MajalahInspiratif.com, Jakarta – Menjadi dokter perempuan Melayu pertama sekaligus satu-satunya dari Indonesia yang menempuh Fellowship Manajemen Nyeri di Singapore General Hospital, bukan satu-satunya pencapaian Prof. Dr. dr. Dessy Rakhmawati Emril, Sp.S(K). Karena sekembalinya ke Tanah Air, ia juga merintis sistem pelayanan manajemen nyeri, menginisiasi Program Fellowship Intervensi Nyeri Neurologi pertama di Indonesia, serta membimbing ratusan dokter spesialis saraf dari berbagai daerah untuk mengembangkan layanan manajemen nyeri. Kiprah tersebut bukan hanya menjadikannya sebagai seorang pionir, tetapi juga sosok yang membangun ekosistem neurologi di Indonesia.
Banyak orang memilih jalan yang mudah. Namun tidak demikian dengan Prof. Dr. dr. Dessy Rakhmawati Emril, Sp.S(K). Sejak awal perjalanan kariernya, ia justru tertarik pada bidang yang dianggap paling rumit. Saat masih menempuh pendidikan kedokteran, sebenarnya ia sempat membayangkan mengambil spesialisasi yang lebih ringan. Namun kebutuhan dunia kesehatan saat itu berkata lain. Aceh membutuhkan dokter spesialis saraf, sementara bidang neurologi sendiri dikenal sebagai disiplin ilmu yang kompleks dan menantang.

Alih-alih menghindar, ia justru melihat tantangan itu sebagai peluang. ”Neurologi itu seperti menyusun puzzle. Sulit, tetapi ketika kita memahami pola-pola penyakitnya, semuanya menjadi sangat menarik,” ungkapnya.
Keputusan itu ternyata menjadi titik balik kehidupannya. Dengan ritme belajar yang sangat cepat, ia menyelesaikan pendidikan spesialis neurologi pada usia yang masih sangat muda. Bahkan ketika masih menjalani pendidikan dokter, ia sudah dipercaya menjadi dosen. Langkah yang terbilang tidak biasa itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak mengantarkannya menjadi salah satu akademisi paling berpengaruh di bidang neurologi Indonesia.
Menembus Batas. Diceritakan sosok bersahaja yang karib disapa Prof. Dessy ini, sekitar tahun 2000-an, Indonesia belum memiliki pendidikan formal untuk konsultan manajemen nyeri. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh. Berbekal tekad yang kuat, Prof. Dessy mulai mengirimkan surat elektronik ke berbagai institusi pendidikan internasional untuk mencari peluang belajar.
Usahanya tidak mudah. Berkali-kali ia memperbaiki berkas pendaftaran hingga akhirnya memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan di Singapore General Hospital melalui program postgraduate medical training.
Kesempatan tersebut menjadi tonggak penting dalam hidupnya. Ia menjadi dokter Indonesia pertama dan hingga kini masih menjadi satu-satunya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut. Bahkan, menurut pihak penyelenggara, ia juga menjadi peserta pertama dari rumpun Melayu yang diterima dalam program tersebut.
Perjuangan itu tentu tidak ringan. Selain harus meninggalkan keluarga untuk sementara waktu, biaya pendidikan yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Beruntung, Pemerintah Aceh memberikan beasiswa sehingga impiannya dapat terwujud. ”Kalau waktu itu saya tidak mengambil keputusan tersebut, mungkin perjalanan hidup saya akan berbeda. Saya bersyukur karena memilih mengikuti passion saya,” kenangnya.
Namun perjalanan sesungguhnya baru dimulai ketika bencana tsunami melanda Aceh. Saat itu beberapa dokter spesialis saraf menjadi korban, sehingga tenaga ahli sangat dibutuhkan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Singapura, Prof. Dessy diminta kembali ke Aceh untuk membantu membangun kembali pelayanan kesehatan.
Di tengah tugas besar tersebut, ia mulai menemukan ketertarikan baru terhadap bidang manajemen nyeri. Baginya, nyeri bukan hanya gejala. Nyeri adalah penyakit yang harus dipahami secara menyeluruh. Banyak pasien kehilangan kualitas hidup bukan karena penyakit utama, tetapi karena rasa sakit yang tidak pernah ditangani secara tepat.

Pembangun Ekosistem. Tahun 2010 menjadi awal perjuangan berikutnya. Alih-alih membuka praktik semata, Prof. Dessy memilih membangun sistem pelayanan manajemen nyeri terpadu di rumah sakit tempatnya bertugas di Banda Aceh. Langkah tersebut terbilang revolusioner karena saat itu pelayanan intervensi nyeri neurologi hampir belum dikenal di Indonesia.
Selama bertahun-tahun ia menyusun standar pelayanan, membangun alur kerja, melatih tenaga kesehatan, hingga memperkenalkan berbagai prosedur intervensi yang dahulu belum banyak dilakukan. Selain itu, ia juga merintis Pain DRE Clinic sebagai pusat layanan manajemen nyeri di Aceh, dimana saat ini pasien yang datang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Puncaknya terjadi pada tahun 2016 ketika ia mencetuskan program fellowship atau pendidikan intervensi nyeri neurologi pertama di tanah air. Program berlabel Pain DRE Education Program tersebut segera menjadi magnet bagi dokter-dokter spesialis saraf dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatra.
Apa yang semula dibangun dari Aceh kini berkembang menjadi gerakan nasional. Bahkan beberapa pusat pendidikan intervensi nyeri yang kini berdiri di berbagai kota, dipimpin oleh para murid yang pernah dididiknya. Prof. Dessy percaya, semakin banyak dokter yang memiliki kompetensi, semakin luas pula manfaat yang akan dirasakan masyarakat.
Bagi Prof. Dessy, keberhasilan terbesar bukanlah ketika menjadi satu-satunya ahli, melainkan ketika ilmunya mampu berkembang melalui orang lain. ”Ilmu yang berhenti pada satu orang akan berhenti bersama orang itu. Tetapi ilmu yang dibagikan akan terus hidup melalui generasi berikutnya,” tutur Prof. Dessy, bijak.
Cara berpikir seperti itulah yang menjadikan Prof. Dessy bukan sekadar seorang praktisi, melainkan seorang pembangun ekosistem.
Terus Bertumbuh. Kesibukan sebagai guru besar, dokter spesialis, peneliti, organisator, sekaligus pemilik Pain DRE Clinic dan Pain DRE Education Program, tidak membuat Prof. Dessy berhenti belajar. Ia justru menjadikan belajar sebagai bagian dari gaya hidup.
Setiap kali ada perkembangan ilmu terbaru di dunia manajemen nyeri, ia berusaha mempelajarinya langsung dari para mentor dan kolega internasional. Tidak jarang ia terbang ke luar negeri hanya untuk mengikuti pelatihan singkat atau mendiskusikan metode baru yang dinilai berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Baginya, seorang dokter tidak boleh merasa paling tahu. Apalagi ilmu kedokteran berkembang sangat cepat. Karena itu, satu-satunya cara untuk tetap relevan adalah terus memperbarui pengetahuan dan berani mengembangkan inovasi.
Semangat tersebut juga menjadi fondasi Pain DRE Education Program. Melalui lembaga ini, ratusan dokter spesialis dari berbagai daerah memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi di bidang intervensi nyeri melalui workshop, pelatihan, dan pendidikan berkelanjutan.

Deretan Pencapaian Gemilang
Tak hanya melahirkan ratusan dokter-dokter spesialis nyeri yang saat ini melayani kesehatan masyarakat di berbagai daerah, Prof. Dessy juga mengantongi deretan pencapaian gemilang. Di bidang akademik, ia tercatat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala pada usia 43 tahun, sebuah pencapaian yang menegaskan dedikasinya dalam dunia pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan. Kiprahnya semakin luas melalui perannya sebagai Ketua Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI, yang aktif mendorong penguatan kurikulum, kompetensi dan regulasi nasional di bidang manajemen nyeri.
Komitmen tersebut berbuah berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Dokter Teladan Nasional Kategori Inovasi Tenaga Medis 2024, Excellent Pain Management Award 2025, British Media Encyclopedia sebagai Successful People from Indonesia 2026, serta ASN Inovator Pemerintah Aceh 2025. Beragam inovasi yang dikembangkannya, seperti PainDRE Screening Tools, PainDRE Monitoring Device, dan LAMNI, juga berulang kali meraih Anugerah Inovasi Aceh dan telah direplikasi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Namun, bagi Prof. Dessy, pencapaian tersebut bukanlah garis akhir. Baginya, penghargaan hanyalah penanda bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan telah memberi manfaat. Warisan sesungguhnya adalah ketika sistem yang dibangun terus berkembang, inovasi terus digunakan dan semakin banyak dokter yang mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Kontribusi Besar Seorang Pionir
Meski telah mengantongi sederet pencapaian, Prof. Dessy masih menyimpan target-target baru yang ingin diwujudkan. Bukan lagi tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang bagaimana sistem pelayanan manajemen nyeri di Indonesia dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Baginya, ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti pada ruang akademik. Setiap pengetahuan yang diperoleh memiliki tanggung jawab untuk diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip itulah yang terus membawanya melangkah, bukan hanya sebagai seorang klinisi dan akademisi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan dalam dunia pelayanan kesehatan.
Di tengah perkembangan dunia kedokteran yang semakin maju, Prof. Dessy meyakini bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan teknologi atau metode baru, melainkan memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan terbaik dengan pendekatan yang tepat, manusiawi dan berbasis keilmuan.
Perjalanan panjang yang telah dilaluinya menjadi bukti bahwa sebuah gagasan besar membutuhkan keberanian untuk dimulai, ketekunan untuk dikembangkan dan komitmen untuk diwariskan. Dari sebuah langkah kecil menekuni bidang manajemen nyeri, Prof. Dessy telah membangun sebuah ekosistem yang membuka peluang bagi lebih banyak dokter untuk belajar, berkembang dan memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pasien di seluruh Indonesia.
Kini, ketika jejak perjuangannya terus berlanjut melalui para murid, kolega dan generasi penerus yang ia didik, satu hal menjadi semakin jelas, bahwa kontribusi terbesar seorang pionir bukan hanya tentang apa yang telah ia capai, tetapi tentang perubahan yang tetap hidup bahkan setelah ia memulai langkahnya.
Meluruskan Pemahaman tentang Nyeri
Di tengah perkembangan layanan kesehatan yang semakin maju, tantangan lain yang masih dihadapi Prof. Dessy adalah rendahnya pemahaman masyarakat mengenai nyeri. Banyak orang masih memiliki persepsi yang kurang tepat tentang penyebab nyeri, terutama yang berkaitan dengan saraf. Padahal, pemahaman yang benar menjadi langkah awal agar pasien mendapatkan penanganan yang sesuai.
Salah satu kesalahpahaman yang sering ditemui adalah istilah “saraf kejepit”. Menurut Prof. Dessy, tidak semua keluhan nyeri yang dirasakan berkaitan dengan kondisi saraf yang benar-benar terjepit. Istilah tersebut sering digunakan secara umum oleh masyarakat, padahal gangguan saraf memiliki mekanisme yang lebih kompleks dan membutuhkan pemeriksaan yang tepat.
“Banyak masyarakat yang langsung menganggap semua nyeri karena saraf kejepit. Padahal, tidak selalu demikian. Kalau saraf benar-benar terjepit berat, gejalanya bisa sangat mengganggu aktivitas dan memerlukan penanganan khusus,” jelasnya.
Selain itu, masih banyak pula anggapan bahwa kesemutan pasti disebabkan oleh kolesterol tinggi, nyeri sendi selalu karena asam urat atau setiap nyeri kepala identik dengan tumor. Padahal, penyebab nyeri sangat beragam dan perlu dilihat secara menyeluruh berdasarkan kondisi setiap pasien.
Menurut Prof. Dessy, kebiasaan lain yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa pemeriksaan penunjang seperti MRI atau rontgen merupakan solusi utama untuk mengetahui penyebab nyeri. Padahal, pemeriksaan tersebut merupakan alat bantu untuk mendukung diagnosis, bukan satu-satunya dasar dalam menentukan kondisi pasien.
“Pemeriksaan penunjang itu namanya juga penunjang. Yang utama tetap bagaimana kita menggali keluhan pasien, melakukan pemeriksaan klinis dan memahami sumber masalahnya,” ungkapnya.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam pelayanan manajemen nyeri. Prof. Dessy meyakini bahwa dokter tidak hanya bertugas memberikan terapi, tetapi juga membantu pasien memahami kondisi tubuhnya. Dengan pemahaman yang tepat, pasien tidak hanya mencari pengobatan ketika sakit, tetapi juga mampu mengambil langkah pencegahan dan perawatan yang lebih baik.
Baginya, waktu konsultasi bukan sekadar tentang memberikan diagnosis, melainkan kesempatan untuk mendengarkan pasien, menjelaskan kondisi yang sebenarnya, serta membangun kepercayaan. Sebab dalam penanganan nyeri, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan tindakan medis, tetapi juga oleh komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.
Tetap Hadir untuk Keluarga
Di balik sederet gelar akademik, penghargaan, dan berbagai pencapaian profesional, Prof. Dessy tetaplah seorang perempuan yang menjalani peran sebagai istri sekaligus ibu. Perjalanan untuk sampai pada titik saat ini tentu tidak selalu mudah. Apalagi hampir seluruh jenjang pendidikan yang ditempuhnya berlangsung setelah menikah. Bahkan ketika mengambil pendidikan spesialis maupun Fellowship di Singapura, kedua anaknya masih membutuhkan kehadiran seorang ibu.
Baginya, membangun karier dan keluarga bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama memiliki tujuan yang jelas, dukungan keluarga, serta keberanian untuk mendelegasikan tanggung jawab.
”Sebelum menikah, saya sudah menyampaikan kepada calon suami bahwa saya ingin terus sekolah. Kami harus memiliki prinsip yang sama. Kalau prinsip hidup berbeda, akan sulit berjalan bersama,” kenangnya.
Ia menyadari, tidak ada pencapaian besar yang diraih tanpa pengorbanan. Ketika memilih melanjutkan pendidikan, ada waktu bersama keluarga yang harus dikorbankan. Namun pengorbanan itu selalu diimbanginya dengan perencanaan yang matang. Ia membangun sistem pendukung yang memungkinkan dirinya tetap menjalankan peran sebagai ibu, tanpa mengabaikan cita-citanya sebagai akademisi dan dokter.
Bagi Prof. Dessy, menjadi ibu bukan semata tentang selalu hadir secara fisik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan anak-anak merasakan kasih sayang, perhatian dan kualitas waktu yang utuh. ”Saya mungkin tidak selalu berada di samping mereka. Tetapi ketika bersama, saya ingin benar-benar hadir. Saya ingin mereka tahu bahwa apa pun yang mereka butuhkan, ibunya akan selalu mengusahakan yang terbaik,” tambahnya.
Prinsip itulah yang ia pegang hingga kini. Hari-hari libur menjadi waktu yang hampir selalu didedikasikan untuk keluarga. Ia mengajak anak-anak bepergian, menikmati kebersamaan, sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita.
Kini, kebahagiaan itu terasa semakin lengkap. Putra sulungnya telah menjadi dokter, sementara anak keduanya tengah menempuh pendidikan kedokteran. Keduanya diharapkan kelak melanjutkan perjuangan yang telah ia bangun, termasuk mengembangkan Pain DRE Clinic sebagai pusat layanan manajemen nyeri di Indonesia.
Info lebih Lanjut:
Pain.DRE Specialist Nyeri dan Nyeri Kepala Clinic
Jl. Jeumpa No. 5, 6 & 7 Beurawe, Banda Aceh
Whatsapp : 081362838180
Instagram : @pain.dre_prof.dessy
Pain DRE Education Program
Instagram : @pain.dreeducationprogram





