MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah derasnya industri fashion yang terus bergerak mengikuti tren, membangun brand dengan identitas kuat tentu bukan perkara mudah. Namun bagi Faustina Soegihono atau yang akrab disapa Nana, fashion bukan hanya tentang menciptakan produk yang indah dipandang mata. Lebih dari itu, fashion adalah media untuk menyampaikan karakter, keberanian, sekaligus semangat perempuan Indonesia yang kuat dan berdaya.
Berangkat dari kepeduliannya terhadap para pengrajin lokal yang terdampak pandemi Covid-19, Nana kemudian melahirkan DREE, sebuah brand fashion lokal yang kini berkembang menjadi simbol kekuatan, ketangguhan, dan keanggunan perempuan modern Indonesia.

“Semuanya berawal dari hati untuk berbagi. Saat pandemi, saya melihat langsung bagaimana banyak pengrajin lokal kehilangan harapan dan kesulitan untuk bangkit. Dari situlah saya merasa harus melakukan sesuatu,” kenang Nana.
Kecintaannya terhadap dunia travelling mempertemukannya dengan banyak pengrajin di berbagai daerah. Ia melihat bagaimana pandemi membuat banyak pelaku industri kreatif kehilangan penghasilan dan semangat untuk bertahan. Kondisi tersebut perlahan memantik tekad Nana untuk menghadirkan sesuatu yang bukan hanya memiliki nilai bisnis, tetapi juga membawa dampak bagi banyak orang.
Filosofi Perempuan Kuat. Dijelaskan Nana, nama DREE sendiri berasal dari bahasa Yunani yang menggambarkan sosok perempuan kuat, mandiri, cerdas, penuh tekad, dan memiliki jiwa kepemimpinan alami. Filosofi tersebut kemudian menjadi ruh dalam setiap karya yang dihadirkan. “DREE bukan hanya soal fashion. Kami ingin menghadirkan produk yang memiliki karakter dan bisa merepresentasikan perempuan Indonesia,” katanya.
Mengusung warna-warni earth tone dan desain asimetris sebagai ciri khas, DREE hadir dengan konsep modern yang tetap membawa sentuhan budaya lokal. Perjalanan DREE dimulai dari apparel berbahan 100 persen linen, material yang menurut Nana memiliki filosofi mendalam.
“Linen itu unik. Mungkin kusut, tapi tetap nyaman dan kuat. Sama seperti perempuan, yang tetap bisa tangguh dan percaya diri menjadi dirinya sendiri,” tuturnya.
Seiring perkembangan bisnis, DREE kemudian merambah lini footwear dengan desain yang kokoh, nyaman, anti-slip, namun tetap membawa detail wastra khas Indonesia. Bagi Nana, sentuhan budaya dalam setiap produk menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun langkah perempuan Indonesia melangkah, mereka tidak boleh melupakan akar budayanya sendiri.

Bangun Identitas Kuat. Dalam pergulatan Nana membesarkan DREE, diakuinya tidak selalu berjalan mulus. Nana menemukan beragam tantangan, salah satunya menjaga konsistensi di tengah perubahan pasar yang begitu cepat.
Membangun desain idealis dengan potongan asimetris, menurutnya, membutuhkan proses edukasi pasar yang tidak instan. “Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertahankan identitas brand di tengah tren yang terus berubah. Tapi saya percaya, tren bisa berganti kapan saja, sedangkan identitas adalah alasan pelanggan kembali kepada kita,” jelas Nana.
Prinsip tersebut membuat DREE tetap mempertahankan DNA desainnya meskipun mengikuti perkembangan tren warna maupun material. Dan saat ini, DREE telah memiliki offline store di beberapa pusat perbelanjaan ternama seperti PIM 2, Grand Indonesia dan Lakon Mall Kelapa Gading. DREE bahkan dipercaya membuat seragam berbagai institusi, serta aktif berpartisipasi dalam ajang fashion bergengsi seperti JF3 dan Jakarta Muslim Fashion Week.
Tak hanya itu, DREE juga menjalin kolaborasi dengan Lakon Store, Vespa, JFH dan beberapa designer, hingga mengembangkan kerja sama bisnis dengan brand di Singapura dan Australia.
Berdaya dan Memberdayakan. Bagi Nana, kesuksesan sebuah bisnis tidak hanya diukur dari pertumbuhan profit semata. Ada nilai yang jauh lebih penting, yakni bagaimana bisnis tersebut mampu membawa dampak bagi orang-orang yang tumbuh bersama di dalamnya.
“Berdaya itu ketika kita mampu mewujudkan visi sendiri. Tapi memberdayakan berarti memastikan semua orang yang terlibat ikut merasakan dampak positifnya,” ungkapnya.
Karena itu, DREE aktif melibatkan pengrajin sepatu lokal, penjahit rumahan, hingga berbagai UMKM sebagai bagian dari perjalanan brand. Nana tidak memandang mereka sekadar vendor, tetapi partner yang bertumbuh bersama. Bahkan melalui standar kualitas yang diterapkan, ia berharap para mitra UMKM tersebut juga ikut berkembang secara profesional.
“Ketika DREE bisa terus bertumbuh, maka kami ingin kehidupan orang-orang di dalamnya juga ikut meningkat,” katanya.
Tak hanya membangun ekosistem bisnis yang sehat, Nana juga rutin mengadakan sesi berbagi kreatif dan pelatihan teknis bagi timnya guna meningkatkan kualitas produksi maupun kreativitas. Menurutnya, lingkungan kerja yang sehat, transparan, dan apresiatif menjadi salah satu kunci utama membangun tim yang loyal dan kreatif.

Kesuksesan yang Sesungguhnya. Di balik seluruh pencapaian yang diraih DREE hingga saat ini, ada satu momen sederhana yang justru paling membekas bagi Nana. Yakni ketika melihat para pengrajin maupun karyawan yang sebelumnya memiliki keterbatasan kemampuan, kini mampu berkembang, memiliki stabilitas ekonomi lebih baik, bahkan dipercaya memimpin proses produksi. “Melihat mereka bangga terhadap karya yang mereka hasilkan, itu adalah kesuksesan yang sebenarnya,” ucap Nana.
Ke depan, Nana memiliki visi besar menjadikan DREE bukan hanya sebagai brand fashion lokal, tetapi juga sebagai ekosistem yang mampu membawa perempuan Indonesia melangkah lebih percaya diri, kuat dan berani mendobrak batasan. Ia ingin DREE menjadi representasi bahwa fashion lokal Indonesia mampu bersaing dengan standar global tanpa kehilangan identitas budaya yang dimiliki.
Jangan Takut Memulai. Sebagai seorang entrepreneur, Nana melihat peluang industri fashion lokal saat ini masih sangat besar. Menurutnya, masyarakat kini semakin menghargai produk lokal yang memiliki cerita dan karakter kuat. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak takut memulai dan berani menjadi berbeda.
“Jangan takut memulai. Takut itu wajar, tapi jadikan rasa takut sebagai alasan untuk belajar lebih banyak. Dunia tidak membutuhkan satu lagi brand yang biasa saja. Dunia membutuhkan keberanian kita untuk menjadi berbeda,” pungkasnya.





