Entrepreneur, Ketua DPW GAPEMBI Sumatera Selatan

Tri Yulia Rizki Ananda, GAPEMBI, Wadah Pengusaha MBG yang Tumbuh Bersama Masyarakat

MajalahInspiratif.com, Jakarta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya tentang membagikan makanan bagi anak-anak Indonesia. Di balik program tersebut, ada banyak tangan-tangan yang ikut bergerak membangun harapan, memberdayakan masyarakat, sekaligus membantu menggerakkan roda perekonomian keluarga. Melalui GAPEMBI, para pelaku usaha MBG kini memiliki wadah untuk saling menguatkan, mencari solusi, dan tumbuh bersama demi menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Salah satu sosok yang aktif mengambil peran tersebut adalah Tri Yulia Rizki Ananda, perempuan tangguh yang percaya bahwa keberdayaan perempuan mampu menjadi kekuatan besar dalam membantu banyak kehidupan.

Di balik lahirnya banyak dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai bergerak di berbagai daerah, terdapat banyak sosok perempuan tangguh yang ikut mengambil peran besar di dalamnya. Bukan hanya berjuang membangun usaha, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, memberdayakan masyarakat sekitar, hingga membantu memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang lebih baik.

Salah satu sosok tersebut adalah Tri Yulia Rizki Ananda atau yang akrab disapa Rizki. Perempuan kelahiran Palembang, 21 Juli 1984 ini dikenal sebagai pelaku usaha catering sekaligus sosok yang aktif membesarkan organisasi GAPEMBI (Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia), sebagai wadah para pengusaha Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bagi Rizki, hadirnya GAPEMBI bukan sekadar organisasi biasa. Lebih dari itu, GAPEMBI menjadi rumah bersama bagi para pelaku usaha MBG untuk saling menguatkan, mencari solusi dan tumbuh bersama menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

“Awalnya GAPEMBI dibentuk karena teman-teman pengusaha MBG ini banyak yang bingung saat menghadapi kendala di lapangan. Mau mengadu ke mana, mencari solusi ke siapa. Dari situlah akhirnya GAPEMBI hadir sebagai wadah untuk saling membantu dan saling menguatkan,” ujar Rizki.

Berawal dari Usaha Keluarga. Sebelum terjun aktif dalam program MBG dan organisasi GAPEMBI, Rizki telah lebih dulu mengenal dunia catering sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang juga memiliki usaha catering.

Namun seiring waktu, usaha keluarga tersebut sempat berhenti karena orangtuanya tidak lagi mampu mengelolanya. Rizki sendiri sempat bekerja kantoran pada tahun 2006. Akan tetapi, setelah memiliki anak dan merasa kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, ia akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan mulai merintis usaha catering sendiri dengan brand Catering Tyra.

“Namanya bisnis itu sama seperti kehidupan. Kadang di atas, kadang di bawah. Tinggal bagaimana cara kita menghadapi dan mengambil keputusan di setiap proses yang terjadi,” tuturnya.

Kurang lebih selama dua puluh tahun menjalani usaha, Rizki telah melewati banyak tantangan. Mulai dari persoalan bisnis, tekanan mental, hingga fase kehilangan rasa percaya diri. “Titik terendah pasti pernah ada. Apalagi saat kepercayaan diri mulai berkurang, kesehatan terganggu, dan hubungan dengan lingkungan sekitar juga ikut terdampak. Tapi kita tidak boleh diam menerima keadaan. Kita harus berani mengambil keputusan dan terus bergerak maju meski dalam keterbatasan,” katanya.

Terjun ke Program MBG. Momentum bergabung dalam program MBG mulai Rizki jalani pada tahun 2025. Menurutnya, program tersebut bukan hanya sekadar program pemerintah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membantu memperbaiki persoalan gizi masyarakat.

Ia melihat masih banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan perhatian serius terkait pemenuhan gizi, khususnya di daerah-daerah yang masih mengalami stunting dan kekurangan nutrisi. “Ketika melihat langsung di lapangan, ternyata masih banyak anak-anak yang bahkan merasa susu kotak ukuran kecil itu sesuatu yang mewah. Dari situ saya merasa program ini memang sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Tak heran, Rizki berharap program MBG dapat terus berjalan secara berkelanjutan, siapapun pemimpinnya nanti. “Harapan saya program ini jangan berhenti hanya karena pergantian kepemimpinan. Karena penerima manfaatnya nyata dan masih sangat banyak yang membutuhkan,” katanya.

Pemberdayakan Masyarakat. Sebagai bagian dari GAPEMBI, Rizki juga menaruh perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar. Menurutnya, keberadaan dapur MBG bukan hanya soal menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Setiap dapur MBG, lanjut Rizki, melibatkan puluhan relawan yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar. Mayoritas relawan tersebut merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.

“Rata-rata relawan itu ibu rumah tangga yang memang ingin membantu ekonomi keluarga. Ada yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anak, sekarang perlahan ekonominya mulai terbantu,” ujarnya.

Dalam satu dapur MBG sendiri, setidaknya terdapat sekitar 47 relawan yang ikut terlibat. Selain relawan, dapur juga didukung tenaga profesional seperti chef bersertifikat dan ahli gizi guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.

Tak hanya memberdayakan masyarakat, GAPEMBI juga aktif memberikan penguatan kepada para pengusaha MBG agar tetap bertahan menghadapi tantangan di lapangan. “Ketika ada dapur yang mengalami kendala, GAPEMBI hadir membantu mencari solusi. Jadi kita tidak berjalan sendiri,” jelas Rizki.

Jaga Kualitas dan Sanitasi. Di tengah maraknya kekhawatiran masyarakat terkait kasus keracunan makanan pada program MBG, Rizki menegaskan bahwa penerapan SOP dan standar kebersihan menjadi prioritas utama di dapurnya.

Ia memastikan seluruh operasional dapur mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan pemerintah. Para relawan juga diberikan edukasi mengenai higienitas, keamanan pangan, hingga tata cara pengolahan makanan yang benar. “Kami sangat menekankan standar operasional di dapur. Semua relawan juga harus memahami bagaimana proses menjamah makanan yang higienis dan aman,” jelasnya.

Bahkan setiap makanan yang akan didistribusikan terlebih dahulu melalui proses pengecekan sampel oleh ahli gizi sebelum diberikan kepada para penerima manfaat. Menurut Rizki, semua proses tersebut dilakukan agar program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni menghadirkan makanan bergizi yang aman dan berkualitas bagi anak-anak Indonesia.

Perempuan Harus Berani Mandiri

Di tengah kesibukannya membangun usaha dan organisasi, Rizki tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Sebagai ibu dari tiga orang anak, yakni Muhammad Adli Al Husein, Muhammad Rakha Al Yaqdhan dan Sakira Azalea Junanini, Rizki menyadari tanggung jawab yang dipikulnya tidaklah ringan.

Karena itu, ia percaya perempuan perlu memiliki keberanian untuk mandiri secara finansial. “Kalau menurut saya, perempuan sekarang penting punya penghasilan sendiri. Bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, tapi agar kita juga punya kekuatan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga,” ujarnya.

Meski memiliki jadwal yang padat, Rizki selalu berusaha membagi waktu antara keluarga, bisnis, dan organisasi. “Nomor satu tetap keluarga. Setelah urusan rumah selesai, baru saya menjalankan peran di organisasi maupun bisnis,” katanya.

Pesan untuk Perempuan Indonesia

Belasan tahun menjalani usaha membuat Rizki memahami bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Dibutuhkan keberanian untuk memulai, konsistensi dan mental yang kuat dalam menghadapi kegagalan. Karena itu, ia berpesan agar perempuan Indonesia tidak takut untuk memulai usaha meski dari langkah kecil.

“Percaya pada kemampuan diri sendiri. Jangan menunggu sempurna untuk mulai melangkah. Karena kalau menunggu semuanya sempurna, kita tidak akan pernah benar-benar mulai,” pungkasnya.