MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dunia perhotelan identik dengan kemewahan, pelayanan prima, dan bangunan elegan yang menjadi tempat persinggahan para tamu dari berbagai penjuru dunia. Namun di balik semua itu, terdapat sosok-sosok yang bekerja dengan dedikasi tinggi untuk memastikan setiap pengalaman tamu menjadi kenangan yang menyenangkan. Salah satunya Aris Retnowati, seorang perempuan tangguh yang membangun kariernya dari nol, berangkat dari latar belakang yang sama sekali berbeda dengan dunia hospitality.
Perjalanan profesional perempuan yang akrab disapa Retno ini, dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di jurusan Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada. Ketika itu, sebuah hotel yang merupakan bagian dari grup perhotelan ternama asal Prancis membutuhkan karyawan yang mampu berbahasa Prancis. Kesempatan tersebut menjadi pintu masuk yang mengubah arah hidup Retno.

“Saya sebenarnya tidak memiliki dasar pendidikan pariwisata ataupun perhotelan. Yang saya miliki saat itu hanyalah kemampuan berbahasa Prancis.”
Keahlian tersebut menjadi nilai tambah yang membawa Retno bergabung dengan Novotel Yogyakarta di tahun 1997, yang juga menjadi awal perjalanan kariernya di industri perhotelan. Setelah beberapa tahun menimba pengalaman, ia melanjutkan karier di Grand Candi Semarang pada tahun 2000. Dedikasi dan konsistensinya dalam bekerja membuat kariernya terus berkembang hingga mencapai titik penting saat dipercaya menjabat sebagai Sales Manager di Horison Semarang. Posisi tersebut menjadi salah satu tonggak yang semakin mengukuhkan kiprahnya di dunia perhotelan dan pemasaran, sekaligus membuka jalan bagi pencapaian-pencapaian berikutnya dalam perjalanan profesionalnya.
Delapan tahun di sana, ia mengubah Horison jadi barometer hiburan Semarang. Ballroom hotel rutin jadi panggung Air Supply, FireHouse, hingga Michael Learns to Rock. Di masa itu, konsep “nonton konser internasional di hotel” masih fresh dilakukan, tetapi dari sana ia mulai menemukan pola bahwa hotel harus jadi destinasi, bukan cuma tempat tidur atau bermalam.
Pada 2011–2013 tantangannya bergeser ke Solo. Ia melakukan ekspansi opening dua properti Archipelago sekaligus yaitu Fave Hotel Adi Sucipto dan Fave Hotel Solo Baru dengan strategi aktivasi yang tetap menjadi senjata. Fave Adi Sucipto diisi Fariz RM dan Rieka Roslan untuk pasar bandara dan bisnis. Fave Solo Baru diramaikan Mus Mujiono, pas dengan denyut Solo Baru yang dekat Hartono Mall.

“Skalanya ketika itu turun dari internasional ke nasional, dari megah ke intim, tapi efeknya sama bahwa hotel baru langsung punya nama dan cerita.”
Setelah memegang Ibis Styles Yogyakarta dengan DNA lifestyle yang kental event DJ dan musik, Retno menemukan ruang yang menantang dengan masuk ke GRAMM HOTEL by Ambarrukmo sejak 2019 sampai sekarang.
Di GRAMM, ujian sekaligus lompatan terbesar terjadi saat pandemi. Ketika konser musik mati suri, ia membelokkan haluannya ke seni rupa. Mulai 2022, GRAMM rutin menggelar pameran lukisan dengan kurasi serius. Nama besar seperti Nasirun, Kartika Affandi, Dyan Anggraini Wijaya, Astuti Kusumo, Suhemanto, Erica, Lully Tutus, Giyanto pernah mengisi dinding hotel. Sampai hari ini, setiap 3 bulan sekali GRAMM konsisten menggelar pameran tunggal untuk pelukis-pelukis Jogja, baik senior maupun seniman muda. Ini bukan sekadar pajangan. Ada dua dampak nyata yaitu pertama, ruang-ruang GRAMM menjadi semakin artistik dan punya karakter budaya kuat. Kedua, penjualan lukisan saat pameran berhasil menjadi revenue stream baru bagi hotel di luar room & F&B.
Kini, selain pameran seni GRAMM HOTEL by Ambarrukmo juga kerap menggelar pertunjukan musik penyanyi-penyanyi lokal seperti Fariz RM, Rieka Roslan, Donny Sibarani dan Jikustik, hingga kalangan yang lebih muda seperti Sal Priadi, Lomba Sihir, Bilal Indrajaya, Brian Prasetyoadi dan lain-lain.
Ada juga bedah buku dari berbagai komunitas, seperti buku dari Dr Sri Margana di komunitas sejarah dan kebudayaan. Buku bukunya Dee Lestari, Panji Sakti dan beberapa penulis lainnya.
“Jadi kalau dirunut, ada tiga babak besar di 2002–2010 Horison adalah era hotel sebagai panggung hiburan. 2011–2013 Fave Solo adalah era hotel sebagai brand baru yang butuh aktivasi cepat. 2019–sekarang GRAMM adalah era hotel sebagai galeri hidup dan ekosistem seni.”
Proses Belajar di Pengalaman Pertama
Hari pertama bekerja menjadi awal dari proses belajar yang panjang. Retno memasuki dunia yang benar-benar baru baginya. Tidak ada bekal teori perhotelan yang pernah dipelajari sebelumnya. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya mundur. Dengan semangat belajar yang tinggi, ia mempelajari setiap aspek hospitality secara otodidak.
Baginya, tantangan terbesar pada masa awal karier bukanlah pekerjaan itu sendiri, melainkan bagaimana memahami budaya pelayanan yang menjadi pondasi utama industri perhotelan. Ia harus belajar cepat, beradaptasi dengan lingkungan kerja dinamis, sekaligus memahami standar pelayanan tinggi.Selain itu, tantangan lain yang tidak kalah besar adalah persoalan waktu. Industri hotel tidak pernah tidur. Operasional berjalan selama dua puluh empat jam, tujuh hari dalam seminggu.
“Jam kerja di hotel memang panjang. Meskipun ada sistem shift, seringkali kami memilih memberikan waktu lebih demi memastikan tamu mendapatkan pelayanan terbaik.”
Seiring berjalannya waktu, ia belajar bahwa bekerja di industri hospitality bukan hanya soal melayani tamu, tetapi juga tentang mengelola kehidupan pribadi. Ketika masih sendiri, ia harus pandai membagi waktu dengan keluarga. Setelah menikah dan memiliki anak, tantangan itu menjadi semakin kompleks.Namun justru di situlah ia menemukan makna keseimbangan hidup yang sesungguhnya.
Sebagai seorang ibu dari dua anak, ia memahami bahwa kesuksesan karier tidak boleh mengorbankan momen-momen penting dalam kehidupan keluarga. Di tengah kesibukan mengelola hotel, ia selalu berusaha hadir dalam setiap tahap pertumbuhan anak-anaknya.Ia mengingat bagaimana setiap malam meluangkan waktu untuk membacakan cerita sebelum tidur. Rutinitas sederhana itu dijalani bertahun-tahun, sejak anak-anak masih kecil hingga menjelang masa remaja. Ia juga berusaha hadir dalam berbagai momen penting, mulai dari penerimaan rapor, perlombaan sekolah, hingga pencapaian-pencapaian kecil yang berarti bagi anak-anaknya.
“Sebagai ibu bekerja, saya tidak ingin kehilangan kesempatan menyaksikan tumbuh kembang anak-anak. Keluarga adalah sumber energi yang membuatnya mampu menghadapi berbagai tantangan pekerjaan. Dukungan kepada suami dan anak-anak menjadi bagian penting dari perjalanan hidup yang dijalani.”
Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia hospitality dan bisnis, ia memandang kesuksesan dari sudut yang lebih luas. Menurutnya, sebuah perusahaan tidak bisa hanya diukur dari keuntungan finansial yang diperoleh pemilik atau pemegang saham.Kesuksesan sejati juga tercermin dari bagaimana perusahaan mampu memberdayakan manusia yang ada di dalamnya.
Ia percaya bahwa karyawan adalah aset terbesar sebuah organisasi. Karena itu, membangun lingkungan kerja yang sehat, nyaman, dan memberikan ruang pertumbuhan menjadi salah satu prioritas utama yang selalu dipegang.
“Saya ingin perusahaan menjadi tempat di mana orang-orang bisa berkembang. Mereka datang sebagai staf muda, lalu tumbuh menjadi profesional yang lebih baik setiap tahunnya.”
Pandangan tersebut bukan sekadar konsep yang indah di atas kertas. Selama perjalanan kariernya, ia telah menyaksikan puluhan karyawan yang pernah bekerja bersamanya berkembang menjadi pemimpin di berbagai hotel dan perusahaan. Lebih dari lima belas hingga dua puluh mantan anak buahnya kini menjabat sebagai Hotel Manager maupun General Manager di berbagai daerah. Ada pula yang sukses meniti karier di bidang lain. Tentunya keberhasilan mereka menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
“Melihat mereka bertumbuh jauh lebih membahagiakan daripada sekadar melihat angka keuntungan perusahaan.”

Kerja Sama Tim dan Budaya Kolaborasi
Retno menempatkan kerja sama tim sebagai fondasi utama dalam budaya organisasi yang dibangun. Menurutnya, hotel adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai departemen dengan fungsi yang saling melengkapi. Tidak ada satu bagian pun yang dapat berjalan sendiri.Karena itu, budaya kolaborasi menjadi nilai yang terus ditanamkan dari level manajemen hingga staf paling bawah. Ia mendorong setiap orang untuk saling membantu, saling menghargai, dan mengesampingkan budaya saling menyalahkan.
“Kami ingin semua orang bertumbuh bersama. Ketika ada masalah, fokusnya bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana mencari solusi bersama.”
Retno juga menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Ia membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi seluruh anggota tim. Perbedaan pendapat tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai sumber ide dan inovasi.Tidak jarang ia menerima masukan yang berbeda dengan pandangannya sendiri. Namun baginya, tujuan utama selalu sama, yaitu kemajuan perusahaan dan kesejahteraan seluruh karyawan.Pendekatan tersebut berhasil menciptakan budaya kerja yang sehat dan produktif. Karyawan merasa dihargai, memiliki ruang untuk berkembang, dan turut memiliki perusahaan tempat mereka bekerja.
Di luar operasional hotel, ia juga meyakini bahwa hospitality tidak berhenti pada hubungan antara hotel dan tamu. Bagi dirinya, hospitality adalah cara hidup yang mencakup hubungan dengan lingkungan sekitar. Maka tidaklah heran jika hotel yang dipimpinnya aktif menjalin hubungan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Mulai dari kegiatan olahraga bersama warga, dukungan terhadap posyandu, pembagian takjil selama Ramadan, bantuan untuk masjid sekitar, hingga kontribusi dalam perayaan Idul Adha dan berbagai kegiatan komunitas lainnya.
“Kami tidak bisa hidup terpisah dari masyarakat sekitar. Hotel harus memberikan manfaat bagi lingkungan tempatnya berada.”
Prinsip yang sama juga diterapkan kepada karyawan. Ia ingin tempat kerja menjadi seperti keluarga kedua, tempat di mana setiap orang merasa diterima dan dihargai.Hal ini menjadi sangat penting mengingat panjangnya jam kerja di industri perhotelan. Ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja, maka lingkungan kerja yang positif akan memberikan dampak besar terhadap kualitas hidupnya.
Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, Retno memahami bahwa inovasi adalah kunci bertahan. Selama berkarier di berbagai kota seperti Semarang, Solo, hingga Yogyakarta, ia dikenal sebagai sosok yang gemar menciptakan berbagai kegiatan kreatif untuk meningkatkan daya tarik hotel. Berbagai event yang digagasnya tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga membangun keterikatan dengan komunitas. Dari konser musik, pameran seni lukis, bedah buku, kegiatan olahraga seperti bersepeda dan lari, hingga tren olahraga terbaru seperti padel, semuanya menjadi sarana untuk memperluas jangkauan hotel kepada masyarakat.Baginya, hotel bukan sekadar bangunan yang menyediakan kamar, tetapi juga ruang pertemuan bagi ide, budaya, kreativitas, dan kolaborasi bersama komunitas.
“Kalau ingin dikenal, kita harus hadir di tengah komunitas. Kita tidak bisa hanya menunggu tamu datang.”
Menghadapi kondisi ekonomi yang penuh tantangan, ia tetap optimis terhadap masa depan industri hospitality. Menurutnya, peluang akan selalu ada bagi mereka yang memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar. Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama yang terus diperkuat. Ia meyakini bahwa masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan.
Harapan Masa Depan
Suatu hari nanti, ketika waktunya tiba untuk meninggalkan hiruk-pikuk operasional hotel, Retno ingin berada di balik layar sebagai konsultan. Namun lebih dari itu, ia ingin mengembangkan berbagai passion yang selama ini juga menjadi bagian dari hidupnya.Ia ingin melukis, menulis buku, dan menciptakan lagu-lagu yang dapat menjadi warisan pemikiran dan karya bagi generasi berikutnya. Di balik segala pencapaian profesional, tersimpan keyakinan sederhana bahwa kehidupan bukan hanya tentang kesuksesan pribadi. Kehidupan adalah tentang bagaimana seseorang mampu bertumbuh bersama orang lain, membuka jalan bagi mereka yang ingin berkembang, dan meninggalkan manfaat yang terus hidup bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi berada di garis depan.
“Saya ingin meninggalkan jejak. Bukan hanya sebagai orang hotel, tetapi sebagai seseorang yang pernah berkarya dan memberikan sesuatu yang bisa dikenang anak cucu saya.”





