CEO Juma Berlian Group

Susi Susanty Ginting, S.E., M.M, Sukses Kembangkan Usaha Memberi Kehidupan Banyak Orang

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah dinamika dunia usaha yang terus berubah, Susi Susanty Ginting membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya omzet atau luasnya jaringan bisnis. Perempuan yang kini memimpin Juma Berlian Group ini juga menyakini bahwasanya kesuksesan sejati adalah ketika pertumbuhan usaha mampu menghadirkan manfaat nyata bagi banyak orang. Seluruh perjalanan bisnisnya pun dibangun di atas fondasi integritas, ketekunan dan keyakinan bahwa manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

Jauh sebelum dikenal sebagai Entrepreneur yang sukses mengelola berbagai bidang usaha, Susi Susanty Ginting telah mengenal dunia bisnis sejak masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, ia mulai membangun bisnis kecil-kecilan. Bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter, daya juang, serta keberanian mengambil keputusan.

Selepas menyelesaikan pendidikan, perempuan berwajah oriental yang karib disapa Susi ini, sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta selama kurang lebih satu tahun. Pengalaman tersebut dimanfaatkannya untuk mengumpulkan modal dan memperluas wawasan sebelum benar-benar terjun ke dunia usaha.

Berani Mengambil Risiko. Pada tahun 2009, perempuan kelahiran Rantau Prapat-Sumatera Utara, 27 Agustus ini, membuka sebuah kafe di Manado. Namun setelah menikah dan memasuki fase baru sebagai seorang ibu, Susi dan suaminya menyadari bahwa usaha tersebut belum mampu memberikan ruang pertumbuhan yang lebih besar. Penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan pertimbangan matang, mereka pun memutuskan menjual kafe tersebut.

Keputusan itu tentu tidak mudah. Bahkan untuk beberapa waktu, mereka berada dalam kondisi tanpa pekerjaan tetap. Namun di tengah ketidakpastian tersebut, Susi dan suami justru melihat peluang baru, keduanya melirik bisnis import bawang putih. Mereka pun  menawarkan kerja sama kepada salah satu kenalan yang juga pebisnis bawang putih lokal untuk bisa menjadi Investor.

Gayung bersambut, calon investor tersebut menerima tawaran Susi. Bersama suami, ia mulai mempelajari seluk-beluk bisnis di bidang hortikultura ini. Berbagai proses perizinan yang saat itu masih tergolong rumit juga berhasil mereka selesaikan. Sayangnya, setelah seluruh proses perizinan selesai dan perusahaan siap beroperasi, calon mitra yang semula berkomitmen untuk bekerja sama justru mengurungkan diri.

Kondisi tersebut menjadi ujian besar bagi Susi dan suami. Karena meski telah memiliki izin usaha yang lengkap, namun keduanya belum memiliki modal yang cukup untuk menjalankan bisnis secara mandiri. Dari pengalaman itulah Susi menyadari bahwa legalitas dan kesiapan administrasi saja tidak cukup.

“Saat itu saya belajar bahwa lisensi tanpa modal hanya menjadi selembar kertas. Karena itu, kami harus terus mencari peluang baru agar usaha yang sudah dipersiapkan tidak berhenti di tengah jalan,” kenangnya.

Susi pun memberanikan diri mengambil peluang yang saat itu belum banyak dilirik orang. Pada akhir tahun 2010, ketika harga cabai merah melonjak tajam hampir di seluruh Indonesia, sebuah kesempatan datang dari kerabatnya di Medan, yang biasa membeli pasokan cabai dari Manado. Kerabat tersebut menghubunginya untuk membantu mencarikan pasokan. Namun karena harga cabai sedang tinggi di hampir semua daerah, pengiriman antarwilayah tidak lagi memberikan keuntungan yang menjanjikan.

Di tengah kondisi tersebut, Susi mencermati berbagai pemberitaan mengenai tingginya impor cabai dari Vietnam untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Informasi itu memantik keberaniannya untuk melihat peluang dari sudut yang berbeda. Ia pun mengajukan ide kepada kerabatnya untuk mengimpor cabai langsung dari Vietnam.

Tentu saja langkah tersebut bukan tanpa tantangan. Jenis cabai yang tersedia saat itu tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar Medan. Namun Susi yakin produk tersebut masih memiliki potensi besar jika dipasarkan ke wilayah lain, khususnya Jakarta. Dengan penuh keyakinan, ia memaparkan peluang usaha tersebut hingga akhirnya berhasil memperoleh kepercayaan dan dukungan modal sebesar Rp 90 juta untuk mendatangkan satu kontainer cabai segar dari Vietnam.

Keputusan yang berawal dari keberanian mengambil risiko itulah yang kemudian menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnis Susi dan suami Dari satu kontainer cabai, mereka mulai menapaki jalan panjang di dunia ekspor-impor hortikultura yang kelak berkembang menjadi salah satu pilar utama usaha keduanya.

Seiring waktu, usaha tersebut berkembang pesat. Tidak hanya melakukan impor berbagai komoditas hortikultura, Susi dan tim juga berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, hingga Korea Selatan.

Memanusiakan Manusia. Keberhasilan menurut Susi tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Usaha yang dibangun harus mampu menciptakan manfaat bagi orang lain. Filosofi hidup yang paling melekat dalam dirinya adalah ungkapan Minahasa yang dipopulerkan oleh Dr. Sam Ratulangi, yakni Sitou Timou Tumou Tou yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Filosofi tersebut menjadi kompas yang membimbing setiap langkah bisnis yang dijalankan Susi. “Bagi saya, hidup harus menjadi berkat bagi orang lain,” ujarnya.

Sebuah prinsip yang membuat berbagai usaha yang dibangunnya selalu memiliki dimensi sosial yang kuat. Salah satu wujud nyata komitmen tersebut terlihat melalui PT Juma Berlian Exim, yang sejak 2015 membangun fasilitas cold storage, dengan tujuan membantu menjaga kualitas produk hortikultura agar lebih tahan lama, terutama saat musim panen raya.

Fasilitas tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan perusahaan sendiri. Para petani dan pelaku usaha lokal juga diberikan kesempatan menyimpan produk mereka dengan biaya sewa yang terjangkau.

Cold storage tersebut bahkan menjadi fasilitas pertama yang menampung hasil panen wortel dari Kabupaten Karo sehingga kualitas produk tetap terjaga hingga dapat dikirim ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan timur.

Tidak berhenti sampai di situ, perusahaan juga menyediakan armada truk berpendingin yang dapat disewa oleh pelaku usaha kecil agar mereka mampu memasarkan produk secara mandiri.

Susi juga aktif memberikan dukungan pendanaan kepada petani yang ingin menanam komoditas tertentu melalui sistem guarantee buying, di mana hasil panen mereka akan dibeli dan dipasarkan oleh perusahaan.

Untuk memperkuat pemberdayaan petani, ia kemudian membentuk Koperasi Lumbung Pangan Sejahtera. Melalui koperasi tersebut, para petani memperoleh akses pendanaan, kepastian pasar, serta harga jual yang lebih stabil.

Bagi Susi, petani tidak boleh terus berada dalam posisi lemah di rantai distribusi. Mereka harus memiliki akses yang lebih besar terhadap pasar dan memperoleh manfaat yang adil dari hasil kerja keras mereka.

Ekspansi Lewat Kolaborasi. Ketika bisnis hortikultura berkembang, Susi mulai melihat peluang investasi di sektor properti. Awalnya ia membeli properti pada tahap awal pembangunan lalu menjualnya kembali setelah proyek selesai. Aktivitas ini kemudian membawanya bertemu dengan seorang Marketing properti yang memiliki semangat juang tinggi.

Melihat potensi besar yang dimiliki individu tersebut, Susi memilih membantu dan memberdayakannya. Dari hubungan yang awalnya sebatas profesional, lahirlah kolaborasi bisnis yang berkembang menjadi lini usaha properti, di bawah bendera SUCILAND PROPERTY.

Menurut pandangan Susi, sektor properti bukan sekadar membangun bangunan fisik. Tapi juga sarana menciptakan pusat aktivitas ekonomi baru, menyerap tenaga kerja, menggerakkan industri pendukung, serta meningkatkan nilai suatu kawasan.

Prinsip memberdayakan yang sama juga diterapkan ketika ia memasuki dunia fashion.

Berangkat dari keinginan menghadirkan busana rumahan yang nyaman namun tetap modis bagi para ibu rumah tangga, Susi kembali membangun kolaborasi dengan orang yang tepat. Ia menggandeng mantan dosennya yang telah lama berkecimpung di industri fashion di Jakarta. Kolaborasi tersebut menghasilkan brand fashion yang kini telah hadir di berbagai departmentstore di Jakarta, Sumatera, dan Sulawesi.

Bagi Susi, ekspansi usaha bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan. Ia teringat pada nasihat yang selalu dipegang, yakni don’t put all your eggs in one basket. Karena sejatinya diversifikasi usaha bukan hanya memperluas sumber pendapatan, tetapi juga memperluas jaringan, membuka peluang baru, serta memperbesar dampak yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Menciptakan Pemimpin. Di balik pertumbuhan berbagai lini usaha yang dikelola, Susi menyadari bahwa kekuatan terbesar sebuah bisnis terletak pada manusia. Karena itu, ia selalu berupaya membangun sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Ia percaya bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Tapi juga harus mampu menjadi teladan, pendengar yang baik, sekaligus pendamping bagi timnya. Untuk itu, dalam keseharian Susi menempatkan diri sebagai sosok yang mengayomi karyawan layaknya keluarga. Ia terbuka terhadap masukan dan percaya bahwa keberhasilan perusahaan merupakan hasil kerja bersama.

A leader creates more leaders, dan saya ingin setiap orang yang bekerja bersama saya memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tekannya.

Tantangan adalah Peluang. Belasan tahun mengarungi dunia bisnis, Susi tentu menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya perubahan regulasi pemerintah yang kerap terjadi secara tiba-tiba. Begitu pula karakteristik produk hortikultura yang sangat rentan mengalami kerusakan. Namun setiap tantangan selalu dipandangnya sebagai peluang untuk berinovasi dan mencari solusi baru.

Sikap inilah yang membuat berbagai lini usahanya mampu bertahan bahkan di masa-masa sulit, termasuk ketika pandemi melanda. Di saat banyak perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja, perusahaan yang dipimpinnya justru mampu mempertahankan seluruh karyawan tanpa melakukan satu pun pemutusan hubungan kerja. Bahkan di tengah situasi tersebut, mereka masih membuka peluang kerja baru melalui pengembangan sektor usaha lain.

Warisan yang Berdampak. Banyak momen yang begitu membekas bagi Susi dalam perjalanannya melahirkan dampak postif dari bisnis-bisnis yang dijalani. Diantaranya ketika melihat para pelaku usaha yang dahulu menyewa ruang di colds torage miliknya kini mampu membangun fasilitas mereka sendiri.

Baginya, hal tersebut merupakan definisi keberhasilan yang sesungguhnya. Keberhasilan yang bukan hanya Membuat perusahaan bertumbuh, tetapi ketika pertumbuhan tersebut mampu mengangkat kehidupan orang lain.

Ke depan, Susi memiliki visi besar untuk terus membangun usaha yang kuat, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. Ia ingin setiap lini usaha yang dijalankannya mampu mengangkat potensi daerah, membuka lapangan kerja, serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar dan bertumbuh sebagai entrepreneur.

Lebih dari itu, ia juga ingin menjadi bukti bahwa perempuan mampu memimpin, berkarya, dan berkontribusi di berbagai sektor ekonomi. Karena pada akhirnya, ketika seseorang mampu berdaya, maka ia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memberdayakan sesama.

“Saya percaya keberhasilan tidak berhenti pada diri sendiri. Ketika usaha bertumbuh, maka orang-orang di sekitar kita juga harus ikut merasakan manfaatnya. Karena manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain,” pungkas Susi.