MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dari salon keluarga sederhana hingga menjadi Wellness Cultural Architect, Susiana Hendro membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Terkadang, kekuatan terbesar justru berasal dari akar budaya yang telah hidup dan diwariskan selama puluhan tahun. Dengan semangat melestarikan sekaligus memodernisasi kekayaan wellness Nusantara, ia terus melangkah membawa kearifan lokal Indonesia agar dikenal dan dihargai dunia.
Tidak banyak orang yang mampu menjembatani warisan tradisi dengan kebutuhan zaman modern secara seimbang. Namun itulah yang selama lebih dari dua dekade dilakukan oleh Susiana Hendro.
Di tengah derasnya arus globalisasi yang menghadirkan beragam konsep kesehatan dan kecantikan dari berbagai belahan dunia, sosok yang karib disapa Suzie ini justru memilih menoleh ke dalam. Ia melihat bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan pengetahuan tentang kesehatan, perawatan tubuh dan keseimbangan hidup yang tidak kalah bernilai dibandingkan berbagai metode wellness yang telah lebih dahulu mendunia.

Panggilan Hidup. Perjalanan yang membawa Suzie hingga menjadi praktisi, pendidik, konsultan, penguji kompetensi, sekaligus Wellness Cultural Architect bukanlah sesuatu yang dibangun dalam waktu singkat. Semua berawal dari kedekatannya dengan dunia kecantikan dan kesehatan tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya selama puluhan tahun.
Baginya, wellness bukan sekadar profesi atau peluang bisnis, tetapi panggilan hidup yang tumbuh bersama dirinya sejak kecil. Bahkan membentuk cara pandangnya terhadap kesehatan, budaya dan makna keseimbangan hidup.
“Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan industri kecantikan. Karena sejak era 1970-an, kedua orangtua telah memiliki salon kecantikan sekaligus lembaga pendidikan kecantikan di Bandung. Bahkan keluarga kami bekerja sama dengan Mustika Ratu dalam pengembangan pendidikan kecantikan di Jawa Barat,” cerita Suzie.
Lingkungan tersebut bahkan membuat Suzie akrab dengan berbagai perawatan tradisional Indonesia jauh sebelum istilah wellness menjadi tren seperti saat ini. “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan luluran, pijat, mandi susu, mandi rempah, sampai minum jamu. Orang tua saya mengenalkan semua itu sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari,” kenangnya.
Ia masih mengingat bagaimana sang ayah secara khusus membuat bed tuve untuk terapi mandi susu dan rempah. Bagi anak kecil sepertinya, tempat itu terasa seperti kolam bermain yang menyenangkan. Namun tanpa disadari, pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang menanamkan kecintaannya terhadap dunia kesehatan dan kecantikan tradisional Indonesia.
Kebiasaan minum jamu pun sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga. Ketika mulai beranjak remaja, sang ibu membiasakan dirinya mengonsumsi kunyit asam dan berbagai racikan herbal yang dipercaya mampu menjaga kesehatan perempuan.
“Semua itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Jadi ketika saya akhirnya terjun ke bidang wellness, sebenarnya saya hanya melanjutkan perjalanan yang sudah dimulai sejak kecil,” imbuhnya.

Pelopor SPA Lokal. Perjalanan bisnis Suzie dimulai pada tahun 2000, saat mengandung anak pertama. Kondisi kehamilan yang cukup lemah, memaksanya menjalani bed rest dalam waktu lama. Di tengah keterbatasan tersebut, sang adik mengajaknya membuka usaha SPA kecil-kecilan di rumah dengan memanfaatkan ruang kosong yang tersedia.
Dijelaskan Suzie, saat itu istilah SPA (Solus Par Aqua) atau Sehat Pakai Air, masih sangat asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena baru mulai berkembang sekitar tahun 1996–1997 dan kebanyakan tersedia di hotel-hotel berbintang dan menggunakan produk premium. Sehingga hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.
Namun, untuk merealisasikan ide, mereka tetap harus memulai segala sesuatunya dari nol. Karena meski tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia kecantikan, bukan berarti Suzie langsung menguasai seluk-beluk bisnis SPA. Keduanya tetap harus mempelajari banyak hal dari awal secara mandiri.
Dijelaskan Suzie, layanan SPA memiliki karakter yang berbeda dengan usaha salon yang selama ini dijalankan orang tuanya. Jika salon lebih berfokus pada perawatan wajah dan penampilan, SPA menitikberatkan pada perawatan tubuh secara menyeluruh yang mencakup relaksasi, kesehatan, dan keseimbangan fisik maupun mental.
“Jadi walaupun kami sudah memiliki dasar pengetahuan tentang kecantikan dari orang tua, tetapi SPA adalah dunia yang berbeda. Kami harus belajar lagi dari awal, memahami teknik-teknik perawatan tubuh, manfaat berbagai bahan alami, hingga filosofi di balik setiap treatment yang diberikan,” ujarnya.
Keterbatasan akses informasi pada masa itu justru menjadi tantangan tersendiri. Di era ketika internet belum menjadi sumber informasi utama seperti sekarang, proses belajar dilakukan dengan cara yang jauh lebih sederhana sekaligus menantang. Suzie dan sang adik aktif mencari referensi dari buku-buku, literatur kecantikan, hingga belajar langsung dari para praktisi yang lebih berpengalaman.
Semangat untuk terus belajar membawanya berkeliling ke berbagai daerah, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang dikenal memiliki tradisi perawatan tubuh dan ramuan herbal yang kaya. Dari para peracik jamu, praktisi kecantikan tradisional, hingga pelaku usaha lokal, ia menyerap berbagai pengetahuan yang kemudian dipadukan dengan pengalaman dan pemahamannya sendiri.
Pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi fondasi lahirnya konsep SPA yang dikembangkan Suzie, yakni menggabungkan kearifan tradisional Indonesia dengan pendekatan profesional yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Jalan Suzie dan sang adik kian terbuka lebar, karena mereka mampu memproduksi produk untuk mendukung berbagai treatment SPA yang akan ditawarkan. Kemampuan tersebut didukung keluarga yang sejak lama telah membuat produk kecantikan secara mandiri. Mulai dari sabun, lulur, masker, hingga perawatan jerawat. Hal ini memungkinkan mereka menghadirkan layanan SPA berkualitas dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Dari situlah lahir Ida SPA, yang diambil dari nama sang ibu. Berlokasi di kawasan Cihampelas, Bandung, Ida SPA menjadi salah satu pelopor SPA yang menghadirkan konsep perawatan berkualitas dengan harga yang ramah bagi masyarakat menengah.
Perjalanan Suzie semakin berkembang ketika pada tahun 2001 ia dipercaya menjadi manajer nasional sebuah merek kosmetik internasional. Posisi tersebut membuatnya banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia.Pengalaman berkeliling Jawa membuka wawasan baru mengenai kekayaan tradisi perawatan Nusantara.Ia belajar banyak hal tentang jamu, rempah, pijat tradisional, hingga berbagai ritual kesehatan yang hidup di masyarakat setempat. Semakin dalam ia belajar, semakin kuat keyakinannya bahwa Indonesia memiliki kekayaan wellness yang luar biasa.
Lahirkan Ribuan Terapis. Momentum penting dalam perjalanan Suzie datang ketika pemerintah mulai mengembangkan sistem sertifikasi kompetensi profesi pada pertengahan tahun 2000-an. Kesempatan tersebut membawanya mengikuti berbagai pelatihan dan program sertifikasi SPA yang diselenggarakan bersama Kemendikbud, BNSP, serta Dinas Tenaga Kerja Jawa Barat. Dari pengalaman itulah ia menyadari bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga SPA yang kompeten, profesional dan memiliki standar yang jelas.
Kesadaran tersebut mendorong Suzie mendirikan lembaga pendidikan SPA. Berbekal pengalaman keluarga di bidang pendidikan kecantikan serta keterlibatannya dalam Asosiasi SPA Indonesia Wellness & SPA, ia tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang pelayanan, etika profesi, kesehatan, dan konsep wellness secara holistik. Sejalan dengan itu, ia juga aktif sebagai penguji kompetensi, asesor, dan terlibat dalam berbagai upaya peningkatan standar kualitas industri SPA nasional
Perjalanan tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Melalui sekolah dan berbagai program pelatihan yang dijalankannya, Suzie telah turut melahirkan ribuan terapis profesional yang kini berkiprah di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sebagian telah berkarier di industri SPA dan wellness internasional. Banyak di antara mereka yang awalnya tidak memiliki keterampilan khusus, namun kemudian mampu membangun karier, membuka usaha sendiri, hingga meningkatkan taraf hidup keluarga.
Bagi Suzie, inilah makna sesungguhnya dari sebuah keberhasilan. “Kalau usaha saya berkembang sendiri, manfaatnya terbatas. Tetapi ketika saya bisa mencetak terapis-terapis yang kompeten, mereka bisa bekerja, membuka usaha, dan menghidupi keluarganya. Dampaknya jadi jauh lebih luas,” ujarnya. Karena itulah, perjalanan yang ia bangun tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada upaya memberdayakan lebih banyak orang agar mampu menemukan potensi terbaik dalam dirinya dan menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Bangun Ekosistem Terintegrasi. Seiring berkembangnya usaha, Suzie tidak lagi melihat SPA hanyasebagai tempat pijat atau perawatan tubuh. Ia mulai memperluas layanan dengan mengintegrasikan berbagai pendekatan wellness modern dan tradisional, mulai dari slimming treatment, teknologi kecantikan, konsultasi bisnis SPA, hingga pelatihan sumber daya manusia.
Melalui Swana Loka Dipa, ia membangun sebuah holding yang menaungi berbagai lini usaha, mulai dari SPA, sekolah, pelatihan kompetensi, hingga jasa konsultasi bagi calon pelaku usaha wellness. “Kami tidak hanya membantu orang membuka SPA. Kami membantu mereka membangun konsep, menyiapkan sistem, melatih terapis, hingga mengembangkan bisnis mereka,” papar Suzie.
Pendekatan inilah yang membuat Swana Loka Dipa berkembang menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan dalam industri wellness Indonesia.

Gebrakan Saat Pandemi. Tantangan terbesar datang ketika pandemi Covid-19 melanda dunia pada tahun 2020. Industri SPA menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena harus menghentikan operasional dalamwaktu yang sangat lama. Namun di tengah situasi tersebut, Suzie kembali melihat peluang. Ia mengubah konsep bisnis dari layanan SPA konvensional menjadi home service SPA.
Keputusan tersebut terbukti tepat, karena saat itu masyarakat harus lebih banyak beraktivitas di rumah, sehingga kebutuhan akan relaksasi dan perawatan kesehatan justru meningkat. Dengan standart kebersihan yang ketat serta dukungan asosiasi profesi dan pemerintah dalam penyusunan protokol kesehatan, layanan home SPA miliknya mampu berkembang pesat dan bertahan hingga saat ini.
“Kami sangat menjaga kualitas produk dan higienitas layanan. Semua dibuat seaman mungkin untuk pelanggan, ” tegasnya.
Saat ini, layanan home SPA yang berada di bawah naungan Swana Loka Dipa telah hadir di berbagai kota besar. Wilayah Jabodetabek menjadi salah satu area layanan utama yang melayani pelanggan secara luas. Selain itu, jaringan layanan juga telah berkembang ke Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, hingga Bali.
Perluasan jaringan ini menjadi bukti bahwa konsep wellness yang diusung Suzie mampu diterima oleh masyarakat di berbagai daerah. Tidak hanya menghadirkan layanan perawatan tubuh, kehadiran jaringan tersebut juga membuka peluang kerja bagi para terapis profesional yang menjadi bagian dari ekosistem wellness yang dibangunnya. Melalui pengembangan layanan yang berkelanjutan, Suzie terus berupaya menghadirkan pengalaman wellness yang berkualitas, aman dan mudah diakses oleh masyarakat Indonesia.
Angkat Wellness Indonesia. Di balik seluruh aktivitas bisnis, Suzie memiliki satu mimpi besar yang terus ia perjuangkan. Ia ingin dunia mengenal wellness Indonesia sebagai mana dunia mengenal Ayurveda dari India, Sauna khas Finlandia atau berbagai terapi kesehatan dari negara lain.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan tradisi kesehatan yang sangat luar biasa, namun belum mendapatkan perhatian yang sepadan. Mulai dari pijat Jawa, Boreh Bali, Batimung di Kalimantan, Batangeh di Sumatra, ramuan jamu, hingga berbagai ritual kesehatan tradisional yang hidup di berbagai daerah Nusantara.
“Setiap daerah di Indonesia memiliki wisdom yang luar biasa. Sayangnya belum banyak yang terdokumentasi dan diangkat secara serius. Bahkan kebanyakan masyarakat kita hanya mengenal Ratus untuk treatment organ kewanitaan, padahal di Jawa Ratus juga digunakan untuk dry clean batik para sultan keraton,” ungkapnya.
Keinginan itu pula yang mendorong Suzie melanjutkan studi doktoral di Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Sejarah. Dan saat ia tengah menjalani riset tentang Sejarah SPA Indonesia di Jawa, untuk memperkuat cultural wellness Indonesia.
Bagi Suzie, penelitian tersebut bukan sekadar kebutuhan akademis, melainkan bagian dari misinya untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan warisan wellness Nusantara kepada dunia.
Padukan Kearifan Lokal dengan Standar Global
Misi Suzie, mengangkat wellness Indonesia ke panggung dunia bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan ilmu dan standar internasional. Sebaliknya, ia meyakini bahwa kearifan lokal akan memiliki daya saing yang lebih kuat apabila didukung oleh kualitas dan standar profesional yang diakui secara global.
Pemikiran inilah yang mendorongnya untuk terus belajar, termasuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan yang mengacu pada standar internasional di bidang SPA dan wellness. Menurutnya, kekayaan tradisi Indonesia memang menjadi kekuatan utama, tetapi aspek-aspek seperti higienitas, sanitasi, keselamatan kerja, anatomi, fisiologi, hingga standar pelayanan tetap harus mengacu pada praktik terbaik yang berlaku secara global.
“Walaupun saya ingin mengangkat wellness tradisional Indonesia, kita tetap harus memiliki standar internasional. Karena SPA bukan hanya soal tradisi, tetapi juga menyangkut kualitas layanan, keamanan, higienitas, dan kompetensi profesional. Semua itu harus berjalan beriringan,” ungkapnya.
Karena itu, ia memandang pengetahuan modern dan kearifan lokal bukan sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Melalui perpaduan keduanya, Suzie berharap warisan wellness Nusantara dapat tampil lebih relevan, dipercaya dan mampu bersaing di tingkat internasional tanpa kehilangan identitas budayanya.
“Yang ingin saya bangun adalah wellness Indonesia yang tetap otentik, tetapi memiliki kualitas dan standar yang bisa diterima dunia,” pungkasnya.
Menjadi Wellness Cultural Architect
Perjalanan panjang yang ditempuh, menjadikan Suzie kini dikenal sebagai seorang Wellness Cultural Architect. Ia membantu individu maupun pelaku usaha mengembangkan konsep wellness dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal Indonesia.
Menurutnya, wellness sejati tidak hanya berbicara tentang kesehatan fisik, tetapi juga mencakup keseimbangan pikiran, emosi, spiritualitas, sosial budaya, lingkungan, pekerjaan, hingga kondisi finansial.“Wellness bukan sekadar pijat atau relaksasi, tapi bagaimana manusia menemukan keseimbangan dalam hidupnya,” kata Suzie.
Karena itulah setiap konsep yang ia bangun selalu berupaya menggabungkan unsur kesehatan modern dengan kekayaan budaya Indonesia yang sarat makna dan nilai kehidupan. Ke depan, Suzie tengah mempersiapkan langkah besar berikutnya. Ia ingin membangun sebuah wellness center yang benar-benar merepresentasikan identitas Indonesia. Sebuah tempat yang tidak hanya menawarkan layanan kesehatan dan relaksasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat dunia.
Baginya, Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi pusat wellness Dunia. Mulai dari kekayaan rempah, tradisi pengobatan, filosofi hidup, hingga keberagaman budaya yang tak ternilai. Harapan saya sederhana. Dunia tidak hanya mengenal Ayurveda dari India atau SPA dari Eropa. Dunia juga harus mengenal wellness Indonesia, karena kita memiliki warisan yang luar biasa,” ucapnya.
Dukungan Keluarga, Fondasi di Balik Setiap Langkah
Di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis, menjalankan berbagai peran profesional, serta aktif dalam organisasi dan forum wellness nasional maupun internasional, Suzie tetap berupaya menjaga keseimbangan antara karier, keluarga dan kehidupan sosial. Menurutnya, kunci untuk menjalani berbagai peran tersebut adalah perencanaan yang baik serta kemampuan menentukan prioritas. Meski pekerjaan menuntut banyak waktu dan perhatian, keluarga tetap menjadi hal utama yang selalu ditempatkannya di urutan pertama.
Beruntung, perjalanan panjang yang ditempuhnya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sang suami dan buah hati selalu memberikan semangat terhadap berbagai pencapaian yang ia raih. Nilai-nilai tersebut tidak terlepas dari budaya keluarga yang sejak lama menjunjung tinggi pendidikan, kerja keras dan semangat belajar sepanjang hayat. Bahkan, sang ibu baru saja menyelesaikan Program Studi D4 Pengobatan Tradisional Tiongkok di IIK Bhakti Wiyata.
Lingkungan yang suportif inilah yang membuatnya dapat terus berkembang, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai sosok yang aktif memperjuangkan kemajuan industri wellness Indonesia.
Suzie juga menyadari bahwa keberhasilannya hari ini tidak lepas dari fondasi yang telah dibangun oleh orang tuanya. Meski bisnis SPA dan wellness yang dijalankannya dirintis dari nol dan berkembang dengan jalannya sendiri, pengalaman keluarga di dunia kecantikan serta keterlibatan sang ayah dalam berbagai organisasi profesi telah membuka banyak wawasan dan kesempatan yang turut membentuk perjalanan kariernya. Dari sanalah ia kemudian tumbuh menjadi salah satu figur yang dipercaya mewakili Indonesia dalam berbagai forum wellness internasional, sekaligus aktif berkontribusi dalam pengembangan standar dan regulasi industri SPA nasional.
“Baru-baru ini saya berkesempatan mempresentasikan tentang Wellness Indonesia di seminar Songkhla Medical and Wellness Tourism di Thailand, sekaligus menandatangani kerjasama IMT- GT antara Indonesia, Malaysia dan Thailand,” cerita pecinta hewan sugar glider ini.





