalisasi, perubahan pola kerja, serta perilaku konsumen yang bergerak cepat menjadi tantangan baru. Namun, saya melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk terus belajar,” tuturnya.

Baginya, teknologi bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Justru, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu syarat agar bisnis tetap hidup. Meski demikian, ada satu hal yang menurutnya tidak boleh berubah di tengah kemajuan teknologi, yakni sisi kemanusiaan.

“Teknologi dapat semakin canggih dan sistem dapat semakin otomatis, tetapi kemampuan untuk memahami manusia, membangun kepercayaan, menjaga integritas, berkomunikasi secara efektif, serta menciptakan dampak positif tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan,” tegas perempuan kelahiran Medan, 23 November ini.

Oleh karena itu, Karina ingin Focus Inter Media tumbuh bukan hanya menjadi perusahaan yang lebih besar, tetapi juga memiliki intellectual value dan social value. “Ketika hadir di hadapan klien, organisasi, perusahaan, maupun individu, kami tidak ingin sekadar menawarkan jasa. Kami harus hadir dengan pemikiran, perspektif, solusi dan kontribusi nyata,” lanjutnya.

Bagi Karina, ukuran pertumbuhan bisnis pun sederhana. Ketika sebuah perusahaan berkembang, maka orang-orang di dalamnya sepatutnya ikut bertumbuh dan keberadaannya memberi manfaat.

Sebab, perusahaan besar belum tentu memiliki makna. Tetapi perusahaan yang berkembang sembari membantu banyak orang meningkatkan kapasitasnya memiliki masa depan yang lebih kuat.

Lepaskan Ketergantungan. Ditegaskan Karina, keberhasilan seorang pemimpin justru dapat terlihat dari kemampuan tim ketika sang pemimpin tidak berada di ruangan. Namun, jika seluruh keputusan harus menunggu dirinya, semua ide harus berasal darinya dan setiap orang takut mengambil langkah sebelum mendapatkan persetujuan, maka yang terbentuk bukanlah kepemimpinan, melainkan ketergantungan.

Karena itu, Karina berusaha memberikan dua hal secara bersamaan kepada orang-orang yang bekerja bersamanya, yakni ruang untuk berpikir dan standar untuk bertanggung jawab. Ia ingin anggota tim berani mengatakan, “Saya memiliki sebuah ide,” termasuk ketika ide tersebut berbeda dengan pandangannya.

Ditekankan perempuan yang sedang menempuh pendidikan di IBLAM School of Law  ini, pemimpin yang matang tidak membutuhkan semua orang di sekitarnya selalu mengatakan “ya”. Karena sejatinya perbedaan pendapat bukanlah ancaman bagi seorang pemimpin. Justru, ide terbaik terkadang datang dari orang yang berani melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Akan tetapi, kebebasan berpikir tetap harus berjalan bersama tanggung jawab.

“Saya menyebutnya freedom to think dan freedom from accountability yang harus dibedakan. Seseorang boleh bereksperimen. Boleh bertanya. Boleh melakukan kesalahan dalam proses belajar. Bahkan boleh mengalami kegagalan. Tetapi ketika sebuah tanggung jawab telah diterima, ada disiplin untuk menyelesaikannya,” tegasnya.

Cara tersebut merupakan jalan bagi Karina melakukan pemberdayaan. Ia tidak ingin membentuk orang lain menjadi versi dirinya. Sebab, setiap manusia memiliki kekuatan dan karakter yang berbeda. Tugas seorang pemimpin adalah membantu mereka menemukan kekuatan tersebut, memberikan kesempatan, kemudian menciptakan lingkungan yang membuat mereka berani menggunakannya.

“Ada saatnya pemimpin berdiri di depan untuk menunjukkan arah, Ada waktunya berdiri di samping untuk mendampingi. Namun, ada pula waktunya untuk mundur beberapa langkah agar orang lain belajar berdiri di depan. Leadership bukan membuat orang terus bergantung kepada kita. Leadership adalah membantu orang menjadi semakin mampu tanpa terus bergantung kepada kita,” tambah Karina.

Bagi Karina, tidak ada kebanggaan ketika seluruh pencapaian perusahaan hanya berpusat pada dirinya. Sebaliknya, ia merasa berhasil ketika orang-orang yang pernah bekerja atau belajar bersamanya mampu mengambil keputusan besar, membangun sesuatu secara mandiri, memimpin orang lain, bahkan menjadi jauh lebih unggul darinya dalam bidang tertentu.

Keberanian untuk Berubah. Sebagai praktisi pengembangan diri, Karina melihat ada satu persoalan yang sering kali membuat seseorang sulit berubah. Bukan karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi karena tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah.

Banyak orang membaca buku, mengikuti seminar, mendengarkan motivasi, bahkan mengetahui dengan jelas apa yang keliru dalam hidupnya. Tetapi mengetahui tidak selalu berarti melakukan. Ada jarak di antara keduanya. Dan jarak itulah yang harus dijembatani dengan keberanian.

Sebab, setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi. Terkadang perubahan menuntut seseorang meninggalkan kenyamanan. Ada kalanya seseorang harus mengakui bahwa dirinya keliru. Bahkan, ia mungkin harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak memahami pilihannya.

“Perubahan yang sesungguhnya, dimulai ketika seseorang berani mengambil ownership atas kehidupannya sendiri. Bukan lagi bertanya, ‘mengapa hidup memperlakukan saya seperti ini?’, melainkan bertanya, ‘dengan keadaan yang saya miliki hari ini, apa yang masih dapat saya lakukan?’. Pertanyaan tersebut mengembalikan kendali kepada diri sendiri,” terangnya.

Karina menyadari bahwa manusia tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi dalam hidupnya. Ada kehilangan, kegagalan, kekecewaan, tekanan ekonomi, maupun keadaan lain yang hadir tanpa pernah diminta. Namun, masih ada satu hal yang dapat dipilih, yakni akan menjadi siapa seseorang setelah melewati semua itu.

Di situlah perubahan bermula. Pengembangan diri pun bukan tentang menjadi manusia sempurna atau selalu terlihat kuat. Lebih dari itu, ia adalah keberanian melihat diri secara jujur, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, menerima hal-hal yang memang tidak dapat diubah, kemudian kembali melangkah.

Pada akhirnya, kehidupan seseorang jarang berubah karena satu motivasi besar.

Ia berubah melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali. Bangun ketika ingin menyerah. Belajar ketika merasa sudah tahu. Mencoba kembali setelah gagal. Menjaga disiplin ketika tidak ada yang melihat. Dan tetap melangkah ketika hasil belum terlihat.

“Motivasi membuat kita memulai. Kesadaran memberikan arah. Namun, konsistensilah yang pada akhirnya mengubah hidup,” tekan Karina.

Kebanggaan Diri. Perjalanan Karina dalam dunia pengembangan diri mempertemukannya dengan banyak manusia dan beragam cerita. Ada orang yang datang dengan rasa percaya diri yang hampir hilang. Ada yang merasa sudah terlambat untuk memulai kembali. Ada pula yang memiliki potensi besar, tetapi terlalu lama hidup berdasarkan penilaian orang lain.

Karina tidak pernah menjanjikan bahwa dirinya dapat mengubah kehidupan mereka. Ia memahami, seseorang tidak bisa mengambil alih hidup orang lain. Yang dapat dilakukan adalah membantu seseorang melihat kembali kekuatan yang sebenarnya telah ada dalam dirinya. Kemudian, ketika perubahan mulai terjadi, kebahagiaan itu datang dengan cara yang sederhana.

Orang yang sebelumnya takut berbicara mulai berani menyampaikan pemikiran. Mereka yang merasa tidak mampu mulai berani mengambil tanggung jawab. Ada yang kemudian berani bekerja, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, memimpin tim atau sekadar menemukan kembali keyakinan bahwa hidupnya masih memiliki banyak kemungkinan.

Bagi sebagian orang, perubahan tersebut mungkin sesuatu hal yang kecil. Namun, buat Karina, di sanalah makna sesungguhnya dari sebuah pendampingan. Keberhasilan terbesar tidak selalu berarti seseorang menjadi terkenal, memiliki jabatan tinggi atau mencapai kesuksesan materi. Terkadang, keberhasilan terbesar adalah ketika seseorang kembali memiliki harga diri, harapan dan keyakinan bahwa dirinya masih memiliki pilihan.

“Saya tidak ingin orang berkata, ‘Saya berhasil karena Karina’, tapi saya jauh lebih bahagia jika suatu hari mereka mengatakan, ‘Saya akhirnya berani memperjuangkan hidup saya sendiri’. Saat itulah saya merasa perjalanan panjang yang telah saya laluinya memiliki arti,” ucapnya.

Dan bagi Karina, perusahaan yang bermakna adalah perusahaan yang tidak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri, tetapi juga ikut menumbuhkan orang-orang di sekitarnya. Sebab, semakin banyak manusia yang bertumbuh dan berdaya, semakin besar pula dampak yang dapat diciptakan. “Saya ingin keberhasilan saya membuat lebih banyak orang ikut berhasil,” katanya.

Menciptakan Future Leaders. Karina memiliki perhatian besar terhadap generasi muda. Menurutnya, generasi hari ini memiliki modal yang sangat besar untuk maju dan berkembang. Mulai dari akses pengetahuan yang terbuka luas, teknologi yang berkembang cepat, kecanggihan AI, jaringan global dan berbagai peluang digital menghadirkan ruang yang begitu lapang untuk belajar maupun membangun sesuatu.

Namun, peluang besar juga membawa tantangan. Dunia bergerak cepat. Banyak orang ingin terlihat berhasil dalam waktu singkat. Media sosial kerap menampilkan hasil tanpa memperlihatkan proses panjang di belakangnya. Akibatnya, validasi terkadang dikejar lebih dahulu daripada kompetensi.

Karena itu, Karina tidak ingin generasi muda hanya dibekali kemampuan bisnis. Ia ingin mereka memiliki karakter. Dimulai dari integritas yang menjadi fondasi pertama, kemampuan melakukan hal yang benar meskipun tidak ada yang melihat. Kemudian resilience, agar mereka memahami bahwa kegagalan bukan identitas, melainkan bagian dari proses belajar. Ada pula adaptability, karena apa yang dikuasai hari ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun mendatang. Kemampuan untuk learning, unlearning, dan relearning menjadi semakin penting.

Disiplin juga tidak bisa ditinggalkan. Sebab, banyak orang berbakat tidak gagal karena kurang cerdas, tetapi karena tidak konsisten. Dan yang tak kalah penting adalah empati.

Karina ingin generasi muda memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kemampuan memiliki banyak hal, tetapi juga tentang kemampuan menciptakan kesempatan bagi orang lain.

“Seorang Entrepreneur yang baik bukan hanya mampu menciptakan profit, tapi juga menciptakan lapangan kerja, menciptakan kesempatan, menyelesaikan masalah dan meningkatkan kualitas hidup tim. Dan pada akhirnya, membangun ekosistem yang memungkinkan lebih banyak orang untuk bertumbuh. Saya ingin generasi muda Indonesia memiliki pemikiran ‘Saya ingin berhasil, tetapi keberhasilan saya harus membuat lebih banyak orang ikut berhasil’. Jika pola pikir tersebut tumbuh, maka yang sedang dibangun bukan hanya entrepreneur, tapi juga future leaders,” ungkapnya.

Legacy yang Tetap Hidup. Ada satu keinginan yang mungkin terdengar paradoksal dari Karina. Ia justru berharap suatu hari perusahaan yang ia bangun dapat berjalan dengan sangat baik tanpa harus bergantung kepadanya setiap hari.

Baginya, hal tersebut salah satu tanda bahwa sebuah perusahaan telah mencapai kedewasaan. Ia tidak ingin membangun perusahaan yang kuat hanya karena figur di belakangnya. Ia ingin membangun sistem, budaya, dan nilai yang tetap hidup ketika dirinya tidak lagi berada di dalam ruangan.

Ada integritas yang harus dijaga, ada semangat continuous learning yang tidak boleh berhenti, ada keberanian untuk berpikir dan mempertanyakan, “Apakah ada cara yang lebih baik?”, dan ada satu nilai yang menurutnya semakin penting di tengah perkembangan teknologi, yakni kemanusiaan.

“Bisnis tetap harus memandang manusia sebagai manusia. Bukan hanya sebagai karyawan, pelanggan, angka penjualan, target, atau database. Sebab setiap manusia membawa keluarga, perjuangan, ketakutan, harapan dan impiannya masing-masing,” imbuhnya.

Karena itu, Karina ingin Focus Inter Media menjadi tempat yang menuntut profesionalisme sekaligus memberikan ruang bagi orang-orang di dalamnya untuk bertumbuh sebagai manusia.

Jika kelak ia tidak lagi terlibat dalam aktivitas harian perusahaan, ia tidak ingin orang sibuk mencari sosok Karina di balik setiap keputusan. Ia ingin nilai yang ditanamkannya tetap bekerja. “Legacy bukanlah ketika sebuah perusahaan ataupun organisasi terus membicarakan pendirinya, tetapi ketika nilai yang kita tanam tetap bekerja jauh setelah kita tidak lagi berada di sana untuk mengingatkannya,” pungkasnya.