CEO Brilliant, Ketua Kompartemen Perdagangan Dalam Negeri KADIN Indonesia

Shanty Hani,. BBA, Pengusaha Tangguh di Balik Ratusan Relawan MBG: Ketika Dapur Gizi Menjadi Penggerak Ekonomi Rakyat

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di balik hiruk pikuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada sosok perempuan yang tidak hanya melihatnya sebagai program penyedia makanan, tetapi sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat. Dia adalah Shanty Hani, yang membangun sembilan dapur MBG yang kini menjadi ruang penggerak ekonomi, membuka peluang kerja bagi ratusan relawan, serta memberi manfaat bagi ribuan penerima. Berbekal pengalaman panjang sebagai pengusaha dan organisator, ia membuktikan bahwa bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian sosial. Baginya, setiap dapur yang berdiri bukan sekadar tempat memasak, melainkan titik harapan bagi banyak orang untuk terus bertumbuh.

Di balik keberhasilan sebuah program besar, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam. Mereka bukan hanya menjalankan sistem, tetapi juga memastikan manfaatnya sampai kepada masyarakat. Sosok itu salah satunya adalah Ayi Hani Susanti atau yang akrab disapa Shanty Hani.

Melalui sembilan dapur MBG yang dikelolanya di wilayah Bogor dan Jakarta, Shanty Hani bersama tim tidak hanya menyiapkan ribuan porsi makanan setiap hari, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ratusan orang terlibat dalam ekosistem yang ia bangun, mulai dari tenaga operasional, ahli gizi, relawan, hingga pemasok bahan pangan lokal.

“Bagi saya, MBG bukan hanya tentang makanan. Ada banyak kehidupan yang ikut bergerak di belakangnya. Ada orang yang bekerja, ada keluarga yang mendapatkan penghasilan, ada petani, UMKM dan supplier yang ikut merasakan dampaknya,” ujarnya.

Menanti Kepastian demi Keberlanjutan MBG

Shanty Hani: ”Mitra Bukan Menolak Kebijakan, Kami Hanya Ingin Diajak Berdiskusi”

Di balik satu dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada puluhan pekerja yang setiap hari menggantungkan penghasilan untuk keluarga mereka. Ada ibu rumah tangga yang akhirnya memiliki pekerjaan, ada pencari nafkah yang kembali memiliki harapan, ada petani, pemasok bahan pangan, UMKM, hingga koperasi yang ikut bergerak bersama roda program tersebut. Karena itu, ketika kebijakan penghentian sementara penyaluran MBG selama masa libur sekolah dan moratorium sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diberlakukan, kegelisahan tidak hanya dirasakan oleh para mitra, tetapi juga oleh mereka yang selama ini hidup dari ekosistem yang terbentuk di sekitarnya.

Kegelisahan itulah yang disampaikan Shanty Hani, yang juga menjadi salah satu pengurus GAPEMBI (Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia) Pusat. Menurutnya, para mitra memahami bahwa setiap kebijakan pemerintah tentu memiliki tujuan yang baik. Namun terbitnya Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 12 Tahun 2026 memunculkan pertanyaan karena dinilai berbeda dengan skema kerja sama yang selama ini menjadi dasar para mitra membangun dan mengoperasikan dapur MBG.

Shanty Hani menjelaskan, salah satu hal yang membuat para mitra merasa terkejut adalah adanya perbedaan antara kebijakan terbaru dengan skema yang selama ini menjadi acuan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BGN dan mitra. Dalam perjanjian tersebut, mitra memahami bahwa selama periode libur sekolah insentif operasional tetap diberikan, meskipun hanya sebesar 50 persen dari nilai operasional normal.

Ketentuan itulah yang menjadi dasar banyak mitra berani menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk membangun dapur MBG. Oleh sebab itu, ketika operasional dihentikan tanpa skema yang sebelumnya dipahami bersama, muncul kekhawatiran mengenai keberlangsungan usaha, pembayaran kewajiban kepada perbankan, hingga nasib para pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari program tersebut.

”Kami tidak menolak kebijakan pemerintah. Kami hanya berharap ada ruang dialog dan komunikasi yang lebih baik. Karena seluruh investasi yang kami lakukan sejak awal membangun dapur SPPG itu berdasarkan PKS yang sudah disepakati bersama,” ujarnya.

Bagi Shanty Hani, membangun dapur MBG bukanlah perkara sederhana. Sebelum memperoleh izin operasional, setiap mitra harus melalui proses verifikasi yang panjang, mulai dari legalitas yayasan, administrasi, hingga penetapan titik layanan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, mitra harus menyiapkan investasi besar untuk membangun fasilitas sesuai standar yang ditetapkan.

Mulai dari penyediaan lahan, pembangunan gedung, pengadaan peralatan dapur, instalasi listrik dan internet, hingga perekrutan tenaga kerja dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Untuk satu dapur saja, investasi yang dibutuhkan dapat mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.

”Dana itu bukan berasal dari APBN atau APBD. Banyak mitra menggunakan modal pribadi, mengajukan pinjaman ke bank, menggandeng investor, bahkan ada yang menjaminkan asetnya. Karena itu ketika ada perubahan kebijakan yang berdampak pada operasional, tentu kami berharap bisa diajak berdiskusi untuk mencari solusi bersama,” katanya.

Sembilan Dapur, Ribuan Harapan. Lebih jauh, Shanty Hani mengungkapkan bahwa hingga saat ini dirinya telah membangun sembilan titik dapur MBG yang tersebar di Bogor dan Jakarta. Lima di antaranya berada di kawasan pedesaan Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Salah satu dapur tersebut bahkan dijalankan melalui kerja sama dengan Pasukan Marinir 1 Wilayah Indonesia Barat sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan gizi kepada masyarakat.

Sayangnya, di tengah upaya yang terus dibangun, empat titik dapur yang berlokasi di Jakarta kini terdampak kebijakan moratorium (pembatasan). Dua di antaranya berada di kawasan Kemayoran dan Jagakarsa.

Menurut Shanty Hani, kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi GAPEMBI karena menimbulkan ketidakpastian bagi para mitra yang telah mengeluarkan investasi besar untuk membangun fasilitas sesuai standar yang ditetapkan. Dampaknya pun kian meluas hingga menyentuh ekosistem yang sudah terbentuk, termasuk para pekerja, pemasok dan masyarakat yang selama ini ikut bergerak bersama program MBG.

”Secara nasional, sekitar 14.000 pihak terdampak kebijakan moratorium, jumlah tersebut di luar pihak lain yang juga menggantungkan penghasilan dari keberlangsungan dapur MBG,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian mitra membangun dapur menggunakan fasilitas pembiayaan dari perbankan dengan menjaminkan aset pribadi. Ketika operasional terhenti, kewajiban pembayaran kepada bank tetap berjalan, sementara pemasukan dari dapur belum dapat kembali berjalan seperti sebelumnya.

”Kami membangun dapur berdasarkan titik dan ID yang telah disetujui. Setelah itu kami menyiapkan lahan, membangun fasilitas, melengkapi peralatan, merekrut tenaga kerja, hingga menyiapkan rantai pasok bahan pangan. Semua membutuhkan biaya dan komitmen yang besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar investasi pembangunan dapur berasal dari modal swasta, baik dana pribadi, pinjaman perbankan, kerja sama investor, maupun aset yang dijaminkan. Karena itu, ketika operasional terhenti sementara kewajiban finansial tetap berjalan, para mitra berharap ada kepastian dan solusi yang dapat memberikan rasa aman bagi semua pihak.

Namun bagi Shanty Hani, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya soal investasi yang belum kembali. Yang lebih membuatnya prihatin adalah nasib para pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas dapur MBG.

Di dapur yang dikelolanya di wilayah Bogor dan Jakarta, puluhan tenaga kerja terlibat setiap hari. Mereka terdiri dari tenaga operasional, relawan, ahli gizi, hingga pekerja pendukung lainnya. Sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

”Kalau kami sebagai pengusaha mungkin masih bisa mencari jalan keluar. Tetapi bagi pekerja harian, ketika dapur berhenti, penghasilan mereka juga ikut berhenti. Padahal kebutuhan hidup terus berjalan. Belum lagi para petani, pemasok bahan pangan, koperasi, dan pelaku UMKM yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok program,” tuturnya.

Menurut Shanty Hani, setiap dapur MBG sesungguhnya telah membentuk ekosistem ekonomi yang memberi manfaat bagi banyak pihak. ”MBG bukan hanya soal makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat. Ada banyak kehidupan yang ikut bergerak di belakangnya. Ada begitu banyak sektor ekonomi kerakyatan yang selama ini ikut tumbuh bersama program MBG,” jelasnya.

Melalui GAPEMBI, Shanty Hani berharap seluruh pihak dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Baginya, tujuan pemerintah dan para mitra sejatinya sama, yaitu memastikan Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan secara berkelanjutan dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

”Kami ingin program ini berhasil. Kami tidak ingin merugikan negara, tetapi kami juga berharap tidak ada pihak yang dirugikan. Yang kami harapkan sederhana, yakni komunikasi yang lebih terbuka dan solusi yang adil bagi semua pihak,” pungkasnya.

Belajar Bertahan Sejak Muda. Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu penggerak dapur MBG, Shanty Hani telah melalui perjalanan panjang di dunia usaha. Perempuan asal Bogor ini mulai mengenal dunia bisnis sejak usia belia.

Tahun 1998, setelah menyelesaikan pendidikan SMA, kondisi keluarga membawanya masuk ke dunia profesional lebih cepat dari yang dibayangkan. Saat itu, pemilik perusahaan tempatnya bekerja mengalami musibah sehingga tidak dapat menjalankan bisnis seperti biasa.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang ekspor kayu dan batu alam dengan jaringan pelanggan internasional. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, Shanty Hani harus belajar mengelola operasional perusahaan, menangani produksi, berkomunikasi dengan klien luar negeri, hingga memahami dinamika bisnis ekspor.

“Saya waktu itu masih sangat muda dan belum punya pengalaman bisnis. Tapi keadaan memaksa saya belajar. Dari sana saya memahami bahwa bisnis bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tanggung jawab,” kenangnya.

Pengalaman tersebut menjadi sekolah kehidupan yang membentuk mentalnya sebagai seorang Entrepreneur. Namun, meski sudah memiliki pengalaman praktik, Shanty Hani menyadari pentingnya pendidikan formal. Ia kemudian melanjutkan studi International Business Management di Northern California Global University hingga meraih gelar BBA (Bachelor of Business Administration).

Jelajahi Berbagai Bisnis. Setelah kembali ke Indonesia, Shanty Hani tidak berhenti mengeksplorasi peluang. Ia pernah membangun bisnis event organizer (EO) yang bergerak di bidang hiburan, pameran, hingga kegiatan olahraga. Dunia entertainment memberinya pengalaman besar dalam membangun relasi, mengelola tim, dan memahami pentingnya kolaborasi.

Tidak berhenti di sana, ia juga sempat terjun ke bidang teknologi sebagai programmer sistem WiFi dan menangani berbagai proyek, termasuk pengembangan jaringan WiFi Indosat M2.

Perjalanan bisnisnya kemudian membawa Shanty Hani mengenal dunia konveksi. Berawal dari membantu sebuah proyek pembuatan seragam, ia melihat peluang besar di bidang tersebut. Pada tahun 2013, ia mengakuisisi sebuah usaha konveksi di Jakarta Selatan dan mengembangkannya menjadi bisnis yang melayani kebutuhan seragam perusahaan, komunitas, hingga berbagai instansi. “Bagi saya setiap bidang usaha memberikan pelajaran berbeda. Semua pengalaman itu membentuk cara saya melihat bisnis hari ini,” katanya.

Perluas Networking. Kesadaran bahwa bisnis tidak dapat berjalan sendiri membuat Shanty Hani aktif membangun jejaring. Pada tahun 2006, ia bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Awalnya, ia mengaku belum memahami banyak hal mengenai organisasi tersebut. Namun seiring waktu, ia menemukan banyak manfaat dari lingkungan pengusaha yang saling berbagi pengalaman dan membuka peluang kolaborasi.

Perjalanan organisasinya terus berkembang hingga kemudian ia bergabung dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Saat ini, Shanty Hani dipercaya sebagai Ketua Kompartemen Perdagangan Dalam Negeri KADIN Indonesia. Melalui KADIN, ruang pengabdiannya semakin luas. Ia tidak hanya berbicara mengenai bisnis, tetapi juga terlibat dalam berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. “Organisasi membuka banyak pintu. Kita bertemu orang-orang hebat, belajar dari pengalaman mereka, dan menemukan peluang untuk memberi manfaat yang lebih besar. Olahraga golf yang jadi hobi saya juga bermanfaat membangun networking relasi bisnis. Bahkan saat ini saya sering joint di turnamen golf nasional maupun internasional,” papar perempuan yang juga hobi olahraga gym dan juga bergabung dalam organisasi PERPINA (Perempuan Pemimpin Indonesia) ini.

Gerakan Sosial & MBG. Di balik kesibukannya sebagai pengusaha, Shanty Hani memiliki perhatian besar terhadap kegiatan sosial. Kepedulian tersebut diwujudkan melalui Yayasan Sahabat Khadijah, sebuah lembaga sosial yang ia bangun bersama sejumlah sahabat dari berbagai negara.

Yayasan tersebut berfokus membantu anak yatim, kaum dhuafa, serta masyarakat yang membutuhkan dukungan. Salah satu perhatian utamanya adalah pemenuhan kebutuhan pangan.

“Sejak awal saya percaya bahwa makanan adalah kebutuhan paling dasar manusia. Ketika kebutuhan pangan terpenuhi, seseorang punya kesempatan lebih besar untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Namun demikian, ketika program MBG mulai diperkenalkan pemerintah, Shanty Hani termasuk salah satu pihak yang belum sepenuhnya yakin. Sebagai pengusaha, ia terbiasa melihat segala sesuatu dari sisi perencanaan, regulasi dan kepastian eksekusi. “Jujur, di awal saya masih ragu. Saya belum melihat seperti apa implementasinya nanti,” katanya.

Keraguan tersebut perlahan berubah setelah adanya kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan KADIN Indonesia. Melalui berbagai sosialisasi dan pembahasan yang intensif, Shanty Hani mulai memahami arah besar program kampanye Presiden Prabowo Subianto ini.

Lebih dari sekadar proyek pemerintah, MBG menurutnya merupakan program strategis yang memiliki dampak sosial dan ekonomi yang sangat luas. Kesamaan visi-misi dengan aktivitas Yayasan Sahabat Khadijah membuat dirinya semakin yakin untuk terlibat. Dari satu dapur, kemudian berkembang menjadi dua, tiga, hingga saat ini mengelola enam dapur aktif menuju sembilan titik operasional yang tersebar di Bogor dan Jakarta.

“Awalnya saya mencoba satu titik. Setelah melihat manfaatnya secara langsung, saya semakin percaya bahwa program ini memang membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat,” tekannya

1 Dapur, 3 Misi. Bagi sebagian orang, MBG mungkin hanya dipandang sebagai program pembagian makanan. Akan tetapi di mata Shanty Hani, manfaatnya jauh lebih besar. karena setiap dapur yang dikelola membawa tiga misi utama sekaligus.

Misi pertama adalah membantu penerima manfaat, dalam hal ini ribuan siswa dari tingkat TK hingga SMA yang mendapatkan akses MBG setiap hari. Di beberapa wilayah pedesaan, program ini juga menjangkau ibu hamil, ibu menyusui dan balita. “Kami melihat perubahan yang nyata. Anak-anak menjadi lebih paham pentingnya makanan bergizi. Orang tua juga mulai lebih sadar tentang pola makan sehat,” ungkapnya.

Misi kedua adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Dijelaskan Shanty Hani, di 1 dapur yang ia kelola membutuhkan sedikitnya 51 orang tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sekitar. Artinya, satu dapur bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi puluhan keluarga. “Banyak daerah yang tingkat penganggurannya cukup tinggi. Kehadiran dapur MBG membantu mereka mendapatkan pekerjaan dan penghasilan,” jelas perempuan berdarah sunda ini.

Sementara misi ketiga adalah menggerakkan ekonomi lokal. Karena kebutuhan bahan baku dipenuhi dari petani, pedagang dan pelaku UMKM di sekitar lokasi dapur. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak berhenti pada pengelola program, tetapi menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. “Ketika satu dapur hadir, yang bergerak bukan hanya distribusi makanan, tetapi ekosistem ekonomi di sekitarnya juga ikut hidup,” tambahnya.

Menjawab Keraguan Publik. Sebagai program berskala nasional, MBG tentu tidak lepas dari berbagai kritik dan kekhawatiran masyarakat. Salah satu yang paling sering muncul adalah isu keamanan pangan. Menurut Hani, aspek tersebut justru menjadi perhatian utama dalam operasional sehari-hari.

Setiap dapur diwajibkan menerapkan standar kebersihan yang ketat. Mulai dari penggunaan hand glove dan masker selama proses pengolahan MBG, sertifikasi tenaga kerja, pengawasan ahli gizi, kepala chef profesional hingga penggunaan CCTV minimal di 12 titik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Semua proses ada standarnya. Ahli gizi menyusun kebutuhan nutrisi, chef menyiapkan menu dan seluruh tim bekerja berdasarkan prosedur yang jelas. Selain itu, seluruh relawan dan tenaga kerja juga mendapatkan pelatihan sebelum mulai bertugas. Mereka dibekali pengetahuan mengenai keamanan pangan, kebersihan, hingga tata cara pengolahan makanan yang benar. Dan buat kami, kualitas pelayanan tidak boleh dikompromikan karena menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda,” tegasnya.

Perempuan Harus Merdeka Secara Finansial

Di tengah berbagai pencapaian yang diraih, ada satu prinsip yang selalu dipegang Shanty Hani sejak muda, yakni perempuan harus memiliki kemandirian finansial. Pandangan tersebut bukan muncul karena kurangnya dukungan keluarga. Justru sebaliknya, sang suami selalu memberikan dukungan penuh terhadap seluruh aktivitas bisnis yang ia jalani.

Namun bagi Shanty Hani, memiliki penghasilan sendiri memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri. “Saya percaya perempuan harus punya kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Bukan berarti tidak menghargai suami, tetapi karena setiap perempuan juga memiliki mimpi dan kebutuhan yang ingin diwujudkan,” ucapnya, bijak

Shanty Hani juga berpesan kepada kaum hawa untuk tidak takut memulai usaha hanya karena merasa belum siap. Keberanian untuk melangkah sering kali menjadi pembeda antara mereka yang berhasil dan yang hanya terus menunggu kesempatan. “Jangan malas. Jangan hanya bergantung pada satu sumber penghasilan. Apa pun pekerjaannya, selama halal dan dijalankan dengan sungguh-sungguh, itu adalah jalan menuju kemandirian,” pesannya.

Menebar Manfaat, Meninggalkan Jejak Kebaikan

Di tengah kesibukannya mengelola berbagai aktivitas bisnis dan sosial, Shanty Hani tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Ia percaya bahwa kesuksesan tidak akan berarti jika tidak bisa dinikmati bersama orang-orang tercinta. Makan bersama, berlibur, dan menciptakan momen kebersamaan menjadi cara sederhana yang selalu dijaganya.

Di luar itu, ia juga terus menyalurkan sebagian rezekinya kepada mereka yang membutuhkan. Baginya, berbagi bukanlah kewajiban yang dilakukan karena berlebih, melainkan bentuk rasa syukur atas setiap kesempatan yang diberikan Tuhan.

Kini, setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia usaha, Shanty Hani masih menyimpan banyak mimpi dan harapan. Ia ingin terus menjaga keberlangsungan bisnis yang telah dibangunnya, memperluas manfaat program MBG, dan memastikan semakin banyak masyarakat yang merasakan dampak positif dari setiap langkah yang diambilnya.

Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu mencapai puncak, melainkan seberapa banyak tangan yang bisa ia rangkul dalam perjalanan menuju ke sana.