Pengusaha dan Politisi

Dra. Alida Handau Lampe, M.Si, Menjaga Nyala Mampamiar Oetoes dari Tanah Dayak untuk Masa Depan Indonesia

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, ada nilai-nilai yang tetap dijaga dan diwariskan lintas generasi. Bagi Dra. Alida Handau Lampe, M.Si atau yang akrab disapa Adau, warisan terbesar keluarganya bukan sekadar nama besar keturunan adat Dayak, tetapi sebuah semangat perjuangan tentang pendidikan, kemajuan, dan pengabdian untuk masyarakat. Dari tepian Sungai Kapuas, ia melanjutkan nyala panjang misi leluhur bernama Mampamiar Oetoes, demi memajukan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan peradaban.

Setiap perjuangan besar selalu lahir dari warisan nilai yang dijaga lintas generasi. Ada yang diwariskan dalam bentuk harta, ada pula yang diwariskan melalui semangat, pemikiran, dan pengabdian. Bagi Adau, warisan terbesar keluarganya bukan sekadar nama besar keturunan adat Dayak, melainkan sebuah misi panjang tentang pendidikan, kemajuan, dan keberanian membangun peradaban.

Di usianya yang tak lagi muda, perempuan kelahiran 20 Januari 1956 ini justru merasa semakin terpanggil untuk melanjutkan estafet perjuangan para leluhurnya. Sebuah misi yang sejak ratusan tahun lalu terus dijaga dari tepian Sungai Kapuas, yakni Mampamiar Oetoes, yang berarti memajukan bangsa melalui pendidikan dan pencerahan.

Bukan tanpa alasan jika semangat tersebut begitu melekat dalam perjalanan hidup Adau. Ia merupakan generasi kelima dari garis keturunan Tamanggong Ambo Nikodemus Djayanegara, tokoh adat Dayak yang dikenal sebagai pelopor kemajuan masyarakat Dayak melalui pendidikan.

Warisan Peradaban. Dikisahkan Adau, jauh sebelum pendidikan menjadi sesuatu yang mudah diakses seperti saat ini, Tamanggong Ambo Nikodemus Djayanegara telah memiliki visi besar tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi masyarakat Dayak.

Pada tahun 1835, pertemuannya dengan misionaris asal Jerman bernama Barnstein menjadi titik penting dalam sejarah perjalanan masyarakat Dayak. Saat itu, Tamanggong Ambo bersedia dibaptis dengan satu syarat harus dibangunkan sekolah untuk masyarakat Dayak yang ketika itu masih berada dalam keterbatasan budaya baca tulis.

Keputusan tersebut menjadi awal perubahan besar. Melalui pendidikan, Tamanggong Ambo tidak hanya membuka jalan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat Dayak untuk mengenal literasi dan ilmu pengetahuan modern. Kemitraannya bersama geolog asal Jerman, Schwaner, bahkan berhasil menuntaskan ekspedisi penjelajahan hutan BORNEO pada tahun 1847-1849.

Sebagai bentuk penghormatan, Schwaner menjadikan Tamanggong Ambo sebagai cover buku ikonik “Borneo: Beschrijving van het Stroomgebied van den Barito”, yang hingga kini menjadi salah satu referensi penting dunia sains tentang BORNEO.

“Bagi keluarga kami, pendidikan bukan sekadar proses belajar, tetapi jalan untuk mengangkat martabat masyarakat,” ujar Adau.

Perjuangan Lintas Generasi. Semangat tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.

Putri Tamanggong Ambo, Tabala, bersama suaminya Nehemia Lampe, melanjutkan perjuangan dengan menyekolahkan anak mereka, Sahaboe Mozes Lampe, hingga ke Batavia. Keputusan tersebut menjadi langkah besar di zamannya.

Sahaboe Mozes Lampe kemudian tumbuh menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah masyarakat Dayak. Bersama para tokoh adat lainnya, ia menggagas dan menyelenggarakan Rapat Damai Tumbang Anoi tahun 1894, yakni pertemuan besar yang mengumpulkan tokoh Dayak dari seluruh BORNEO, termasuk Malaysia dan Brunei.

Dari rapat bersejarah tersebut lahirlah “Perjanjian Damai Tumbang Anoi 1894”, yang menjadi tonggak penting perubahan peradaban masyarakat Dayak. Melalui perjanjian ini, para tokoh adat sepakat menghentikan budaya perang antarsuku, perbudakan dan pengayauan. Masyarakat Dayak mulai memasuki masa pencerahan menuju kehidupan yang lebih maju dan beradab.

Tak berhenti di sana, Sahaboe Mozes Lampe juga mendirikan Dayaksche Bonds, koperasi Sarekat Dayak, hingga sekolah-sekolah yang membuka akses pendidikan bagi masyarakat. “Leluhur kami percaya bahwa kemajuan tidak mungkin dicapai tanpa pendidikan. Karena itu, sekolah selalu menjadi bagian penting dari perjuangan mereka,” tutur Adau.

Perjuangan keluarga besar Lampe terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Ayah Adau, Esra Lampe, tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Dayak Besar yang turut memperjuangkan Kabupaten Kapuas agar diakui sebagai bagian dari NKRI. Nilai-nilai pengabdian itulah yang kemudian membentuk cara pandang Adau terhadap kehidupan.

Baginya, membangun bangsa tidak selalu harus dimulai dari pusat kekuasaan. Perubahan justru dapat lahir dari daerah dari masyarakat adat, dari pendidikan dan dari keberanian menjaga nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.

Karena itulah, di tengah berbagai dinamika sosial dan politik yang berkembang saat ini, Adau merasa memiliki tanggung jawab moral untuk kembali membawa semangat Mampamiar Oetoes ke dalam konteks Indonesia modern.

Infrastruktur Masa Depan. Di usianya saat ini, Adau masih aktif meneliti dan mendalami berbagai gagasan tentang pembangunan masa depan Indonesia. Salah satunya melalui penelitian disertasi yang mengangkat konsep Ibu Kota Nusantara sebagai “Wise Learning City” atau kota pembelajaran yang hidup.

Dalam kajiannya, ia memadukan berbagai teori besar dunia dari Paulo Freire, Henri Lefebvre, hingga UNESCO dengan ekologi dan kosmologi Dayak. Baginya, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan gedung dan infrastruktur fisik. “Pendidikan adalah infrastruktur utama sebuah peradaban,” tegasnya.

Dari pemikiran tersebut, Adau menggagas pendirian Urban Sociotechnical Innovation School (USIS) di kawasan IKN. Sekolah tersebut diharapkan menjadi pusat pembelajaran peradaban baru abad ke-21 yang berbasis teknologi, inovasi sosial dan nilai-nilai kearifan lokal. Ia ingin tanah Dayak tidak hanya dikenal sebagai wilayah adat, tetapi juga menjadi pusat lahirnya gagasan-gagasan besar masa depan.

Gagas Ekonomi Kerakyatan. Selain fokus pada pendidikan, Adau juga menaruh perhatian besar terhadap persoalan ekonomi rakyat. Menurutnya, Indonesia membutuhkan model pembangunan yang lebih berkeadilan, bukan ekonomi yang hanya bertumpu pada kelompok besar, tetapi ekonomi yang memberi ruang tumbuh bagi masyarakat. Karena itu, ia mendukung penguatan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi modern.

Namun demikian, Adau menilai bahwa perubahan tersebut tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. “Transformasi ekonomi harus dilakukan bertahap, realistis, dan tetap menjaga stabilitas negara,” jelasnya.

Baginya, koperasi masa depan bukan sekadar formalitas atau lembaga simpan pinjam, melainkan kekuatan produktif yang mampu menggerakkan sektor pangan, pertanian, logistik, hingga industri desa.

Ia juga menilai bahwa pembangunan kelas menengah produktif di desa menjadi salah satu kunci penting bagi masa depan Indonesia. Karena itu, penguatan teknologi, pendidikan vokasi, digitalisasi koperasi, hingga hilirisasi industri harus berjalan beriringan.

“Yang dibutuhkan bukan memiskinkan yang besar, tetapi memperluas kesempatan agar rakyat bisa ikut tumbuh,” tekan Adau

Menjaga Semangat Gotong Royong

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Adau percaya bahwa Indonesia tetap membutuhkan nilai-nilai gotong royong sebagai fondasi pembangunan. Menurutnya, model ideal Indonesia bukan kapitalisme ekstrem maupun sosialisme sentralistik. Tetapi ekonomi gotong royong modern. Sebuah sistem yang memadukan efisiensi pasar, kekuatan negara, dan demokrasi ekonomi rakyat.

Karena itulah, ia terus menyuarakan pentingnya pendidikan, penguatan masyarakat adat, pembangunan ekonomi berbasis rakyat, serta pengembangan sumber daya manusia. Baginya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung atau besarnya investasi, tetapi dari seberapa besar rakyat dapat hidup lebih bermartabat, terdidik, adil, dan sejahtera.

Meneruskan Nyala Perjuangan

Bagi Adau, perjalanan hidup bukan sekadar tentang pencapaian pribadi. Lebih dari itu, hidup adalah tentang menjaga api perjuangan agar tetap menyala untuk generasi berikutnya. Ia ingin semangat Mampamiar Oetoes terus hidup, bahwa pendidikan adalah jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dari tepian Sungai Kapuas, semangat itu telah diwariskan lintas generasi. Dan hari ini, melalui pemikiran, pendidikan, serta gagasan yang terus ia perjuangkan, Adau ingin memastikan cahaya itu tetap menyala untuk Indonesia. “Harapan saya sederhana, semoga anak cucu kita kelak bisa hidup lebih baik, lebih pintar, lebih bermartabat, dan lebih sejahtera,” tutupnya.